PALING UPDATE
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Home Opini

Memaknai Alam Sebagai Tubuh Manusia

in Opini
387
0
Memaknai Alam Sebagai Tubuh Manusia

Allah SWT menciptakan bumi dan segala sumberdaya alam di dalamnya untuk dimanfaatkan manusia sekaligus sebagai penopang hidup manusia. Foto: LINES

560
SHARES
2.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Siham Afatta*)

Allah SWT menciptakan bumi dan segala sumberdaya alam di dalamnya untuk dimanfaatkan manusia sekaligus sebagai penopang hidup manusia. Surat Al Isra ayat 44 menunjukkan bahwa langit dan bumi beribadah kepada Allah, dengan cara yang tidak diketahui manusia.

Bumi bagaikan makhluk seperti sistem tubuh tubuh manusia, yang memiliki organ dengan beragam unsur seperti tanah, air, udara, tumbuhan, hewan, dan lainnya – kesemuanya saling terhubung dan berpengaruh antara satu dengan lainnya. Alhasil, bumi ini memiliki ‘tubuh’ yang stabil, yang seimbang, memungkinkan manusia hidup dan beribadah dengan lancar, aman, nyaman.

Bagaikan sistem pernafasan kita, hutan dan lapisan atmosfir yang terbentang luas menjadi tempat pertukaran udara dan gas – seperti sistem pernafasan kita. Sementara manusia melepaskan karbon dioksida, kemudian tumbuhan hijau mengubah karbon dioksida menjadi oksigen yang bermanfaat. Bagaikan kulit tubuh manusia, hamparan hutan dan pepohonan menjadi ‘kulit’ bagi bumi, untuk kekokohan struktur tanah agar tidak mudah erosi atau longsor.

Layaknya sistem pencernaan kita, tanah dan proses penguraian di dalamnya memecah beragam zat organik sisa organisme hingga menjadi beragam unsur hara penting. Dari tanah, tanaman  pangan kita menyimpan senyawa kimia – karbon, nitrogen, fosfor, dan lainnya –  sebagai zat sumber energi, penentu tumbuh kembang dan perbaikan tubuh berbagai makhluk.

Serupa sistem sirkulasi darah pada jantung, pembuluh darah, dan paru-paru, siklus air – dari mata air, sungai, muara, hingga lautan – menjaga sistem tranportasi agar unsur hara dan energi dapat dijumpai di tanah dan air, mulai kawasan pegunungan, dataran rendah, hingga pesisir dan lautan.

Bagai beragam jenis sel yang membangun tubuh kita, keanekaragaman hayati **di bumi memuat beragam jenis tumbuhan yang melimpah, hewan, mikroorganisme yang menjadi penentu keutuhan dan fungsi ekosistem. Sama halnya, beragam sel saraf, sel darah, sel otot, sel tulang, dan lainnya, masing-masing berperan spesifik membentuk dan menjaga organ tubuh kita agar utuh dan lengkap.

Bumi Bisa Sakit

Layaknya manusia, bumi bisa sakit. Ketika salah satu komponen ekosistem terganggu, terjadilah ‘ketidakstabilan ekologis’. Dalam kesehatan, ini setara dengan ‘ketidakseimbangan homeostatis’ – proses yang umum melatarbelakangi keadaan ‘sakit’.

Saat temperatur tidak seimbang – manusia mengalami demam, bumi mengalami pemanasan global dan perubahan iklim. Keduanya sama rapuhnya. Cukup temperatur rata-rata tubuh naik di atas 1 derajat Celcius saja – sontak tubuh manusia maupun bumi mulai bergejolak, resah, dan tidak nyaman.

Saat nutrisi tidak seimbang – berlebih gula mengakibatkan diabetes pada manusia, sebagaimana bila nitrogen berlebih dalam kandungan tanah mengakibatkan produktivitas tanaman menurun. Keduanya penyebabnya sama, yakni asupan yang berlebihan. Analoginya, manusia akan sakit bila pola konsumsi makanannya berlebihan, sementara pencemaran tanah terjadi akibat pola pupuk kimia berlebih.

