Oleh Siham Afatta*
Kata ‘primata’ mungkin jarang terucap di keseharian kita. Tidak banyak dari kita yang berurusan langsung dengan primata.
Saat di sekolah dasar, primata dijelaskan sebagai salah satu dari kelompok hewan yang menyusui namun dengan kelebihan khusus. Di antaranya adalah kelebihan dalam kecerdasan, ikatan sosial, dan kemampuan untuk belajar serta beradaptasi. Mereka juga memiliki emosi yang kompleks, sehingga mampu berkomunikasi, saling merawat, bahkan menggunakan alat.
Siapa saja primata? Monyet, orangutan, lutung, bekantan, tarsius, owa, kukang, dan surili – adalah di antara jenis primata Indonesia yang pernah kita jumpai atau ketahui. Dalam sains biologi hewan, atau zoologi, kita sebagai manusia bisa dikategorikan primata.
Indonesia – bersama dengan Brazil, Madagaskar, dan Republik Demokratik Kongo – merupakan tempat bernaungnya lebih dari separuh (~65%) spesies primata di dunia. Negara tersebut juga memiliki luasan besar hutan tropis yang menjadi tempat tinggal alami primata.
Menurut Mammal Diversity Database (Basis data keanekaragaman mamalia), ada 66 spesies primata dari Indonesia. Namun, Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) laporkan 12 jenis primata dinilai Critically Endangered (Kritis), 25 jenis dinilai Endangered (Genting), 26 jenis dinilai Vulnerable (Rentan), 1 jenis Near Threatened (Hampir Terancam), dan 2 jenis masih Data Deficient (Informasi Kurang).
Sayangnya, untuk Indonesia dan Brazil, setidaknya seperlima (~20%) luasan hutannya telah hilang – untuk diambil kayunya, beralih menjadi bangunan dan hunian, pertanian dan perkebunan. Primata yang kehilangan tempat tinggal dan sumber pangan, sering kali terdesak hingga menetap dekat kawasan pemukiman, pertanian atau perkebunan. Tidak sedikit mereka yang dilukai atau dibunuh oleh masyarakat sebab resah atau berkurang hasil cocok tanamnya akibat ulah primata.
Selain habitat hutan yang berkurang dan menyempit, primata yang dianggap eksotis seperti owa, surili, kukang, dan monyet yang diburu untuk diperdagangkan secara ilegal – baik dalam keadaan hidup sebagai peliharaan atau kondisi mati untuk digunakan bagian tubuhnya.
Banyak primata Indonesia—seperti orangutan, owa, dan lutung—berperan sebagai penyebar biji alami. Ketika populasi mereka menurun, semakin sedikit biji yang tersebar, sehingga pertumbuhan pohon baru melambat dan keanekaragaman tumbuhan berkurang. Penelitian menunjukkan bahwa hutan tanpa primata besar menjadi lebih sulit pulih dan kurang tangguh dalam jangka panjang.
Selain itu, primata memengaruhi komposisi tumbuhan dan rantai makanan di hutan. Tanpa mereka, beberapa jenis tanaman dapat menurun sementara jenis lain menjadi dominan, sehingga keseimbangan ekosistem terganggu dan berdampak pada satwa liar lain yang sumber tanaman pakannya terganggu.
Secara tidak langsung, hutan yang sehat mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar. Dengan membantu menjaga keragaman dan pertumbuhan pohon, keberadaan primata dan satwa lainnya secara tidak langsung mendukung penyerapan karbon dioksida. Hilangnya primata dapat melemahkan struktur hutan dan meningkatkan kerentanannya terhadap perubahan iklim.
Indonesia juga memiliki primata endemik. Endemik adalah istilah yang digunakan untuk menyebut makhluk hidup—baik hewan maupun tumbuhan—yang hanya dapat ditemukan secara alami di satu wilayah tertentu dan tidak hidup di tempat lain di dunia. Kepunahan primata juga berarti hilangnya garis evolusi unik yang diduga ilmuwan terbentuk selama jutaan tahun di nusantara Indonesia.
