Oleh Wilnan Fatahillah*
Nak, orang tuamu adalah akar yang tersembunyi di dalam tanah yang gelap dan sunyi, agar engkau menjadi dahan yang hijau dan bunga yang mekar di bawah cahaya matahari. Ketahuilah, berbuat baik dan memuliakan mereka bukanlah sebuah beban, melainkan jalan setapak menuju kebun-kebun keabadian di surga. Allah memerintahkanmu melakukan itu.
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَأَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra: 23)
Nak, muliakan mereka dengan pandangan dan tatapan kasih sayang (An-Nazhar bi Ar-Rahmah). Janganlah memandang mereka dengan mata yang tajam atau penuh selidik. Pandanglah wajah renta mereka dengan tatapan sayang. Kelak pahala besar menantimu. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ وَلَدٍ بَارٍّ يَنْظُرُ إِلَى وَالِدَيْهِ نَظْرَةَ رَحْمَةٍ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ نَظْرَةٍ حَجَّةً مَبْرُورَةً
“Tidaklah seorang anak yang berbakti memandang kedua orang tuanya dengan pandangan kasih sayang, kecuali Allah mencatat baginya pahala haji yang mabrur di setiap pandangannya.” (HR. Kanzul Ummal)
Ketahuilah, ketika engkau mencium tangan ibumu, anggaplah engkau sedang menghirup aroma surga. Dan ketika engkau memikul beban ayahmu, sebenarnya engkau sedang membangun istanamu sendiri di surga. Jadilah tongkat bagi mereka yang mulai goyah. Karena suatu saat, engkau pun akan menjadi cerita yang akan dibaca oleh anak-anakmu melalui tatapan mata mereka. Berusahalah membuat mereka rida, karena disitulah kau dapati ridanya Allah kepadamu. Nabi kita ﷺ meletakkan keridaan Allah tepat di bawah keridaan orang tua.
رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الْوَالِدِ وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ
“Rida Allah terletak pada rida orang tua, dan murka Allah terletak pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi, Shahih menurut Ibnu Hibban dan Al-Hakim)
Jagalah lisanmu. Rendahkan suaramu di bawah suara mereka. Janganlah memotong pembicaraan mereka, meskipun engkau merasa lebih tahu. Ingatlah firman Allah:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan…”(QS. Al-Isra: 24)
Dahulukan panggilan mereka di atas urusan pribadimu. Jika mereka memanggil saat engkau sedang sibuk, tinggalkanlah sejenak duniamu. Kesigapanmu menyahut panggilan mereka adalah bentuk ta’dzim yang paling nyata. Sadarlah betapa kecilnya dirimu. Ingatlah saat ibumu bertaruh nyawa melahirkanmu dan ayahmu memeras keringat demi sesuap nasi untukmu. Bayangkanlah suatu hari nanti kursi yang mereka duduki itu kosong, dan hanya aroma pakaian mereka yang tersisa. Jangan sampai penyesalan menjadi guru yang terlambat datang.
Cium tangan mereka saat kau datang dan pergi. Duduklah di tempat yang lebih rendah. Meminta restu dalam setiap keputusan besar (sekolah, pekerjaan, pernikahan). Doakan mereka di setiap selesai salat, karena doa adalah tali gaib yang menyatukan ruhmu dengan ruh mereka.
Nak, orang tuamu adalah pintu surga yang paling tengah, meski pintu itu terkadang tampak rapuh, tua, dan tak berhias permata. Mungkin mereka tidak mampu memberimu istana, namun mereka telah memberikan seluruh hidup mereka agar engkau memiliki atap untuk berteduh. Ayahmu mungkin pulang dengan tangan hampa, namun punggungnya yang penat adalah saksi bisu perjuangan melawan kerasnya dunia demi dirimu. Kekurangan mereka bukanlah dosa, melainkan takdir yang menjadi ladang pahala bagimu.
Saat engkau bayi, engkau tidak memiliki apa-apa, bahkan tidak bisa menyuap nasi sendiri. Orang tuamu menerima kekuranganmu (ketidakmampuanmu) dengan cinta yang tak bertepi. Mereka tidak pernah mengeluh meski engkau merepotkan mereka siang dan malam. Kini, saat mereka yang memiliki “kekurangan”, bukankah adil jika engkau membalasnya dengan penerimaan yang tulus?
