PALING UPDATE
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Home Opini

Refleksi Hari Guru Nasional 2025: Indonesia Kuat Dimulai dari Guru Hebat

in Opini
393
0
Refleksi Hari Guru Nasional 2025: Indonesia Kuat Dimulai dari Guru Hebat

Ilustrasi guru sebagai pelita dalam gelap.

552
SHARES
2.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Sudarsono*

“Indonesia tidak akan pernah menjadi bangsa yang kuat jika guru masih dipandang komoditas. Lebih dari sekedar seremoni tahunan, Hari Guru Nasional adalah momentum refleksi mendalam tentang peran guru sebagai arsitek peradaban. Di balik papan tulis dan ruang kelas, merekalah penentu arah masa depan yang membentuk karakter sekaligus kecerdasan generasi. Ketika dunia bergerak cepat dengan teknologi dan globalisasi, Indonesia harus menegaskan: kekuatan bangsa dimulai dari guru hebat.”

Setiap 25 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Guru Nasional. Tahun ini, tema “Guru Hebat, Indonesia Kuat” menjadi sorotan publik. Guru seharusnya bukan sekadar pengajar di ruang kelas, melainkan arsitek peradaban yang menanamkan nilai, membentuk karakter, dan menyiapkan generasi menghadapi tantangan global.

“Guru adalah pelita dalam gelap, penuntun dalam ragu, dan teladan dalam hidup.” Momentum Hari Guru Nasional bukan hanya seremoni tahunan, melainkan kesempatan untuk mengapresiasi sekaligus mengevaluasi. Apresiasi diberikan atas dedikasi guru yang tetap setia mendidik meski menghadapi keterbatasan. Evaluasi dilakukan agar kebijakan pendidikan benar-benar berpihak pada peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru.

Sejarah dan Filosofi Hari Guru Nasional Hari Guru Nasional ditetapkan melalui Keppres No. 78 Tahun 1994, bertepatan dengan berdirinya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada 25 November 1945. Sejak awal kemerdekaan, guru ditempatkan sebagai garda terdepan dalam perjuangan membangun bangsa.

Filosofi Ki Hajar Dewantara—ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani—tetap relevan hingga kini. Guru adalah teladan di depan, penggerak di tengah, dan pemberi dorongan di belakang.

Tema 2025 “Guru Hebat, Indonesia Kuat” memperkuat filosofi tersebut: keberhasilan pembangunan bangsa tidak bisa dilepaskan dari kualitas guru. Guru hebat bukan hanya menguasai materi ajar, tetapi juga memiliki empati, integritas, dan kemampuan beradaptasi.

Isu-Isu Kekinian Pendidikan di Indonesia Pendidikan Indonesia saat ini menghadapi tantangan multidimensi. Ada empat isu utama yang perlu diperluas pembahasannya:

Transformasi Digital dan Literasi Teknologi Pandemi COVID-19 mempercepat adopsi teknologi dalam pembelajaran. Guru kini dituntut menguasai platform daring, aplikasi pembelajaran, hingga kecerdasan buatan. Namun, kesenjangan digital masih besar. Di kota besar, akses internet dan perangkat relatif memadai, sementara di daerah terpencil guru dan siswa masih bergantung pada metode tradisional.

Literasi digital guru menjadi kunci. Tanpa penguasaan teknologi, guru akan kesulitan mengintegrasikan pembelajaran abad ke-21. Tantangan ini bukan hanya soal perangkat, tetapi juga soal mindset: apakah guru siap meninggalkan pola lama dan beralih ke metode baru?

Kesejahteraan dan Status Guru Guru ASN memiliki kepastian karier, tetapi guru honorer masih menghadapi ketidakpastian status dan gaji minim. Program PPPK adalah langkah maju, namun distribusi dan seleksi belum merata. Banyak guru honorer yang sudah lama mengabdi belum terakomodasi.

Kesejahteraan yang tidak memadai berdampak langsung pada motivasi dan kualitas pengajaran. Guru yang harus memikirkan kebutuhan dasar tentu sulit untuk sepenuhnya fokus pada pengembangan siswa.

