PALING UPDATE
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Home Nasehat

Lelah – Jadi Penerima Pesan

in Nasehat
386
0
Lelah – Jadi Penerima Pesan

Ilustrasi: LINES.

552
SHARES
2.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan

(Belajar Diam yang Cerdas)

Ada sebentuk kelelahan baru yang menghinggapi banyak jasmani orang. Belum banyak dibicarakan, tetapi sudah banyak terlihat gejalanya: lelah menjadi penerima pesan. Setiap hari kita dijejali kabar, tagar, kutipan, opini, ceramah pendek, kisah inspiratif, debat ideologis, sampai teori konspirasi. Layar demi layar, lembar demi lembar, lewat jempol demi jempol, tanpa jeda. Dari matahari terbit, sampai bola mata “terpaksa” terpejam. Apa yang dulu disebut “menyimak” kini berubah menjadi “terseret”. Sudah terseret, terpengaruh. Sudah terpengaruh, masih terpancing lagi. Bahkan seterusnya dibumbui rasa candu: ketagihan. Lengkap sudah.

Sayangnya, kadang kita masa bodoh. Tidak sayang pada diri sendiri. Aneh, merasa tak punya cukup waktu instrospeksi, misal dengan bertanya: Apakah semua yang kuterima ini penting? Apakah semua yang kubaca ini menambah hikmah atau justru membuatku resah? Yang lebih menakutkan, kadang bukan pesan yang kita terima, tapi energi gelap di baliknya: rasa takut, amarah, dengki, curiga, atau bahkan semacam euforia palsu yang membuat kita kehilangan akal sehat. Kejadian di mana, kita jadi kenapa. Orang berkomentar apa, kita merasa ada yang berbeda. Padalah tak ada hubungannya. Itulah kenyataan. Harus ada tindakan, respon, untuk melawannya. Sebelum terlambat dan menyesal kemudian.

Dalam kondisi ini, jurus jitu melawannya adalah dengan diam. Diam bukan tanda pasif. Diam adalah bentuk seleksi. Diam adalah hening yang sadar, bukan kosong. Diam adalah keputusan, bukan kelambanan. Kalau kita perhatikan, para nabi dan orang-orang bijak dalam sejarah, justru dikenal karena kemampuannya menyerap secara jernih dan berbicara secara terbatas. Lihat bagaimana Nabi Muhammad ﷺ menerima wahyu: tidak semua langsung dituturkan. Bahkan dalam banyak riwayat, beliau diam lama sebelum menjawab pertanyaan. Diam, karena menimbang. Diam, karena menghormati kebenaran.

Diamnya Nabi ﷺ bukan tanda ketidaktahuan, tetapi ekspresi kehati-hatian, ketundukan, dan kejernihan jiwa dalam menakar kebenaran. Nabi ﷺ sempat tidak langsung menjawab pertanyaan orang-orang Quraisy tentang ruh, karena menunggu wahyu. Ayat ini turun sebagai jawaban. Ini menunjukkan adab kenabian, bahwa beliau tidak berbicara dari dirinya sendiri.

وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” ( QS. Al-Isra’: 85)

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, banyak riwayat menunjukkan Nabi ﷺ berdiam lama sebelum menjawab pertanyaan. Seperti dalam kisah lelaki yang bertanya tentang ibunya yang wafat sebelum bersedekah, Nabi tidak langsung menjawab.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ:إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا، وَأُرَاهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ، أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟قَالَ:نَعَمْ.

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata: Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi ﷺ: “Sesungguhnya ibuku meninggal secara mendadak, dan aku kira seandainya dia sempat berbicara, tentu dia akan bersedekah. Apakah dia akan mendapatkan pahala jika aku bersedekah atas namanya?”
Maka Rasulullah ﷺ menjawab: “Ya, (dia akan mendapatkan pahala).”

Dalam banyak majelis, Nabi ﷺ gemar menunggu beberapa saat, bahkan bertanya ulang, agar jawaban tidak terburu-buru. Ini jadi teladan diam sebagai bentuk kehadiran batin dan tanggung jawab kebenaran.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، فَقَالَ:”يَا أَيُّهَا النَّاسُ، قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا”.فَقَالَ رَجُلٌ: أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟فَسَكَتَ، حَتَّى قَالَهَا ثَلَاثًا،فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:”لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ، وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ”.ثُمَّ قَالَ: “ذَرُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ، فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِسُؤَالِهِمْ، وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ…”