Saat sistem kekebalan tidak seimbang – virus dan bakteri menginfeksi organ tubuh kita karena kurang vitamin dan nutrisi penting untuk imunitas. Sama halnya, wabah hama lebih mudah menyerang tanaman pangan karena satwa pengendali hama seperti burung, reptil, serangga, kelelawar, dan lainnya berkurang atau punah. Hasil panen juga menurun sebab memburuknya kualitas air dan tanah*.*

Saat kandungan gas oksigen dan karbondioksida tidak seimbang – kemampuan kerja tubuh menurun dan organ tubuh bisa rusak saat ada gangguan pada penyerapa oksigen di paru-paru. Juga pada atmosfir, semakin menurun kemampuannya menjaga suhu bumi, dan udara semakin tidak layak bagi manusia. Semakin sedikit hutan dan tumbuhan hijau untuk mengolah  karbon dioksida menjadi oksigen.

Ukuran manusia lebih kecil dari bumi. Namun, tidak sedikit peneliti di dunia memandang jumlah dan intensitas kegiatan manusia yang beragam menjadi kekuatan perusak dominan di muka bumi. Dampaknya mampu memodifikasi proses ekosistem, keanekaragaman hayati, dan iklim di bumi dalam jangka waktu panjang. Paul J. Crutzen, seorang kimiawan atmosferik menyebut rentang waktu ini sebagai era Antroposen.

Penghijauan Sebagai Solusi

Upaya penghijauan dan penanaman pohon menjadi bagian dari solusi – namun ini belum cukup. ****Sebab di era Antroposen ini, beragam kegiatan manusia secara sinergis mengakselerasi perubahan pada iklim, hewan, tumbuhan, tanah, dan air/lautan.

Di antar perubahan tersebut adalah perubahan iklim. Fenomena tersebut akibat penambahan gas rumah kaca dari pembakaran batu bara, minyak bumi dan gas alam. Pencemaran berkelanjutan mengakibatkan asupan sampah plastik dan beragam limbah yang tidak terkelola mengendap di badan tanah dan air, hingga tubuh hewan dan manusia. Pemanfaatan berlebih dan tak terkendali terhadap air tanah berakibat langsung pada ancaman kepunahan pada hewan dan ikan liar. Keadaan itu diperparah dengan penebangan hutan, berkurangya habitat, serta alih fungsi kawasan hijau untuk peluasan kawasan kota dan hunian, pertanian, serta industri kayu dan pertambangan.

Dengan masalah yang paralel itu, upaya pelestarian lingkungan perlu berlangsung secara holistik dan berkesinambungan, tidak mengandalkan upaya yang ‘itu-itu saja’ dan sesaat. Misalnya, penanaman kembali hutan (reforestasi) dan upaya penghijauan lainnya, kita perlu memastikan perencanaan yang strategis dengan pertimbangan baik aspek sosial, ekonomi dan ekologis tidak terbatas pada:

  • Pelestarian diutamakan pada kawasan hutan alam yang sama sekali belum dieksploitasi oleh manusia
  • Pilih jenis tumbuhan yang sesuai dengan keadaan asli atau karakteristik lokasi penghijauan. Termasuk pertimbangan menerapkan metode reboisasi campuran dengan menggabungkan penanaman pohon dengan regenerasi alami, akan menyesuaikan strategi dengan kondisi lokasi tertentu, sehingga mengoptimalkan hasil.
  • Keterlibatan masyarakat dan stakeholder lokal dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan sehingga keteladanan sosial terbangun, kebutuhan sosial dan ekonomi bisa diserap, dan terakomodir dalam upaya pelestarian.
  • Upaya pascatanam dipastikan terencana untuk pemantauan dan pemeliharaan kawasan penghijauan. Kesuksesan dan keberlanjutan reforestasi di antaranya bertumpu pada keberdayaan para pihak di tingkat tapak dalam meninjau kawasan reforestasi dan melakukan tindakan penjagaan dan pemeliharaan yang diperlukan.
  • Strategi kelembagaan, pembiayaan, serta peraturan disiapkan sejak awal untuk pengelolaan jangka menengah hingga panjang. Untuk memastikan terjadi regenerasi hutan secara alami di waktu mendatang yang tidak terputus atau terganggu.