Pemerataan Kualitas Pendidikan Ketimpangan antara kota dan desa masih nyata. Guru di daerah terpencil menghadapi keterbatasan fasilitas, minimnya pelatihan, serta beban kerja lebih berat. Kurikulum Merdeka Belajar memberi fleksibilitas, tetapi implementasi di lapangan masih menghadapi hambatan. Pemerataan distribusi guru dan fasilitas pendidikan menjadi isu krusial. Tanpa pemerataan, anak-anak di daerah tertinggal tidak memperoleh kesempatan belajar yang setara.

Tantangan Sosial dan Karakter Kasus perundungan, kekerasan di sekolah, hingga pengaruh negatif media digital menjadi perhatian serius. Guru dituntut tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi konselor, pelindung, dan teladan. Pendidikan karakter menjadi semakin penting di era keterbukaan informasi.

Peran LDII dalam Mendukung Guru Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan komitmen nyata terhadap penguatan peran guru di Indonesia. Bagi LDII, guru bukan hanya sosok pengajar, melainkan figur strategis yang menentukan arah masa depan bangsa. Karena itu, LDII menempatkan guru sebagai pusat perhatian dalam berbagai program pendidikan yang mereka jalankan.

Salah satu kontribusi penting LDII adalah peluncuran Pondok Karakter pada tahun 2020. Program ini dirancang untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berakhlak mulia. LDII menyadari bahwa pendidikan karakter adalah fondasi utama yang harus ditanamkan sejak dini, dan guru menjadi ujung tombak dalam proses tersebut.

Melalui Pondok Karakter, LDII menyediakan materi, modul, dan pendekatan yang dapat digunakan guru untuk menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual kepada siswa.

Selain itu, LDII aktif mengadakan pelatihan dan seminar bagi guru. Fokusnya adalah meningkatkan kompetensi pedagogis sekaligus kemampuan adaptasi terhadap teknologi. Di era digital, guru dituntut untuk menguasai perangkat pembelajaran daring, aplikasi interaktif, hingga metode pengajaran berbasis teknologi. LDII berusaha menjembatani kebutuhan ini dengan menyediakan ruang belajar bersama, di mana guru dapat saling bertukar pengalaman dan memperbarui keterampilan mereka.

LDII juga menekankan pentingnya ekosistem pendidikan yang sehat. Guru tidak bisa bekerja sendirian; mereka membutuhkan dukungan masyarakat dan lingkungan sekitar. Karena itu, LDII mendorong keterlibatan orang tua, komunitas, dan lembaga pendidikan dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif. Guru ditempatkan sebagai “nakhoda kemajuan bangsa,” yang mengarahkan generasi penerus menuju masa depan yang lebih baik.

Kontribusi LDII ini menunjukkan bahwa organisasi kemasyarakatan (Ormas) memiliki peran penting dalam memperkuat posisi guru. Dukungan moral, pelatihan berkelanjutan, dan program pendidikan karakter menjadi bagian dari strategi LDII untuk memastikan guru Indonesia siap menjalankan fungsinya. Dengan langkah-langkah tersebut, LDII tidak hanya memberi penghormatan simbolis pada Hari Guru Nasional, tetapi juga menghadirkan program nyata yang berdampak langsung pada kualitas pendidikan.

Analisis dan Opini Guru Indonesia adalah agen perubahan yang memikul tanggung jawab besar dalam membentuk generasi masa depan. Namun, kesiapan mereka masih bergantung pada dukungan sistem pendidikan dan kebijakan pemerintah. Program Merdeka Belajar yang digagas pemerintah merupakan langkah progresif, tetapi implementasinya belum sepenuhnya merata. Banyak guru yang masih kesulitan memahami filosofi kurikulum baru, sehingga pelaksanaannya sering kali hanya sebatas formalitas.