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah ﷺ berkhutbah kepada kami: “Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kalian ibadah haji, maka berhajilah kalian.” Lalu seorang lelaki bertanya: “Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?” Maka Rasulullah ﷺ diam, dan tidak langsung menjawab sampai si penanya mengulanginya tiga kali. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: “Seandainya aku katakan ‘iya’, maka itu akan menjadi wajib, dan kalian tidak akan mampu melakukannya.” Lalu beliau menambahkan: “Tinggalkanlah aku (jangan banyak bertanya) selama aku tidak menjelaskan sesuatu kepada kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena banyak bertanya dan menentang nabi-nabi mereka.” (HR Muslim)

Ada juga yang seperti ini. Kisah menarik dan menggugah hati, bagi pecinta rumah Allah dan mengutamakan berjamaah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَجُلًا أَعْمَى، أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ.
فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ، فَرَخَّصَ لَهُ.فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ، فَقَالَ:”هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ؟”قَالَ: نَعَمْ.قَالَ:”فَأَجِبْ”.

Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya ada seorang sahabat buta yang datang kepada Nabi ﷺ: “ Wahai Rasulullah, aku buta, tidak punya penuntun, jalanan berbahaya. Apakah aku boleh shalat di rumahku?” Maka Rasulullah ﷺ mengizinkannya. Namun kemudian memanggilnya kembali, dan bertanya: “Apakah kamu mendengar azan?” Ia menjawab: “Iya.” Maka Nabi ﷺ bersabda: “Penuhilah panggilan itu.” (HR. Muslim)

Atau perhatikan Sahabat Ali karamallahu wajhah, yang berkata: “Nilai seseorang terletak pada apa yang ia katakan. Maka, jangan sembarangan bicara.” Ada juga Socrates yang dikenal tidak banyak bicara kecuali dengan pertanyaan-pertanyaan yang memancing refleksi. Ia bahkan berkata: “Kebijaksanaan sejati adalah menyadari bahwa kita tidak tahu.” Socrates memilih diam dan bertanya, alih-alih menyampaikan sembarangan. Ini menunjukkan bahwa diam juga bisa bentuk tertinggi dari kesadaran akan keterbatasan manusia.

Diamnya para Nabi, para sahabat dan para bijak bercahaya bukan karena lemah, tapi karena menghormati kebenaran. Diam adalah pra-kata, bukan tanpa kata. Ia adalah ruang agar kebenaran bisa lebih utuh bicara. Di zaman bising, diam menjadi sikap spiritual yang revolusioner, karena mengajak kembali pada mendengar, menimbang, dan menyerap dengan jernih. Kita hidup dalam dunia yang mendorong kita untuk selalu punya pendapat. Tapi kadang yang dibutuhkan bukan pendapat, melainkan perenungan. Bukan sekadar suara, tapi kedalaman.

Dalam konteks ini, kebijaksanaan digital bukan hanya soal menjaga etika komunikasi, tapi merawat batin dari paparan berlebihan. Kita bisa mulai dari hal-hal kecil:

  • Tidak semua pesan harus dibaca sampai habis.
  • ⁠Tidak semua berita harus direspons.
  • ⁠Tidak semua perdebatan perlu diikuti.
  • ⁠Tidak semua hal layak disimpan dalam memori.

Saring, saring dan saring. Bukan karena kita eksklusif, tapi karena kapasitas jiwa ini terbatas. Kita butuh ruang untuk mencerna, bukan hanya menerima. Kita butuh waktu untuk menyendiri, bukan hanya terkoneksi. Kita harus mampu mandiri, dalam semua sisi kehidupan ini. Menjadi diri sendiri.

Jika kita ingin menjadi pribadi yang kuat di era informasi, kita perlu melatih satu keterampilan yang sangat langka hari ini: kemampuan memilah, membiarkan, dan melepaskan. Dan ini sejatinya adalah bagian dari kemandirian spiritual. Karena orang yang mandiri dalam pikirannya tidak mudah diprovokasi. Orang yang mandiri dalam emosinya tidak mudah terombang-ambing. Dan orang yang mandiri dalam jiwanya, tahu kapan saatnya menyimak, dan kapan saatnya menutup pintu bagi keramaian.

Maka dalam dunia yang memuja viralitas, kita boleh memilih menjadi pribadi yang tidak mudah terpancing, yang tidak haus untuk selalu update, tapi justru rajin memperbarui batin sendiri. Karena pada akhirnya, seperti kata para bijak: “Bukan seberapa banyak kabar yang kamu tahu, tapi seberapa tenang kamu menjalani harimu. ”

Related Posts

Nasehat Seorang Ayah Kepada Anaknya
Headline

Nasehat Seorang Ayah Kepada Anaknya

by admin
March 17, 2026
0

Oleh Ust. Tommy Sutomo Di dalam Islam, ada sosok Ayah yang menjadi panutan bagi umat muslim dalam menasehati anaknya. Sosok Ayah tersebut...

