PALING UPDATE
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Home Nasehat

Kita dan Remote Control

in Nasehat
385
0
Kita dan Remote Control

Ilustrasi: LINES.

551
SHARES
2.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan

Di zaman serba praktis ini, hampir semua peralatan rumah tangga hadir dengan remote control—alat kecil yang punya kuasa besar. Tak heran jika sering kita saksikan, bahkan anak-anak pun bisa bertengkar hebat hanya karena berebut benda mungil itu. Remote control seolah jadi lambang kekuasaan: siapa yang memegangnya, dialah raja, sang penguasa ruang keluarga.

Sebuah survei dari Institut Televisi Amerika menunjukkan betapa dalamnya remote control ini memengaruhi kehidupan. Sebanyak 34% responden mengaku pernah jatuh dari sofa saat mencoba meraih remote yang tergelincir, 25% mengandalkan jari kaki untuk mengambilnya, dan lebih dari separuh—yakni 53%—lebih memilih melempar atau dilemparkan remote oleh anggota keluarga lain daripada harus berdiri sendiri. Tak tanggung-tanggung, 60% rela mencopot baterai dari alat lain demi menyalakan kembali si kecil berkuasa itu.

Remote control telah membentuk gaya hidup baru. Istilah “couch potato” lahir di Amerika untuk menyebut gaya hidup bermalas-malasan di sofa, menatap layar TV berjam-jam, berpindah saluran tanpa berpindah tempat. Dan semua ini bermula dari ide seorang pria bernama Eugene McDonald di era 1950-an. Ia muak dengan tayangan iklan yang mendominasi televisi. Gagasan revolusionernya bukan mematikan TV, tapi menciptakan alat agar penonton bisa menghindari iklan: remote control.

Versi pertama ciptaannya, Lazy Bones, masih menggunakan kabel dan menyulitkan pengguna. Lalu datanglah Eugene Polley, insinyur yang menciptakan Flashmatic, remote nirkabel pertama—meski masih sederhana, hanya mengandalkan cahaya senter. Kemajuan terus berlanjut. Pada 1956, perusahaan Zenith memperkenalkan Space Command, pengendali berbasis gelombang ultrasonik yang bertahan selama 25 tahun, sebelum akhirnya inframerah menggantikannya dan menjadi standar hingga kini.

Namun yang menarik, remote control ternyata tak hanya mengendalikan perangkat elektronik—ia mencerminkan cara hidup manusia. Remote control telah merevolusi cara kita mengendalikan dunia… namun yang mengkhawatirkan, banyak dari kita kini justru dikendalikan oleh dunia. Banyak dari kita, tanpa sadar, telah menyerahkan “remote control” kehidupan kita kepada orang lain: orang tua, pasangan, bos, opini publik, atau tren media sosial. Kita berpindah arah, mengganti saluran hidup, hanya karena komentar atau tekanan dari luar. Takut dianggap aneh, takut tidak diterima, atau takut dikecam. Al-Qur’an telah mengingatkan:

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِى الْبِلَادِۗ

“Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh tingkah-polah orang-orang kafir yang bebas bersenang-senang di negeri ini.” (QS Ali Imran: 196)

فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

“Maka, tetaplah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) telah diperintahkan. Begitu pula orang yang bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Hud: 112)

Berabad-abad lalu, Nasruddin Hoja—sang filsuf jenaka dari Timur Tengah—telah menyindir gaya hidup seperti ini lewat kisah yang menggelitik. Suatu hari, ia dan putranya pergi ke pasar dengan seekor keledai. Mula-mula Nasruddin menunggang keledai dan anaknya berjalan. Orang-orang mencibir, “Kejam benar, anaknya dibiarkan jalan kaki.” Maka ia turun dan menyuruh anaknya naik. Di tempat lain, terdengar lagi celaan, “Anak durhaka, membiarkan ayahnya berjalan.”

Tak ingin dicela, mereka pun sama-sama berjalan kaki sambil menuntun keledai. Tapi rupanya, tetap saja ada suara sinis: “Orang bodoh, kenapa tidak ditunggangi saja keledainya?” Akhirnya mereka naik berdua. Namun, lagi-lagi ada cemoohan, “Kasihan keledainya, ditunggangi dua orang.” Bingung, mereka memutuskan memanggul keledai bersama—hingga disoraki anak-anak kecil dan jadi bahan tertawaan. Di jembatan kecil, karena frustasi, keledai itu pun dilempar ke sungai.

