Padang (29/10). Wakil Ketua DPD LDII Kota Padang Yulianto Nugroho, mendorong santri menguasai kecerdasan buatan (AI) dengan tetap menjaga menjunjung karakter mulia. Penguasaan teknologi dapat menjadi alat dakwah dan meningkatkan kontribusi santri untuk Indoensia Emas 2045.
Hal itu disampaikan Yulianto dalam dialog “Padang Menyapa” di RRI Pro 1 Padang, Rabu (21/10/2026). Dialog yang bertema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” itu dipandu pembawa acara Tito Oktri.
Yulianto yang juga merupakan Wakil Ketua DPD LDII Kota Padang menekankan agar penguasaan teknologi disertai tanggung jawab dalam penggunaannya. “Santri masa depan bukan sekadar santri yang pandai menggunakan teknologi, melainkan santri yang mampu memanfaatkan teknologi untuk kebaikan dan dakwah” ujarnya.
Menurutnya, AI dapat membantu pembelajaran bahasa Arab, penyusunan bahan ajar, pembuatan media dakwah, hingga administrasi pesantren. Namun, hasilnya perlu diperiksa, terutama yang berkaitan dengan pemahaman agama. “Kebenaran dalil agama dan penjelasan keilmuan tetap harus diperiksa melalui sumber yang terpercaya dan guru yang kompeten,” tegas Yulianto yang juga pengurus Ponpes Miftahul Huda itu.
Santri juga perlu berpikir kritis, membedakan fakta dengan hoaks, serta menjaga etika digital. Penggunaan AI harus memperhatikan privasi, hak cipta, dan kejujuran dalam menghasilkan karya.
Dalam pendidikan pesantren, Yulianto menilai kemampuan menerapkan ilmu perlu menjadi ukuran keberhasilan. Penilaian tidak cukup hanya berdasarkan nilai ujian, hafalan, atau ijazah. “Keberhasilan pendidikan pesantren bukan hanya dari apa yang diketahui santri, tapi juga dari apa yang mampu mereka lakukan dan manfaat yang mereka berikan,” katanya.
Ia menambahkan, pembinaan agama dan akhlak perlu diperkuat dengan keterampilan hidup, wawasan kebangsaan, serta kepedulian sosial. “Santri harus dipersiapkan bukan hanya menjadi generasi yang saleh secara pribadi, tetapi juga menjadi generasi yang mampu memberikan manfaat nyata bagi agama, bangsa, dan negara,” tuturnya.
Selain Yulianto, narasumber lainnya adalah Wakil Ketua Umum PBNU Ganefri dan Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) Buya Duski Samad.
Ganefri menilai pendidikan pesantren menjadi fondasi dalam membangun sumber daya manusia berkualitas. “Di era ini, penguasaan literasi digital dan AI akan membuat santri mampu meningkatkan produktivitas serta menghasilkan karya,” katanya
Ia juga menekankan perlunya menyiapkan santri untuk berperan sebagai pemimpin, inovator, pengusaha, ilmuwan, dan penggerak ditengah masyarakat.
Sementara itu Duski Samad menekankan empat aspek kesiapan santri, yakni keunggulan ilmu, ketahanan karakter, kecerdasan sosial, dan kemampuan beradaptasi. “Sudah waktunya kita semua mendorong pesantren mengembangkan pendidikan sesuai potensi lingkungan dengan tetap mempertahankan nilai kesantrian,” kata dia.
Duski turut mengajak para alumni turut berkontribusi kepada pesantren. Ia juga berharap pemerintah memberikan perhatian berkelanjutan terhadap pendidikan pesantren. (Nisa Ulkhairiyah)