Selain itu, sebab keterhubungan berbagai masalah lingkunan di era Anthroposen ini, beragam bentuk upaya perlindungan lingkungan lainnya sama penting untuk dilanjutkan, namun tidak terbatas pada:

  • Pengendalian polusi: menerapkan peraturan yang lebih ketat untuk mengurangi polusi udara, air, dan tanah. Ini termasuk membatasi emisi industri, mengelola limbah, dan mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya.
  • Konservasi keanekaragaman hayati: melindungi spesies yang terancam punah dan habitatnya melalui pembentukan kawasan lindung, koridor satwa liar, dan program konservasi.
  • Pertanian berkelanjutan: mempromosikan praktik pertanian yang menjaga kesehatan tanah, mengurangi penggunaan pestisida, dan menghemat air. Teknik seperti rotasi tanaman, pertanian organik, dan agroforestri sangat penting.
  • Energi terbarukan: beralih dari bahan bakar fosil ke sumber energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan hidroelektrik. Ini mengurangi emisi gas rumah kaca dan mengurangi perubahan iklim.
  • Pengelolaan air: memastikan penggunaan air yang berkelanjutan melalui irigasi yang efisien, pemanenan air hujan, dan melindungi daerah aliran sungai. Ini membantu menjaga kualitas dan ketersediaan air.
  • Perencanaan kota: merancang kota agar lebih berkelanjutan dengan memasukkan ruang hijau, mempromosikan transportasi umum, dan menerapkan kode bangunan yang hemat energi.
  • Pendidikan lingkungan: meningkatkan kesadaran dan mendidik masyarakat tentang masalah lingkungan dan praktik berkelanjutan. Ini dapat menghasilkan perilaku yang lebih bertanggung jawab dan terinformasi.
  • Mitigasi perubahan iklim: menerapkan kebijakan dan teknologi untuk mengurangi emisi karbon, seperti penetapan harga karbon, penangkapan dan penyimpanan karbon, serta mempromosikan efisiensi energi.

Pada 10 Januari kita bisa mengambil andil dalam melanjutkan komitmen penanaman pohon secara masal (Go Green). Selain itu, pastikan kita tetap memperkaya ragam upaya dalam menjaga lingkungan. Sehingga, mulai dari lingkup rumah tangga hingga masyarakat luas, berupaya, agar masalah lingkungan tidak berlanjut lintas generasi.

*) Siham Afatta, Ph.D. adalah pemerhati lingkungan sekaligus Anggota Departemen Departemen Litbang, IPTEK, Sumberdaya Alam, dan Lingkungan Hidup (LISDAL) DPP LDII.

Tags: Memaknai AlamTubuh Manusia

Related Posts

Pengasuhan: Jejak yang Melampaui Waktu
Opini

Pengasuhan: Jejak yang Melampaui Waktu

by admin
March 10, 2026
0

Oleh Siti Nurannisa P.B.* Pagi yang sering dimulai dengan kalimat sama “Ayo cepat.” Cepat makan, cepat mandi, cepat pakai sepatu. Di sela...

Read more
Ilustrasi Keluarga.
Opini

Baik Buruknya Keluarga

by admin
February 26, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah * Dalam timbangan Ilahi, suka dan duka, baik dan buruk, tak terelakkan lagi. Ia perputaran sunnatullah yang lama tertulis....

Read more
DPP LDII
Opini

Not In My Back Yard – Mengakhiri Bau Busuk Sampah dengan Solusi Membumi

by admin
February 20, 2026
0

Sudarsono* Di beberapa kota besar Indonesia, bau busuk sampah menjadi bagian dari keseharian yang mengganggu kualitas hidup jutaan orang. Dari Bantargebang hingga...