Lucu. Menohok. Pengin tertawa, namun tertahan. Ada perasaan malu menggema. Yang jelas anekdot ini mengandung pelajaran mendalam. Betapa berbahayanya hidup jika kita terlalu mendengar apa kata orang, tanpa mempertimbangkan prinsip dan akal sehat sendiri. Nasruddin mengajarkan: jika hidupmu selalu dikendalikan oleh komentar dan ekspektasi orang lain, cepat atau lambat kamu akan kehilangan arah—bahkan bisa kehilangan “keledaimu” sendiri, simbol dari apa yang mestinya kamu manfaatkan dan arahkan.

Dalam psikologi, kepribadian seperti ini disebut conformist personality—mereka yang terlalu mudah terpengaruh, terlalu ingin diterima, hingga kehilangan jati diri. Padahal hidup bukan soal menyenangkan semua orang, melainkan soal menjadi pribadi yang utuh, tahu ke mana harus melangkah, dan tahu mengapa harus melangkah ke sana. Imam Syafi’i berpesan;
“Ridha semua manusia adalah cita-cita yang tak akan pernah tercapai. Maka cukupkan dirimu dengan mencari ridha Allah.” Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menambahkan lewat pesan indah kepada muridnya; “Jadilah seperti akar pohon yang kokoh. Walau hujan kritik turun, angin celaan bertiup, ia tetap berdiri, mengalirkan kebaikan dari dalam, bukan dari luar.”

Maka, sebelum kita menyerahkan “remote control” kehidupan kepada orang lain, pikirkan baik-baik: apakah mereka benar-benar tahu saluran mana yang paling sesuai untuk hidupmu? Padahal, hidup adalah tentang berani berjalan di jalur yang diyakini benar, meski tak semua akan menyukainya. Sebab bukan dunia yang akan mempertanggungjawabkan hidup kita, melainkan diri kita sendiri di hadapan Tuhan. Jika peralatan elektronik di rumah kita memang butuh remote untuk dikendalikan, maka hidup kita tidak boleh dikendalikan sembarang tangan. Simak pesan Rumi; “Mengapa engkau terus hidup dari pendapat orang lain? Bukankah engkau tahu, mereka pun sedang tersesat mencari jalannya?” Perkataan indah ini membenarkan titah tua di Kitab Suci;

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguh-nya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra:36)

Selanjutnya warisan indah yang diriwayatkan dari Ummul Mukminīn ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā, pun sama. Rasūlullāh ﷺ bersabda:

«مَنْ اِلتَمَسَ رِضَا اللهِ بِسَخَطِ النَّاسِ، فَرَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ، وَمَنْ اِلتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللهِ، فَسَخِطَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسُ.»

“Barangsiapa mencari ridha Allah walaupun membuat manusia murka, maka Allah meridhainya dan menjadikan manusia juga ridha padanya. Dan barangsiapa mencari ridha manusia dengan membuat Allah murka, maka Allah murka kepadanya dan menjadikan manusia juga murka.” (HR at‑Tirmidhi no. 2414)

Biarlah kini kita hidup di zaman seribu remote control—untuk AC, TV, kipas, dan lampu, tapi jangan sampai kendali atas hidup dan pilihan kita justru kita serahkan kepada siapa pun selain Allah dan prinsip kebenaran. Sebab hanya mereka yang menggenggam “remote” hidupnya sendiri, yang akan sampai ke tujuan dengan teguh dan tenang. Dan dalil indah ini, rasanya cocok sebagai menu penutup.

فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS Ali Imran: 159)

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدً

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam ibadah kepada Tuhannya.” (QS Al-Kahfi: 110)

Tags: remote control

Related Posts

Nasehat Seorang Ayah Kepada Anaknya
Headline

Nasehat Seorang Ayah Kepada Anaknya

by admin
March 17, 2026
0

Oleh Ust. Tommy Sutomo Di dalam Islam, ada sosok Ayah yang menjadi panutan bagi umat muslim dalam menasehati anaknya. Sosok Ayah tersebut...