Jika orang tuamu kurang dalam ekonomi, jadilah engkau tangan yang membantu. Jika mereka kurang dalam ilmu atau sikap, jadilah engkau anak yang menutupi aib mereka dengan akhlakmu yang mulia. Lihatlah betapa banyak anak yang orang tuanya kaya raya namun tak pernah merasakan hangatnya pelukan. Syukuri kehadiran mereka yang masih ada di sisimu. Kekurangan ekonomi adalah ujian sementara, namun bakti dalam kesempitan adalah kemuliaan abadi. Jangan biarkan kilau dunia membutakan matamu dari cahaya ketulusan mereka. Terimalah mereka apa adanya, karena di hadapan Allah, ketaatanmu dalam menghormati orang tua yang papa jauh lebih berharga daripada bakti yang lahir karena kemewahan. Jangan pernah mengingkarinya. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيكَ
“Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu.” (HR. Ibnu Majah)
Pernahkah engkau melihat ayahmu pulang saat senja, lalu ia terduduk diam di sudut rumah sebelum menyapamu? Di balik diamnya itu, ia sedang menelan semua penghinaan dari atasannya, menahan teriknya matahari yang membakar kulitnya, dan mengubur rasa lelah yang menghunjam tulangnya. Ia melakukan itu semua agar ketika ia masuk ke kamarmu, yang engkau lihat hanyalah senyum seorang pahlawan, bukan luka seorang pecundang. Ia rela menjadi jembatan agar engkau bisa menyeberangi sungai kesulitan tanpa membasahi kakimu. Ia tidak ingin engkau merasakan kerasnya aspal yang ia injak setiap hari.
Bayangkan, setiap tetes keringat yang jatuh dari kening ayahmu adalah penghapus dosa-dosanya, dan setiap rupiah yang ia bawa pulang adalah cadangan surga untukmu. Lihatlah sepatu ayahmu yang mulai aus, atau kemejanya yang warnanya mulai pudar. Ia jarang membeli baju baru untuk dirinya sendiri, karena baginya, kebahagiaan adalah melihatmu memakai seragam sekolah yang rapi dan perutmu kenyang oleh makanan yang layak. Baginya, kehormatanmu adalah harga dirinya.
Cobalah sekali saja, saat ia tertidur lelap karena kelelahan, pandangilah gurat-gurat di wajahnya dan kasarnya telapak tangannya. Sentuhlah tangan itu dalam diam. Tangan itulah yang memegangimu saat kau belajar berjalan, dan tangan itu pulalah yang bertarung dengan dunia demi masa depanmu. Jangan menunggu ia tiada untuk menyadari bahwa ia adalah tiang bangunan yang menopang atap hidupmu. Selagi ia masih ada, jadilah penyejuk bagi matanya yang lelah.
Surga tidak diletakkan di puncak gunung yang tinggi, melainkan di bawah telapak kaki ibu.
Ketahuilah, saat engkau pertama kali menghirup udara dunia, ibumu sedang bertaruh nyawa di gerbang kematian. Ia membelah tubuhnya agar engkau bisa utuh, ia menumpahkan darahnya agar engkau bisa tetap hidup. Allah mengabadikan kesusahan itu dalam kalam-Nya:
حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا
“Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).” (QS. Al-Ahqaf: 15)
Ingatlah, ada ribuan malam di mana engkau tertidur lelap, namun matanya tetap terjaga. Saat engkau sakit, ia menjadi tabib yang tak pernah tidur. Saat engkau lapar di tengah malam, ia menjadi pelayan yang tak pernah mengeluh. Ia merelakan masa mudanya, kecantikannya, dan mimpinya hanya untuk memastikan satu hal. Engkau tumbuh dengan baik. Ibu adalah satu-satunya manusia yang rela perutnya lapar asalkan engkau kenyang. Rela tubuhnya kedinginan asalkan engkau hangat. Maka temani ibumu dan muliakan dengan berlipat ganda. Rasulullah ﷺ menegaskan:
يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أَبُوكَ
“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbuat baik kepadanya?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Beliau bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Beliau bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Beliau bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ayahmu.” (HR. Bukhari & Muslim)
Jika orang tuamu mulai renta. Lihatlah garis-garis keriput di wajahnya. Setiap garis itu adalah jejak kekhawatiran tentang masa depanmu. Lihatlah tangannya yang mulai gemetar. Tangan itu dulu yang mendekapmu dengan kuat agar engkau merasa aman. Keberhasilan yang engkau raih hari ini bukanlah karena kecerdasanmu semata, melainkan karena ketukan doa ibumu di sepertiga malam yang menembus tujuh lapis langit. Ia meminta kepada Allah agar engkau bahagia, bahkan terkadang ia lupa meminta untuk dirinya sendiri. Jangan biarkan kesibukan duniamu membuatmu lupa bahwa ada seorang wanita yang selalu menunggumu pulang dengan rindu yang sama besarnya seperti saat ia menantang maut melahirkanmu.