Read more
Nasehat untuk Anak
Nasehat

Nasehat untuk Anak

by admin
March 14, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah* Nak, orang tuamu adalah akar yang tersembunyi di dalam tanah yang gelap dan sunyi, agar engkau menjadi dahan yang...

Read more
Nasehat untuk Orang Tua
Nasehat

Nasehat untuk Orang Tua

by admin
March 14, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah* Wahai para orang tua, anak-anakmu bukanlah milikmu. Mereka datang melaluimu, tetapi bukan darimu. Dan meskipun mereka bersamamu, mereka bukan...

Read more
Walimah Pernikahan dalam Islam: Sederhana, Sesuai Kemampuan, dan Penuh Keberkahan
Headline

Walimah Pernikahan dalam Islam: Sederhana, Sesuai Kemampuan, dan Penuh Keberkahan

by admin
March 10, 2026
0

Oleh Aceng Karimullah Salah satu pertimbangan yang sering muncul bagi para pemuda dan pemudi yang belum menikah adalah persoalan biaya resepsi pernikahan....

Read more
Nasehat untuk Para Suami
Nasehat

Nasehat untuk Para Suami

by admin
March 10, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah Menjadi suami bukanlah tentang menjadi tuan di atas singgasana. Terlena tanpa beban. Ingat, setelah menikah status baru menantimu. Allah...

Read more
Nasehat untuk Para Istri
Nasehat

Nasehat untuk Para Istri

by admin
March 10, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah* Dalam rumah tangga, istri bukan sekadar penghuni dinding batu, melainkan roh yang menghidupkan setiap sudutnya. Ketaatan kepada suami bukanlah bentuk...

Read more

Trending

Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas Ramadan, LDII Kabupaten Bandung Hadiri Bukber Polresta
Lintas Daerah

Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas Ramadan, LDII Kabupaten Bandung Hadiri Bukber Polresta

11 hours ago
Tiga Ormas Islam di Jombang Jalin Ukhuwah Islamiyah dengan Safari Ramadan
Lintas Daerah

Tiga Ormas Islam di Jombang Jalin Ukhuwah Islamiyah dengan Safari Ramadan

11 hours ago
Bawa Hidangan dalam Rantang, Wali Kota Mojokerto Buka Puasa Bersama Warga LDII
Lintas Daerah

Bawa Hidangan dalam Rantang, Wali Kota Mojokerto Buka Puasa Bersama Warga LDII

11 hours ago
Ratusan Warga LDII Semarang Meriahkan Tarawih Keliling di Rumah Dinas Wali Kota
Lintas Daerah

Ratusan Warga LDII Semarang Meriahkan Tarawih Keliling di Rumah Dinas Wali Kota

11 hours ago
LDII Lampung Helat Itikaf Bersama di 603 Masjid dan 21 Pesantren se-Lampung
Lintas Daerah

LDII Lampung Helat Itikaf Bersama di 603 Masjid dan 21 Pesantren se-Lampung

11 hours ago
Nuansa Persada

Majalah Resmi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Hubungi kami untuk layanan iklan online: marketing@nuansaonline.com

Follow Us

Recent News

Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas Ramadan, LDII Kabupaten Bandung Hadiri Bukber Polresta

Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas Ramadan, LDII Kabupaten Bandung Hadiri Bukber Polresta

March 17, 2026
Tiga Ormas Islam di Jombang Jalin Ukhuwah Islamiyah dengan Safari Ramadan

Tiga Ormas Islam di Jombang Jalin Ukhuwah Islamiyah dengan Safari Ramadan

March 17, 2026

ARSIP

  • Iklan
  • Privacy & Policy

© 2021 - Designed by GenerusMedia

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Energi
  • Fa Aina Tadzhabun
  • Iptek
  • Apa Siapa
  • Digital
  • Hukum
  • Jejak Islam
  • Kesehatan
  • Kisah Teladan
  • Laporan
  • Lentera Hati
  • Liputan Khusus
  • Lintas Daerah
  • Resonansi
  • Olah Raga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Remaja
  • Siraman Rohani
  • Khutbah (PDF)
    • Khutbah Jumat Bahasa Arab
    • Idul Fitri Bahasa Arab
    • Idul Fitri (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (ust. Imam Rusdi)
    • Idul Adha (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (Kediri 2017)

© 2021 - Designed by GenerusMedia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In