Read more
Nasehat untuk Anak
Nasehat

Nasehat untuk Anak

by admin
March 14, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah* Nak, orang tuamu adalah akar yang tersembunyi di dalam tanah yang gelap dan sunyi, agar engkau menjadi dahan yang...

Read more
Nasehat untuk Orang Tua
Nasehat

Nasehat untuk Orang Tua

by admin
March 14, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah* Wahai para orang tua, anak-anakmu bukanlah milikmu. Mereka datang melaluimu, tetapi bukan darimu. Dan meskipun mereka bersamamu, mereka bukan...

Read more
Walimah Pernikahan dalam Islam: Sederhana, Sesuai Kemampuan, dan Penuh Keberkahan
Headline

Walimah Pernikahan dalam Islam: Sederhana, Sesuai Kemampuan, dan Penuh Keberkahan

by admin
March 10, 2026
0

Oleh Aceng Karimullah Salah satu pertimbangan yang sering muncul bagi para pemuda dan pemudi yang belum menikah adalah persoalan biaya resepsi pernikahan....

Read more
Nasehat untuk Para Suami
Nasehat

Nasehat untuk Para Suami

by admin
March 10, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah Menjadi suami bukanlah tentang menjadi tuan di atas singgasana. Terlena tanpa beban. Ingat, setelah menikah status baru menantimu. Allah...

Read more
Nasehat untuk Para Istri
Nasehat

Nasehat untuk Para Istri

by admin
March 10, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah* Dalam rumah tangga, istri bukan sekadar penghuni dinding batu, melainkan roh yang menghidupkan setiap sudutnya. Ketaatan kepada suami bukanlah bentuk...

Read more

Trending

Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas Ramadan, LDII Kabupaten Bandung Hadiri Bukber Polresta
Lintas Daerah

Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas Ramadan, LDII Kabupaten Bandung Hadiri Bukber Polresta

11 hours ago
Tiga Ormas Islam di Jombang Jalin Ukhuwah Islamiyah dengan Safari Ramadan
Lintas Daerah

Tiga Ormas Islam di Jombang Jalin Ukhuwah Islamiyah dengan Safari Ramadan

11 hours ago
Bawa Hidangan dalam Rantang, Wali Kota Mojokerto Buka Puasa Bersama Warga LDII
Lintas Daerah

Bawa Hidangan dalam Rantang, Wali Kota Mojokerto Buka Puasa Bersama Warga LDII

11 hours ago
Ratusan Warga LDII Semarang Meriahkan Tarawih Keliling di Rumah Dinas Wali Kota
Lintas Daerah

Ratusan Warga LDII Semarang Meriahkan Tarawih Keliling di Rumah Dinas Wali Kota

11 hours ago
LDII Lampung Helat Itikaf Bersama di 603 Masjid dan 21 Pesantren se-Lampung
Lintas Daerah

LDII Lampung Helat Itikaf Bersama di 603 Masjid dan 21 Pesantren se-Lampung

11 hours ago
Nuansa Persada

Majalah Resmi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Hubungi kami untuk layanan iklan online: marketing@nuansaonline.com

Follow Us

Recent News

Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas Ramadan, LDII Kabupaten Bandung Hadiri Bukber Polresta

Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas Ramadan, LDII Kabupaten Bandung Hadiri Bukber Polresta

March 17, 2026
Tiga Ormas Islam di Jombang Jalin Ukhuwah Islamiyah dengan Safari Ramadan

Tiga Ormas Islam di Jombang Jalin Ukhuwah Islamiyah dengan Safari Ramadan

March 17, 2026

ARSIP

  • Iklan
  • Privacy & Policy

© 2021 - Designed by GenerusMedia

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Energi
  • Fa Aina Tadzhabun
  • Iptek
  • Apa Siapa
  • Digital
  • Hukum
  • Jejak Islam
  • Kesehatan
  • Kisah Teladan
  • Laporan
  • Lentera Hati
  • Liputan Khusus
  • Lintas Daerah
  • Resonansi
  • Olah Raga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Remaja
  • Siraman Rohani
  • Khutbah (PDF)
    • Khutbah Jumat Bahasa Arab
    • Idul Fitri Bahasa Arab
    • Idul Fitri (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (ust. Imam Rusdi)
    • Idul Adha (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (Kediri 2017)

© 2021 - Designed by GenerusMedia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In