Read more
Penentuan Awal Bulan Hijriyah
Opini

Penentuan Awal Bulan Hijriyah

by admin
February 16, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah Bulan Hijriyah berpatokan pada Bulan (Lunar), berbeda dengan Masehi yang berpatokan pada matahari. Bulan Hijriyah dihitung berdasarkan satu kali...

Read more
LDII ramadan
Opini

Tiga Cara Sambut Ramadan

by admin
February 15, 2026
0

Oleh Dewan Penasehat DPP LDII KH Edy Suparto Umat Islam sedang bersuka cita, karena Ramadan kembali menyapa مَرْحَبًا يَا رَمَضَان. Secara filosofis,...

Read more
Pembiasaan dalam Keseharian yang Membentuk Identitas Diri
Opini

Pembiasaan dalam Keseharian yang Membentuk Identitas Diri

by admin
January 19, 2026
0

Oleh Siti Nurannisaa Tantangan mendidik anak tidak lagi semata-mata berkaitan dengan fasilitas, akses pendidikan, atau kecanggihan teknologi, tapi bagaimana menanamkan nilai. Di...

Read more

Trending

LDII Kabupaten Bekasi Gandeng Pengusaha Santuni Ratusan Anak Yatim di Bulan Ramadan
Berita Daerah

LDII Kabupaten Bekasi Gandeng Pengusaha Santuni Ratusan Anak Yatim di Bulan Ramadan

8 hours ago
Ketua PCNU Kediri: Ramadan Momentum Melatih Kesabaran dalam Ketaatan
Berita Daerah

Ketua PCNU Kediri: Ramadan Momentum Melatih Kesabaran dalam Ketaatan

8 hours ago
Wali Kota Kediri Ajak Perkuat Kolaborasi dan Kepedulian Sosial pada Silaturahim Ramadan Ponpes Wali Barokah
Berita Daerah

Wali Kota Kediri Ajak Perkuat Kolaborasi dan Kepedulian Sosial pada Silaturahim Ramadan Ponpes Wali Barokah

8 hours ago
Ponpes Wali Barokah Kediri Berbagi Kebahagiaan Ramadan melalui Santunan Anak Yatim dan Paket Sembako
Berita Daerah

Ponpes Wali Barokah Kediri Berbagi Kebahagiaan Ramadan melalui Santunan Anak Yatim dan Paket Sembako

8 hours ago
Walimah Pernikahan dalam Islam: Sederhana, Sesuai Kemampuan, dan Penuh Keberkahan
Headline

Walimah Pernikahan dalam Islam: Sederhana, Sesuai Kemampuan, dan Penuh Keberkahan

3 days ago
Nuansa Persada

Majalah Resmi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Hubungi kami untuk layanan iklan online: marketing@nuansaonline.com

Follow Us

Recent News

LDII Kabupaten Bekasi Gandeng Pengusaha Santuni Ratusan Anak Yatim di Bulan Ramadan

LDII Kabupaten Bekasi Gandeng Pengusaha Santuni Ratusan Anak Yatim di Bulan Ramadan

March 12, 2026
Ketua PCNU Kediri: Ramadan Momentum Melatih Kesabaran dalam Ketaatan

Ketua PCNU Kediri: Ramadan Momentum Melatih Kesabaran dalam Ketaatan

March 12, 2026

ARSIP

  • Iklan
  • Privacy & Policy

© 2021 - Designed by GenerusMedia

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Energi
  • Fa Aina Tadzhabun
  • Iptek
  • Apa Siapa
  • Digital
  • Hukum
  • Jejak Islam
  • Kesehatan
  • Kisah Teladan
  • Laporan
  • Lentera Hati
  • Liputan Khusus
  • Lintas Daerah
  • Resonansi
  • Olah Raga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Remaja
  • Siraman Rohani
  • Khutbah (PDF)
    • Khutbah Jumat Bahasa Arab
    • Idul Fitri Bahasa Arab
    • Idul Fitri (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (ust. Imam Rusdi)
    • Idul Adha (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (Kediri 2017)

© 2021 - Designed by GenerusMedia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In