Isu kesejahteraan guru honorer menjadi tantangan besar. Ketidakpastian status dan rendahnya penghasilan membuat banyak guru kehilangan motivasi. Pemerintah memang telah meluncurkan program PPPK, tetapi proses seleksi dan distribusi tenaga pendidik masih belum merata. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan sering kali berhenti pada tataran konsep, belum dengan dukungan eksekusi yang konsisten di lapangan.

Jika dibandingkan dengan negara maju, kompetensi guru Indonesia masih tertinggal. Di Singapura, hanya lulusan terbaik yang direkrut menjadi guru, dengan pelatihan intensif dan status sosial tinggi. Di Jepang, guru mendapat pelatihan sistematis yang menekankan integrasi teknologi dan pedagogi modern. Di Norwegia, guru diwajibkan memiliki pendidikan master dengan kesejahteraan tinggi. Sementara di Indonesia, rekrutmen belum selektif, pelatihan tidak berkelanjutan, dan kesejahteraan belum memadai.

Perbedaan ini berdampak langsung pada kualitas pengajaran. Guru di negara maju terbiasa menggunakan metode pembelajaran berbasis riset dan teknologi, sehingga siswa terbentuk sebagai individu kritis dan kreatif. Di Indonesia, keterbatasan kompetensi membuat sebagian guru masih terpaku pada metode tradisional. Ketimpangan antarwilayah semakin memperlebar jurang kualitas pendidikan, sehingga anak-anak di daerah tertinggal tidak memperoleh kesempatan belajar yang setara.

Namun, bukan berarti guru Indonesia tidak siap. Banyak guru yang menunjukkan dedikasi luar biasa, berusaha beradaptasi dengan teknologi, dan tetap setia mendidik meski menghadapi keterbatasan. Kesiapan guru adalah sebuah proses, bukan kondisi final. Mereka siap sejauh sistem mendukung, masyarakat menghargai, dan kebijakan berpihak.

Solusi yang perlu ditempuh mencakup peningkatan pelatihan berkelanjutan, pemerataan distribusi guru, dan dukungan kesejahteraan yang layak. Guru harus diberi akses pada program pengembangan profesional yang relevan dengan kebutuhan zaman, termasuk literasi digital, pedagogi inovatif, dan pendidikan karakter. Pemerintah perlu memastikan bahwa daerah terpencil tidak kekurangan tenaga pendidik, karena ketimpangan ini berpengaruh langsung pada kualitas generasi bangsa.

LDII telah menunjukkan langkah konkret melalui program pendidikan karakter dan pelatihan guru. Inisiatif semacam ini perlu diperluas dan didukung oleh pemerintah serta masyarakat agar guru Indonesia benar-benar siap menjalankan fungsinya. Guru hebat tidak lahir dari pujian semata, melainkan dari sistem yang mendukung

Keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Opini tentang peran guru dalam membangun bangsa sejatinya sejalan dengan agenda global Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang dicanangkan PBB. Pendidikan berkualitas (SDG 4) menjadi salah satu pilar utama, dan guru adalah aktor kunci dalam mewujudkannya. Tanpa guru yang kompeten, akses pendidikan tidak akan bertransformasi menjadi kualitas pembelajaran yang sesungguhnya.

Lebih jauh, penguatan peran guru juga mendukung SDG 8: Pekerjaan yangbLayak dan Pertumbuhan Ekonomi, karena kesejahteraan guru adalah bagian dari pekerjaan layak. Ketika guru dihargai secara ekonomi dan sosial, mereka dapat fokus mendidik generasi yang produktif, kreatif, dan siap bersaing di pasar kerja global.

Keterlibatan ormas seperti LDII dalam mendukung guru melalui pelatihan dan pendidikan karakter berkontribusi pada SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh. Pendidikan karakter yang ditanamkan guru membentuk generasi yang berintegritas, toleran, dan mampu menjaga kohesi sosial. Hal ini memperkuat institusi bangsa dari akar rumput.

Selain itu, pemerataan distribusi guru ke daerah terpencil mendukung SDG 10: Mengurangi Ketimpangan. Dengan memastikan anak-anak di pelosok mendapatkan akses pendidikan berkualitas, Indonesia mengurangi kesenjangan antarwilayah dan memperkuat keadilan sosial.