Primata seperti orangutan dan tarsius merupakan simbol alam Indonesia dan daya tarik utama ekowisata. Hilangnya primata dapat mengurangi pendapatan masyarakat lokal dari pariwisata serta melemahkan hubungan budaya antara manusia dan alam. Kajian dari Kerstin Zander dan tim pada 2014, menemukan konservasi orangutan di Semanggoh (Sarawak, Malaysia) yang terkelola baik dan dikunjungi sekitar 70.000 orang tiap tahunnya berkontribusi hingga US$23 juta (Rp387 miliar) terhadap ekonomi lokal.
Juga bagi pendidikan, tingginya keanekaragaman primata Indonesia mendukung penelitian jangka panjang di bidang primatologi, antropologi, psikologi, dan ilmu lingkungan. Hasil riset primata Indonesia telah memperkaya pemahaman dunia tentang kecerdasan, perilaku sosial, penggunaan alat, dan evolusi manusia, serta memperkuat materi pendidikan di perguruan tinggi. Kepunahan mereka akan membatasi peluang riset dan pendidikan lingkungan, baik di tingkat nasional maupun global.
Berbagai studi konservasi menunjukkan bahwa tindakan individu, jika dilakukan secara kolektif, dapat memberikan dampak nyata bagi perlindungan primata dan habitatnya. Dalam mendukung Hari Primata Indonesia 30 Januari ini, kita sebagai masyarakat dapat berkontribusi dengan:
- Menjaga hutan, rumah bagi primata, dengan melindungi hutan dari penebangan liar, menanam kembali pohon di hutan yang rusak, enjaga kawasan hijau agar tidak dialihfungsikan – baik yang dihuni atau tidak dihuni primata.
- Menghentikan perburuan dan perdagangan primata, contohnya dengan tidak membeli atau memelihara primata dan hewan lainnya yang ilegal diperdagangkan, melaporkan perdagangan satwa liar ke pihak berwenang, mendukung kampanye penyelamatan satwa.
- Menolong dan mengembalikan primata ke alam, contohnya melalui bekerjasama dengan lembaga konservasi untuk menyelamatkan primata dari kondisi buruk, merawat dan melatih mereka agar bisa hidup mandiri, melepas mereka kembali ke alam liar.
- Mengajak masyarakat ikut menjaga alam, semisal melalui edukasi di sekolah tentang pentingnya primata, membantu warga mendapatkan penghasilan tanpa merusak hutan, mengembangkan wisata alam yang ramah lingkungan dan ramah sosial budaya.
- Mengenal dan memantau primata, dengan didampingi peneliti atau menjadi peneliti untuk mengamati primata di alam, mencatat jumlah dan wilayah tempat tinggal mereka, menggunakan kamera di hutan untuk memantau satwa – kesemuanya untuk membantu menentukan langkah perlindungan yang tepat.
- Mengubah kebiasaan sehari-hari, semisal dengan mengurangi penggunaan produk yang merusak hutan (kertas, tissue), memilih produk yang lebih ramah lingkungan, tidak mendukung perusahaan yang merusak alam. Sebab kebiasaan kecil, secara kolektif, bisa memberi dampak besar.

Andil kita dalam pelestarian primata dan menghentikan laju perdagangan satwa liar dan ilegal berarti andil mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) 15 terkait Ekosistem Daratan, yaitu melindungi, merestorasi dan meningkatkan pemanfaatan berkelanjutan eksosistem daratan, mengelola hutan secara lestari, menghentikan penggurunan, memulihkan degradasi lahan, serta menghentikan kehilangan keanekargaman hayati.
Karena masa depan primata Indonesia sangat bergantung pada kesadaran dan pilihan kita hari ini. Semoga karunia dan hikmah hewan primata dari Allah SWT masih bisa dijumpai para Generasi Penerus kita di masa depan.
*) Siham Afatta, Ph.D, adalah Anggota Departemen Litbang, IPTEK, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup (LISDAL) DPP LDII.














