PALING UPDATE
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Home Opini

Pelan-Pelan, Alim pun Terkikis

in Opini
382
0
Pelan-Pelan, Alim pun Terkikis

Ilustrasi Pelan-Pelan, Alim pun Terkikis.

548
SHARES
2.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Daud Sobri*

Di lingkungan pesantren, istilah alim bukan sekadar gelar bagi mereka yang banyak hafal kitab atau fasih berbahasa Arab. Alim adalah sosok yang ilmunya hidup—tercermin dalam adab, laku, dan kesanggupan menjaga diri dari hal-hal yang merusak nilai ilmu itu sendiri. Dalam tradisi pesantren, alim bukan hanya tahu, tetapi juga tunduk pada ilmu yang ia miliki.

Namun, ada ironi yang kerap luput dari perhatian: hal-hal kecil, yang tampak sepele, justru perlahan menggerogoti kealimannya. Ia tidak datang sebagai badai, melainkan seperti rayap—diam, tak terasa, tapi pasti merusak.

Pertama, kesibukan duniawi. Bukan berarti dunia harus ditinggalkan, tetapi ketika ia menyita perhatian berlebihan, ilmu kehilangan ruang untuk bernapas. Seorang alim yang terlalu larut dalam urusan dunia—entah bisnis, jabatan, atau popularitas—pelan-pelan menjauh dari ruh keilmuannya. Ilmu yang dulu diasah tiap hari, kini hanya sesekali disapa.

Kedua, banyak utang. Dalam kultur pesantren, utang bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga beban batin. Pikiran yang terbelenggu cicilan dan tagihan sulit khusyuk dalam belajar dan mengajar. Ilmu membutuhkan ketenangan, sementara utang kerap menghadirkan kegelisahan yang tak kasat mata.

Ketiga, memikirkan hal di luar bidangnya. Ini bukan larangan untuk belajar hal baru, melainkan peringatan terhadap kecenderungan latah: ingin bicara semua hal, merasa perlu berpendapat atas segala isu. Akibatnya, fokus tercerai-berai. Ilmu yang seharusnya diperdalam justru dangkal karena energi tersedot ke hal-hal yang bukan ranahnya.

Keempat, kesombongan yang halus, merasa sudah cukup, enggan belajar lagi. Ini mungkin yang paling berbahaya. Di pesantren, senioritas dihormati, tetapi bukan alasan untuk berhenti menuntut ilmu. Ketika seseorang merasa “sudah alim”, di situlah awal kemundurannya. Ilmu tidak suka menetap pada hati yang tertutup.

Lalu, bagaimana menjaga agar ilmu tetap awet?

Jawaban klasik pesantren tetap relevan: muthola’ah—mengulang, membaca, dan menghidupkan kembali pelajaran setiap ada kesempatan. Ilmu bukan benda mati yang cukup disimpan; ia harus terus disentuh agar tidak pudar. Bahkan ulama besar pun dikenal tak pernah berhenti muthola’ah, seolah mereka selalu merasa masih di awal perjalanan.

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, menjaga kealiman memang bukan perkara mudah. Tapi justru di situlah letak ujiannya: apakah ilmu hanya menjadi identitas, atau benar-benar dijaga sebagai amanah.

Karena pada akhirnya, yang menggerogoti alim bukanlah hal besar yang tampak jelas, melainkan perkara-perkara kecil yang dibiarkan terus-menerus. Dan yang menjaga ilmu tetap hidup, sering kali juga bukan sesuatu yang spektakuler—cukup kesetiaan pada hal-hal sederhana yang dilakukan tanpa henti.

Sekayu 2 Syawal 1447.H
*) Daud Sobri adalah Ketua LDII Muba dan Pengurus Ponpes Taufiqurrohman Sungai Lilin.

Tags: Alim pun TerkikisDaud SobriKetua LDII MubaPelan-Pelan

Related Posts

Bukan Tips dan bukan Trik: Tempat sholat yang Nyaman di Harram
Opini

Bukan Tips dan bukan Trik: Tempat sholat yang Nyaman di Harram

by admin
March 14, 2026
0

Oleh Sudarsono Bayangkan Anda sedang salat di masjid, tapi tidak sembarang masjid karena ruangan masjidnya benar-benar harum dan tidak apek; udaranya sejuk-segar...

Read more
Pengasuhan: Jejak yang Melampaui Waktu
Opini

Pengasuhan: Jejak yang Melampaui Waktu

by admin
March 10, 2026
0

Oleh Siti Nurannisa P.B.* Pagi yang sering dimulai dengan kalimat sama “Ayo cepat.” Cepat makan, cepat mandi, cepat pakai sepatu. Di sela...

Read more
Ilustrasi Keluarga.
Opini

Baik Buruknya Keluarga

by admin
February 26, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah * Dalam timbangan Ilahi, suka dan duka, baik dan buruk, tak terelakkan lagi. Ia perputaran sunnatullah yang lama tertulis....

Read more
DPP LDII
Opini

Not In My Back Yard – Mengakhiri Bau Busuk Sampah dengan Solusi Membumi

by admin
February 20, 2026
0

Sudarsono* Di beberapa kota besar Indonesia, bau busuk sampah menjadi bagian dari keseharian yang mengganggu kualitas hidup jutaan orang. Dari Bantargebang hingga...

Read more
Penentuan Awal Bulan Hijriyah
Opini

Penentuan Awal Bulan Hijriyah

by admin
February 16, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah Bulan Hijriyah berpatokan pada Bulan (Lunar), berbeda dengan Masehi yang berpatokan pada matahari. Bulan Hijriyah dihitung berdasarkan satu kali...

Read more
LDII ramadan
Opini

Tiga Cara Sambut Ramadan

by admin
February 15, 2026
0

Oleh Dewan Penasehat DPP LDII KH Edy Suparto Umat Islam sedang bersuka cita, karena Ramadan kembali menyapa مَرْحَبًا يَا رَمَضَان. Secara filosofis,...

Read more
Nuansa Persada

Majalah Resmi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Hubungi kami untuk layanan iklan online: marketing@nuansaonline.com

Follow Us

Recent News

kemenag Blora LDII

Kemenag Blora Silaturahim ke LDII, Perkuat Ukhuwah

April 1, 2026
Pelan-Pelan, Alim pun Terkikis

Pelan-Pelan, Alim pun Terkikis

April 1, 2026

ARSIP

  • Iklan
  • Privacy & Policy

© 2021 - Designed by GenerusMedia

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Energi
  • Fa Aina Tadzhabun
  • Iptek
  • Apa Siapa
  • Digital
  • Hukum
  • Jejak Islam
  • Kesehatan
  • Kisah Teladan
  • Laporan
  • Lentera Hati
  • Liputan Khusus
  • Lintas Daerah
  • Resonansi
  • Olah Raga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Remaja
  • Siraman Rohani
  • Khutbah (PDF)
    • Khutbah Jumat Bahasa Arab
    • Idul Fitri Bahasa Arab
    • Idul Fitri (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (ust. Imam Rusdi)
    • Idul Adha (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (Kediri 2017)

© 2021 - Designed by GenerusMedia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In