Kediri (22/9). Ketua Pemuda LDII Kota Kediri, Yuda Langgeng Asadullah, bersama Sekretaris DPD LDII Kota Kediri, Asyhari Eko Prayitno, menghadiri undangan Podcast dari KPU Kota Kediri, yang berlangsung di Kantor KPU Kota Kediri, pada Kamis (10/9/2026).
Kegiatan ini rutin digelar setiap minggunya, yang membahas sejumlah isu seputar demokrasi, kepemimpinan muda, dan peran pemuda dalam pendidikan politik. Yuda membuka sesinya dengan menegaskan bahwa organisasi kepemudaan adalah miniatur demokrasi yang paling membumi.
“Di organisasi kepemudaan, kita belajar demokrasi yang paling sederhana, yaitu menyampaikan pendapat, mendengarkan yang lain, dan menerima keputusan bersama meski pendapat kita tidak selalu yang dipakai. Itu justru inti dari demokrasi,” ujar Yuda.
Yuda juga menyinggung soal kesiapan generasi muda dalam memimpin. Menurutnya, potensi kepemimpinan itu sudah ada pada banyak anak muda, tinggal bagaimana potensi tersebut terus diasah sejak dini, tanpa harus menunggu usia atau jabatan tertentu.
Ia mengutip hadist Nabi Muhammad. “Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatih, setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Menjadi pemimpin tidak harus menunggu punya posisi. Karakter pemimpin ideal ya karakter Rasulullah ﷺ yaitu adil, jujur, amanah, konsisten menyampaikan kebenaran, dan mampu mendengarkan,” tegasnya.
Sementara itu, Asyhari ditanya soal kondisi demokrasi di Kota Kediri. Ia menilai iklim yang ada cukup dinamis dan kondusif. Namun ia mengingatkan bahwa antusiasme pemuda terhadap isu publik perlu diarahkan lebih jauh, tidak berhenti hanya di kolom komentar media sosial.
“Tantangannya adalah bagaimana menjaga agar ketertarikan anak muda tidak hanya berhenti pada ‘meramaikan di media sosial’, melainkan berlanjut menjadi dialog yang sehat dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan pilihan politik,” ujar Asyhari.
Menutup sesinya, Asyhari menegaskan posisi strategis pemuda dalam setiap pemilu. Dengan jumlah pemilih muda dari kalangan milenial dan Gen Z yang mendominasi daftar pemilih, suara pemuda kini bukan lagi pelengkap, melainkan penentu arah kebijakan publik.
“Pemilu bagi generasi muda adalah pintu penentu masa depan. Pemilu adalah momen pemuda menentukan kebijakan publik lima tahun ke depan, mulai dari lapangan kerja, pendidikan, digitalisasi, hingga fasilitas publik. Suara pemuda menentukan siapa pemimpin yang akan mengawal aspirasi mereka,” pungkas Asyhari.














