Gunungkidul (24/7). Dalam upaya memperkuat kerukunan antarumat beragama, LDII Gunungkidul menghadiri dialog lintas agama yang digelar Paroki Santo Yusuf Bandung Playen di Balai Desa Girisekar, Kapanewon Panggang, Sabtu (23/5/2026). Dialog mengusung tema “Hidup Berdampingan Saling Menghormati untuk Mewujudkan Masyarakat yang Bahagia, Menginspirasi dan Mensejahterakan” dan diikuti unsur Katolik, Kristen, serta organisasi kemasyarakatan Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, LDII, dan Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Lurah Girisekar Sutarpan, Forkompimkap Panggang, Panewu Panggang, Kapolsek, dan Danramil. Pada kesempatan itu Panewu Panggang Sustiwiningsih mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga harmonisasi kehidupan beragama. Menurutnya, kerukunan menjadi pondasi penting dalam menciptakan suasana aman, damai, dan sejahtera.
“Perbedaan jangan menjadi penghalang untuk hidup rukun. Justru keberagaman harus menjadi kekuatan dalam membangun kebersamaan,” ujarnya.
Hal itu juga ditegaskan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Gunungkidul Untung Santoso bahwa perbedaan merupakan rahmat yang harus dikelola menjadi persatuan dengan tetap menghormati ibadah masing-masing agama. Mengutip QS Al-Hujurat ayat 13, ia menyampaikan bahwa manusia diciptakan berbeda untuk saling mengenal dan menghargai.
“Dengan hidup rukun, masyarakat akan lebih luwes dalam bergaul dan bekerja sama untuk kebaikan bersama,” katanya.
Sementara itu, Romo Laurentius Suhar Dwi Budi Prasetyo menekankan pentingnya sikap inklusif dan keterbukaan dalam membangun kerja sama lintas agama. Ia menyebut kolaborasi menjadi bagian penting dalam menciptakan kehidupan sosial yang harmonis dan sejahtera.
Selama kegiatan berlangsung peserta aktif berdiskusi dan bertukar pandangan mengenai pentingnya menjaga toleransi guna memperkuat persaudaraan, dan membangun masyarakat yang damai di Gunungkidul.














