PALING UPDATE
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Home Opini

Primata Indonesia Warisan Alam yang Terancam, Tanggung Jawab Kita Bersama

in Opini
393
0
Primata Indonesia Warisan Alam yang Terancam, Tanggung Jawab Kita Bersama

Ilustrasi hewan primata Indonesia.

552
SHARES
2.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Siham Afatta*

Kata ‘primata’ mungkin jarang terucap di keseharian kita. Tidak banyak dari kita yang berurusan langsung dengan primata.

Saat di sekolah dasar, primata dijelaskan sebagai salah satu dari kelompok hewan yang menyusui namun dengan kelebihan khusus. Di antaranya adalah kelebihan dalam kecerdasan, ikatan sosial, dan kemampuan untuk belajar serta beradaptasi. Mereka juga memiliki emosi yang kompleks, sehingga mampu berkomunikasi, saling merawat, bahkan menggunakan alat.

Siapa saja primata? Monyet, orangutan, lutung, bekantan, tarsius, owa, kukang, dan surili – adalah di antara jenis primata Indonesia yang pernah kita jumpai atau ketahui. Dalam sains biologi hewan, atau zoologi, kita sebagai manusia bisa dikategorikan primata.

Indonesia – bersama dengan Brazil, Madagaskar, dan Republik Demokratik Kongo – merupakan tempat bernaungnya lebih dari separuh (~65%) spesies primata di dunia. Negara tersebut juga memiliki luasan besar hutan tropis yang menjadi tempat tinggal alami primata.

Menurut Mammal Diversity Database (Basis data keanekaragaman mamalia), ada 66 spesies primata dari Indonesia. Namun, Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) laporkan 12 jenis primata dinilai Critically Endangered (Kritis), 25 jenis dinilai Endangered (Genting), 26 jenis dinilai Vulnerable (Rentan), 1 jenis Near Threatened (Hampir Terancam), dan 2 jenis masih Data Deficient (Informasi Kurang).

Sayangnya, untuk Indonesia dan Brazil, setidaknya seperlima (~20%) luasan hutannya telah hilang – untuk diambil kayunya, beralih menjadi bangunan dan hunian, pertanian dan perkebunan. Primata yang kehilangan tempat tinggal dan sumber pangan, sering kali terdesak hingga menetap dekat kawasan pemukiman, pertanian atau perkebunan. Tidak sedikit mereka yang dilukai atau dibunuh oleh masyarakat sebab resah atau berkurang hasil cocok tanamnya akibat ulah primata.

Selain habitat hutan yang berkurang dan menyempit, primata yang dianggap eksotis seperti owa, surili, kukang, dan monyet yang diburu untuk diperdagangkan secara ilegal – baik dalam keadaan hidup sebagai peliharaan atau kondisi mati untuk digunakan bagian tubuhnya.

Banyak primata Indonesia—seperti orangutan, owa, dan lutung—berperan sebagai penyebar biji alami. Ketika populasi mereka menurun, semakin sedikit biji yang tersebar, sehingga pertumbuhan pohon baru melambat dan keanekaragaman tumbuhan berkurang. Penelitian menunjukkan bahwa hutan tanpa primata besar menjadi lebih sulit pulih dan kurang tangguh dalam jangka panjang.

Selain itu, primata memengaruhi komposisi tumbuhan dan rantai makanan di hutan. Tanpa mereka, beberapa jenis tanaman dapat menurun sementara jenis lain menjadi dominan, sehingga keseimbangan ekosistem terganggu dan berdampak pada satwa liar lain yang sumber tanaman pakannya terganggu.

Secara tidak langsung, hutan yang sehat mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar. Dengan membantu menjaga keragaman dan pertumbuhan pohon, keberadaan primata dan satwa lainnya secara tidak langsung mendukung penyerapan karbon dioksida. Hilangnya primata dapat melemahkan struktur hutan dan meningkatkan kerentanannya terhadap perubahan iklim.

Indonesia juga memiliki primata endemik. Endemik adalah istilah yang digunakan untuk menyebut makhluk hidup—baik hewan maupun tumbuhan—yang hanya dapat ditemukan secara alami di satu wilayah tertentu dan tidak hidup di tempat lain di dunia. Kepunahan primata juga berarti hilangnya garis evolusi unik yang diduga ilmuwan terbentuk selama jutaan tahun di nusantara Indonesia.

