PALING UPDATE
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Home Opini

Guru Hebat Lahir dari Kebiasaan Kecil yang Konsisten

in Opini
399
0
Guru Hebat Lahir dari Kebiasaan Kecil yang Konsisten

Ilustrasi guru yang sedang merapihkan kelas.

554
SHARES
2.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Thonang Effendi*

Guru bukan hanya penyampai ilmu, tetapi cermin hidup yang diam-diam diamati murid setiap hari. Mereka mungkin tidak selalu mengingat rumus, definisi, atau halaman buku yang diajarkan, tetapi mereka merekam dengan sangat jelas bagaimana guru bersikap, berbicara, bekerja, dan menghargai waktu.

Membayangkan sosok guru hebat, terbayang sosok sederhana seorang guru yang bisa menjadi panutan dan teladan. Guru sejatinya adalah titik awal dari semua keteladanan. Sebelum ia mengajarkan disiplin, ia harus lebih dulu disiplin. Sebelum ia mengajarkan kesopanan, ia harus lebih dulu sopan. Sebelum ia menuntut murid berperilaku baik, ia harus lebih dulu menghayati kebaikan itu dalam langkahnya sendiri.

Murid-murid belajar bukan dari kata-kata, melainkan dari kehadiran guru yang berkarakter. Sebagian besar pendidikan sesungguhnya terjadi dalam diam—dari perilaku kecil guru yang terlihat sederhana, namun justru membentuk fondasi moral generasi bangsa.

Saya teringat seorang kawan seperjuangan saat kuliah yang kini mengabdikan diri menjadi seorang guru di sebuah sekolah di kota santri Jawa Timur. Sosok sederhana yang dihormati oleh sesama guru dan murid-muridnya, Pak Duduh biasa murid-muridnya memanggil.

Setiap pagi, saat mengajar jam pertama, setelah apel guru, Pak Duduh sudah berdiri di depan kelasnya. Jam dinding di ruang guru belum menunjukkan pukul tujuh, tetapi ia telah merapikan ruang belajar, membuka jendela, dan menata napasnya sebelum anak-anak datang. Ketika langkah-langkah kecil mulai terdengar di lorong sekolah, Pak Duduh tersenyum menyambut murid pertama yang tiba. Satu per satu, mereka menyalami tangan gurunya dengan sopan, lalu mempersilakan diri masuk kelas. Kebiasaan sederhana itu membuat pagi di sekolah terasa lebih teduh, rapi, dan penuh makna.

Kebiasaan itu lahir dari keyakinan: keteladanan dimulai dari diri sendiri, dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan konsistensi. Dalam keseharian seperti inilah karakter murid perlahan dibentuk—bukan melalui ceramah panjang, tetapi melalui contoh nyata yang mereka saksikan setiap hari.

Pada Hari Guru Nasional 2025 ini, tema yang diangkat adalah “Guru Hebat, Indonesia Kuat.” Tema tersebut mengingatkan kita bahwa kekuatan bangsa tidak hanya dibangun oleh strategi besar dan kebijakan pendidikan, tetapi juga oleh keteguhan pribadi para guru menjalani kebiasaan kecil yang konsisten bagi murid-muridnya. Guru hebat bukan selalu mereka yang paling cerdas, paling fasih berbicara, atau paling banyak meraih penghargaan; melainkan mereka yang kehadirannya menjadi sumber disiplin, ketenangan, dan arah bagi murid-muridnya.

Hal itu pernah menjadi gagasan besar H.O.S. Tjokroaminoto, salah satu pemikir bangsa. Ia berkata, “Barang siapa ingin menjadi pemimpin besar, jadilah guru.” Di dalam pandangannya, seorang guru adalah pemimpin moral. Ia bukan hanya mengajar, tetapi menuntun; bukan hanya menerangkan, tetapi menerangi jalan. Tjokroaminoto meyakini bahwa keteladanan guru adalah fondasi kepemimpinan yang sejati—pemimpin yang mendahulukan laku sebelum kata-kata.