Nak, jika mereka kurang memberi perhatian, janganlah engkau membalasnya dengan pengabaian. Jadilah engkau matahari yang tetap bersinar meski bumi tertutup awan. Tetaplah menyapa, tetaplah bertanya kabar, dan tetaplah melayani kebutuhan mereka. Dalam Al Quran, Allah berfirman:
وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
“…dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15)
Mungkin mereka tidak tahu cara mencintaimu karena mereka pun dahulu tidak dicintai. Jadilah pemutus rantai kedinginan itu. Bersabarlah atas sikap mereka, karena sabarmu adalah ibadah yang timbangannya sangat berat di sisi Allah. Jika pintu hati mereka terasa tertutup untukmu, ketuklah pintu Pencipta hati mereka. Mintalah kepada Allah agar mereka diberi kelembutan dan kesadaran. Doa seorang anak untuk orang tuanya adalah cahaya yang takkan padam. Jangan biarkan kebahagiaanmu bergantung sepenuhnya pada perhatian mereka. Carilah perhatian dari Sang Pemilik Perhatian. Jika engkau merasa sepi di rumah, carilah lingkungan yang saleh, guru yang bijak, dan sahabat yang tulus yang bisa menjadi “keluarga” bagi jiwamu.
Berbakti saat dicintai itu biasa, namun berbakti saat diabaikan adalah kemuliaan yang luar biasa. Engkau sedang menanam benih di tanah yang kering. kelak, Allahlah yang akan menurunkan hujan rahmat-Nya sehingga engkau memanen buah surga yang paling manis. Orang tuamu adalah pintu yang dipilihkan Allah untukmu memasuki dunia ini. Mereka bukanlah perhiasan yang kau pilih di etalase toko, melainkan takdir suci yang dipilihkan untukmu. Jika mereka kurang dalam ilmu, ekonomi, atau perangai, itu adalah ujian bagi kemuliaan akhlakmu, bukan alasan untuk merendahkan mereka.
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan…” (QS. Al-Isra: 24)
Suatu hari nanti engkau akan berdiri di depan cermin dan melihat wajahmu mulai menua, persis seperti wajah mereka sekarang. Pada saat itu, engkau akan mengerti bahwa kekurangan mereka adalah kemanusiaan mereka. Terimalah kekurangan itu, karena di dalam keikhlasanmu menerima mereka, Allah sedang membangunkan istana kesabaran di surgamu. Iringkan doamu bersama mereka. Karena kita semua adalah makhluk yang tidak lepas dari dosa.
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Ya tuhan kami, ampunilah dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu aku kecil.” )Ihya Ulum Al-Diin)
Ketahuilah bahwa mendoakan orang tua di dalam sujud bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan cara terbaik untuk “membalas” kebaikan yang mereka berikan untukmu. Gunakanlah waktu mustajab di setiap shalatmu agar namamu tertulis sebagai anak yang birrul walidain (berbakti).
*) Dr. H. Wilnan Fatahillah, S.H.I, M.H, M.M, CFLS adalah anggota Departemen Pendidikan Keagamaan dan Dakwah sekaligus Dosen Hukum Keluarga Islam Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIMI) Minhaajuroosyidiin