Primata seperti orangutan dan tarsius merupakan simbol alam Indonesia dan daya tarik utama ekowisata. Hilangnya primata dapat mengurangi pendapatan masyarakat lokal dari pariwisata serta melemahkan hubungan budaya antara manusia dan alam. Kajian dari Kerstin Zander dan tim pada 2014, menemukan konservasi orangutan di Semanggoh (Sarawak, Malaysia) yang terkelola baik dan dikunjungi sekitar 70.000 orang tiap tahunnya berkontribusi hingga US$23 juta (Rp387 miliar) terhadap ekonomi lokal.

Juga bagi pendidikan, tingginya keanekaragaman primata Indonesia mendukung penelitian jangka panjang di bidang primatologi, antropologi, psikologi, dan ilmu lingkungan. Hasil riset primata Indonesia telah memperkaya pemahaman dunia tentang kecerdasan, perilaku sosial, penggunaan alat, dan evolusi manusia, serta memperkuat materi pendidikan di perguruan tinggi. Kepunahan mereka akan membatasi peluang riset dan pendidikan lingkungan, baik di tingkat nasional maupun global.

Berbagai studi konservasi menunjukkan bahwa tindakan individu, jika dilakukan secara kolektif, dapat memberikan dampak nyata bagi perlindungan primata dan habitatnya. Dalam mendukung Hari Primata Indonesia 30 Januari ini, kita sebagai masyarakat dapat berkontribusi dengan:

  • Menjaga hutan, rumah bagi primata, dengan melindungi hutan dari penebangan liar, menanam kembali pohon di hutan yang rusak, enjaga kawasan hijau agar tidak dialihfungsikan – baik yang dihuni atau tidak dihuni primata.
  • Menghentikan perburuan dan perdagangan primata, contohnya dengan tidak membeli atau memelihara primata dan hewan lainnya yang ilegal diperdagangkan, melaporkan perdagangan satwa liar ke pihak berwenang, mendukung kampanye penyelamatan satwa.
  • Menolong dan mengembalikan primata ke alam, contohnya melalui bekerjasama dengan lembaga konservasi untuk menyelamatkan primata dari kondisi buruk, merawat dan melatih mereka agar bisa hidup mandiri, melepas mereka kembali ke alam liar.
  • Mengajak masyarakat ikut menjaga alam, semisal melalui edukasi di sekolah tentang pentingnya primata, membantu warga mendapatkan penghasilan tanpa merusak hutan, mengembangkan wisata alam yang ramah lingkungan dan ramah sosial budaya.
  • Mengenal dan memantau primata, dengan didampingi peneliti atau menjadi peneliti untuk mengamati primata di alam, mencatat jumlah dan wilayah tempat tinggal mereka, menggunakan kamera di hutan untuk memantau satwa – kesemuanya untuk membantu menentukan langkah perlindungan yang tepat.
  • Mengubah kebiasaan sehari-hari, semisal dengan mengurangi penggunaan produk yang merusak hutan (kertas, tissue), memilih produk yang lebih ramah lingkungan, tidak mendukung perusahaan yang merusak alam. Sebab kebiasaan kecil, secara kolektif, bisa memberi dampak besar.
SDG 15: Ekosistem Daratan

Andil kita dalam pelestarian primata dan menghentikan laju perdagangan satwa liar dan ilegal berarti andil mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) 15 terkait Ekosistem Daratan, yaitu melindungi, merestorasi dan meningkatkan pemanfaatan berkelanjutan eksosistem daratan, mengelola hutan secara lestari, menghentikan penggurunan, memulihkan degradasi lahan, serta menghentikan kehilangan keanekargaman hayati.

 

Karena masa depan primata Indonesia sangat bergantung pada kesadaran dan pilihan kita hari ini. Semoga karunia dan hikmah hewan primata dari Allah SWT masih bisa dijumpai para Generasi Penerus kita di masa depan.

*) Siham Afatta, Ph.D, adalah Anggota Departemen Litbang, IPTEK, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup (LISDAL) DPP LDII.

Tags: LISDAL DPPPrimata IndonesiaSDG 15: Ekosistem DaratanTanggung Jawab KitaWarisan Alam yang Terancam

Related Posts

Ilustrasi Keluarga.
Opini

Baik Buruknya Keluarga

by admin
February 26, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah * Dalam timbangan Ilahi, suka dan duka, baik dan buruk, tak terelakkan lagi. Ia perputaran sunnatullah yang lama tertulis....