Sejalan dengan itu, Ki Hadjar Dewantara memberikan kerangka yang lebih filosofis dan mendalam. Ing ngarso sung tulodho. Di depan memberi teladan—seperti Pak Duduh yang menanti murid-muridnya di pagi hari. Ing madya mangun karso. Di tengah membangun semangat—seperti cara guru membimbing kelas dengan kolektif hormat dan kekompakan.Tut wuri handayani. Di belakang memberikan dorongan—seperti guru yang tetap menjadi penopang semangat murid setelah jam sekolah berakhir.

Tiga prinsip itu menggambarkan siklus pembentukan karakter: sebelum, selama, dan setelah proses belajar mengajar. Karakter tidak dibatasi oleh jam pelajaran; ia melekat sepanjang hari, dan guru adalah pusat gravitasi dari semua proses itu.

Dalam konteks pembentukan karakter murid, konsep “guru digugu dan ditiru” menjadi semakin relevan. Guru dipercaya bukan karena jabatannya, melainkan karena integritas hidupnya. Guru ditiru bukan karena perintahnya, tetapi karena perilakunya mencerminkan nilai-nilai yang ia ajarkan. Dalam masyarakat yang terus berubah, keteladanan semacam ini menjadi pegangan yang semakin langka, tetapi justru semakin dibutuhkan.

Di lingkungan pendidikan karakter yang dikembangkan oleh LDII, dikenal gagasan tentang 29 karakter luhur, yang mencakup enam thobiat luhur: jujur, amanah, mujhid-muzhid, rukun, kompak, dan kerja sama yang baik. Guru yang konsisten mempraktikkan karakter-karakter ini dalam keseharian sebenarnya sedang mengajarkan murid tanpa kata-kata. Ia sedang menumbuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga matang secara moral.

Sederhana saja: ketika guru datang tepat waktu, murid belajar menghargai waktu. Ketika guru menyapa ramah, murid belajar menghargai sesama. Ketika guru tenang menghadapi masalah, murid belajar cara mengelola emosi. Ketika guru adil, murid belajar menghormati perbedaan. Keteladanan adalah kurikulum yang tak tertulis, tetapi paling membekas.

Di tengah perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, dan kemajuan sumber belajar digital, kehadiran guru tetap tidak tergantikan. AI bisa menjawab soal, namun tidak dapat memeluk kegelisahan murid. Platform digital bisa menjelaskan konsep, tetapi tidak dapat mengajarkan keteguhan hati. Hanya manusia yang bisa menularkan karakter kepada manusia lain. Itulah mengapa pendidikan karakter tidak pernah bisa digantikan teknologi.

Maka, guru dituntut bukan hanya menguasai materi ajar, tetapi juga menguasai diri. Gurulah yang memberi contoh bagaimana disiplin di rumah sebelum berangkat sekolah, bagaimana menjaga etika sepanjang proses belajar, dan bagaimana memelihara tanggung jawab setelah pulang. Ketika guru konsisten menjalani kebiasaan kecil yang baik, karakter murid tumbuh secara alami.

Pada akhirnya, Indonesia yang kuat berawal dari ruang-ruang kelas yang tenang, dari pintu sekolah yang dibuka pagi-pagi oleh guru yang penuh kesadaran, dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang diulang hingga menjadi budaya. Guru hebat lahir bukan dari panggung besar, tetapi dari kesunyian tindakan kecil yang dilakukan setiap hari.

Selamat Hari Guru, 25 November 2025.

Guru Hebat Lahir dari Kebiasaan Kecil yang Konsisten.

Guru Hebat, Indonesia Kuat.

*) Thonang Effendi adalah Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII

Tags: Guru HebatKebiasaan Kecil KonsistenThonang effendi

Related Posts

Ilustrasi Keluarga.
Opini

Baik Buruknya Keluarga

by admin
February 26, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah * Dalam timbangan Ilahi, suka dan duka, baik dan buruk, tak terelakkan lagi. Ia perputaran sunnatullah yang lama tertulis....

Read more
DPP LDII
Opini

Not In My Back Yard – Mengakhiri Bau Busuk Sampah dengan Solusi Membumi

by admin
February 20, 2026
0

Sudarsono* Di beberapa kota besar Indonesia, bau busuk sampah menjadi bagian dari keseharian yang mengganggu kualitas hidup jutaan orang. Dari Bantargebang hingga...

Read more
Penentuan Awal Bulan Hijriyah
Opini

Penentuan Awal Bulan Hijriyah

by admin
February 16, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah Bulan Hijriyah berpatokan pada Bulan (Lunar), berbeda dengan Masehi yang berpatokan pada matahari. Bulan Hijriyah dihitung berdasarkan satu kali...

Read more
LDII ramadan
Opini

Tiga Cara Sambut Ramadan

by admin
February 15, 2026
0

Oleh Dewan Penasehat DPP LDII KH Edy Suparto Umat Islam sedang bersuka cita, karena Ramadan kembali menyapa مَرْحَبًا يَا رَمَضَان. Secara filosofis,...

Read more
Pembiasaan dalam Keseharian yang Membentuk Identitas Diri
Opini

Pembiasaan dalam Keseharian yang Membentuk Identitas Diri

by admin
January 19, 2026
0

Oleh Siti Nurannisaa Tantangan mendidik anak tidak lagi semata-mata berkaitan dengan fasilitas, akses pendidikan, atau kecanggihan teknologi, tapi bagaimana menanamkan nilai. Di...

Read more
Taswadi Mengubah Lahan Gambut Melawi Jadi Lumbung Pangan
Opini

Taswadi Mengubah Lahan Gambut Melawi Jadi Lumbung Pangan

by admin
January 12, 2026
0

Oleh Sudarsono* “Ketahanan pangan dapat dimulai dari desa, bahkan dari lahan yang selama ini dianggap kurang produktif – lahan gambut. Dari bawang...

Read more

Trending

Dirbinmas Polda Metro Jaya Apresiasi LDII Dukung Kamtibmas Saat Ramadan
Lintas Daerah

Dirbinmas Polda Metro Jaya Apresiasi LDII Dukung Kamtibmas Saat Ramadan

1 day ago
Muscab LDII Senen, Targetkan Akselerasi Program Hingga Tingkat Anak Cabang
Lintas Daerah

Muscab LDII Senen, Targetkan Akselerasi Program Hingga Tingkat Anak Cabang

1 day ago
Ketua PWNU Sampaikan Islam Ajarkan Jalan Tengah Saat Safari Ramadan di LDII Jakut
Lintas Daerah

Ketua PWNU Sampaikan Islam Ajarkan Jalan Tengah Saat Safari Ramadan di LDII Jakut

1 day ago
PCNU Jakarta Tausiah di LDII Jakarta Utara, Perkuat Silaturahmi dan Sinergi Kebangsaan
Lintas Daerah

PCNU Jakarta Tausiah di LDII Jakarta Utara, Perkuat Silaturahmi dan Sinergi Kebangsaan

1 day ago
DMI Jakarta: Pemuda Jangan Malu Memakmurkan Masjid
Lintas Daerah

DMI Jakarta: Pemuda Jangan Malu Memakmurkan Masjid

1 day ago
Nuansa Persada

Majalah Resmi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Hubungi kami untuk layanan iklan online: marketing@nuansaonline.com

Follow Us

Recent News

Dirbinmas Polda Metro Jaya Apresiasi LDII Dukung Kamtibmas Saat Ramadan

Dirbinmas Polda Metro Jaya Apresiasi LDII Dukung Kamtibmas Saat Ramadan

March 2, 2026
Muscab LDII Senen, Targetkan Akselerasi Program Hingga Tingkat Anak Cabang

Muscab LDII Senen, Targetkan Akselerasi Program Hingga Tingkat Anak Cabang

March 2, 2026

ARSIP

  • Iklan
  • Privacy & Policy

© 2021 - Designed by GenerusMedia

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Energi
  • Fa Aina Tadzhabun
  • Iptek
  • Apa Siapa
  • Digital
  • Hukum
  • Jejak Islam
  • Kesehatan
  • Kisah Teladan
  • Laporan
  • Lentera Hati
  • Liputan Khusus
  • Lintas Daerah
  • Resonansi
  • Olah Raga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Remaja
  • Siraman Rohani
  • Khutbah (PDF)
    • Khutbah Jumat Bahasa Arab
    • Idul Fitri Bahasa Arab
    • Idul Fitri (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (ust. Imam Rusdi)
    • Idul Adha (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (Kediri 2017)

© 2021 - Designed by GenerusMedia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In