Read more
DPP LDII
Opini

Not In My Back Yard – Mengakhiri Bau Busuk Sampah dengan Solusi Membumi

by admin
February 20, 2026
0

Sudarsono* Di beberapa kota besar Indonesia, bau busuk sampah menjadi bagian dari keseharian yang mengganggu kualitas hidup jutaan orang. Dari Bantargebang hingga...

Read more
Penentuan Awal Bulan Hijriyah
Opini

Penentuan Awal Bulan Hijriyah

by admin
February 16, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah Bulan Hijriyah berpatokan pada Bulan (Lunar), berbeda dengan Masehi yang berpatokan pada matahari. Bulan Hijriyah dihitung berdasarkan satu kali...

Read more
LDII ramadan
Opini

Tiga Cara Sambut Ramadan

by admin
February 15, 2026
0

Oleh Dewan Penasehat DPP LDII KH Edy Suparto Umat Islam sedang bersuka cita, karena Ramadan kembali menyapa مَرْحَبًا يَا رَمَضَان. Secara filosofis,...

Read more
Pembiasaan dalam Keseharian yang Membentuk Identitas Diri
Opini

Pembiasaan dalam Keseharian yang Membentuk Identitas Diri

by admin
January 19, 2026
0

Oleh Siti Nurannisaa Tantangan mendidik anak tidak lagi semata-mata berkaitan dengan fasilitas, akses pendidikan, atau kecanggihan teknologi, tapi bagaimana menanamkan nilai. Di...

Read more
Taswadi Mengubah Lahan Gambut Melawi Jadi Lumbung Pangan
Opini

Taswadi Mengubah Lahan Gambut Melawi Jadi Lumbung Pangan

by admin
January 12, 2026
0

Oleh Sudarsono* “Ketahanan pangan dapat dimulai dari desa, bahkan dari lahan yang selama ini dianggap kurang produktif – lahan gambut. Dari bawang...

Read more

Trending

takjil dpp
Headline

Berbagi Takjil Saat Ramadan, DPP LDII Tingkatkan Kepedulian Sosial Generasi Muda

5 minutes ago
Ilustrasi Keluarga.
Opini

Baik Buruknya Keluarga

16 minutes ago
LDII Kebayoran Lama Serahkan Bantuan Sebagai Bentuk Peduli Bencana Sumatra
Berita Daerah

LDII Kebayoran Lama Serahkan Bantuan Sebagai Bentuk Peduli Bencana Sumatra

3 days ago
Jelang Ramadhan, Tiga Organisasi Keagamaan Adakan Kerja Bakti Bersama
Artikel

Jelang Ramadhan, Tiga Organisasi Keagamaan Adakan Kerja Bakti Bersama

3 days ago
Ketum MUI Pusat Terima Kunjungan Silaturahim Ponpes Wali Barokah dan LDII Kota Kediri
Nasional

Ketum MUI Pusat Terima Kunjungan Silaturahim Ponpes Wali Barokah dan LDII Kota Kediri

4 days ago
Nuansa Persada

Majalah Resmi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Hubungi kami untuk layanan iklan online: marketing@nuansaonline.com

Follow Us

Recent News

takjil dpp

Berbagi Takjil Saat Ramadan, DPP LDII Tingkatkan Kepedulian Sosial Generasi Muda

February 26, 2026
Ilustrasi Keluarga.

Baik Buruknya Keluarga

February 26, 2026

ARSIP

  • Iklan
  • Privacy & Policy

© 2021 - Designed by GenerusMedia

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Energi
  • Fa Aina Tadzhabun
  • Iptek
  • Apa Siapa
  • Digital
  • Hukum
  • Jejak Islam
  • Kesehatan
  • Kisah Teladan
  • Laporan
  • Lentera Hati
  • Liputan Khusus
  • Lintas Daerah
  • Resonansi
  • Olah Raga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Remaja
  • Siraman Rohani
  • Khutbah (PDF)
    • Khutbah Jumat Bahasa Arab
    • Idul Fitri Bahasa Arab
    • Idul Fitri (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (ust. Imam Rusdi)
    • Idul Adha (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (Kediri 2017)

© 2021 - Designed by GenerusMedia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In