Dengan demikian, narasi “Guru Hebat, Indonesia Kuat” bukan hanya relevan untuk konteks nasional, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen Indonesia terhadap agenda pembangunan berkelanjutan dunia. Guru adalah jembatan yang menghubungkan cita-cita global dengan realitas lokal, memastikan bahwa setiap anak bangsa tumbuh sebagai generasi yang berdaya, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.

Penutup Hari Guru Nasional 2025 dengan tema “Guru Hebat, Indonesia Kuat” harus dimaknai lebih dari sekadar perayaan tahunan. Ia adalah momentum refleksi mendalam tentang bagaimana bangsa ini memperlakukan sosok guru sebagai fondasi peradaban. Guru bukan hanya pengajar, melainkan teladan moral, penggerak sosial, dan penentu arah masa depan.

Selama ini, guru Indonesia telah menunjukkan dedikasi luar biasa meski menghadapi keterbatasan kesejahteraan, fasilitas, dan dukungan kebijakan. Mereka tetap hadir di ruang kelas, di desa terpencil, bahkan di tengah keterbatasan teknologi, untuk memastikan anak-anak bangsa tetap mendapatkan pendidikan. Namun, perbedaan kompetensi dengan guru di negara maju seperti Singapura, Jepang, dan Norwegia menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah besar.

Kontribusi ormas, lembaga pendidikan, dan komunitas lokal memberi harapan baru. Dukungan moral, pelatihan berkelanjutan, serta keterlibatan masyarakat dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat membuktikan bahwa penguatan guru bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tugas kolektif seluruh elemen bangsa.

Ke depan, Indonesia harus berani menempatkan guru di panggung utama pembangunan. Investasi terbesar bangsa bukan pada infrastruktur fisik semata, melainkan pada kualitas manusia yang dibentuk oleh guru. Dengan pelatihan berkelanjutan, pemerataan distribusi, peningkatan kesejahteraan, dan dukungan masyarakat, guru Indonesia dapat sejajar dengan standar global.

“Tanpa guru yang hebat, mustahil Indonesia menjadi kuat.” Hari Guru Nasional 2025 harus menjadi titik balik. Ia adalah ajakan bagi seluruh bangsa untuk bergandengan tangan memperkuat guru, demi melahirkan generasi tangguh, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan. Indonesia kuat dimulai dari guru hebat, dan guru hebat lahir dari sistem yang menghargai, mendukung, dan memberdayakan mereka sepenuhnya.

*) Prof. Dr. Ir. H. Sudarsono, M.Sc. adalah Koordinator Bidang (Korbid) Penelitian dan Pengembangan (Litbang), Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek), Sumberdaya Alam, dan Lingkungan Hidup (LISDAL), DPP LDII

Tags: Guru HebatHari Guru Nasional 2025Indonesia Kuat

Related Posts

Primata Indonesia Warisan Alam yang Terancam, Tanggung Jawab Kita Bersama
Opini

Primata Indonesia Warisan Alam yang Terancam, Tanggung Jawab Kita Bersama

by admin
January 9, 2026
0

Oleh Siham Afatta* Kata ‘primata’ mungkin jarang terucap di keseharian kita. Tidak banyak dari kita yang berurusan langsung dengan primata. Saat di...

Read more
Refleksi Awal Januari 2026:  Belajar Bekerja Sama yang Baik dari Sejarah Yogyakarta, Ibu Kota Perjuangan RI
Opini

Refleksi Awal Januari 2026: Belajar Bekerja Sama yang Baik dari Sejarah Yogyakarta, Ibu Kota Perjuangan RI

by admin
January 7, 2026
0

Oleh Thonang Effendi* Sore yang syahdu di Jakarta, 3 Januari 1946. Saat matahari bersiap tenggelam di ufuk barat, rombongan pemimpin bangsa bergerak...

Read more
LDII Menawarkan Cara Berbeda Tangani Sampah Akhir Tahun
Opini

LDII Menawarkan Cara Berbeda Tangani Sampah Akhir Tahun

by admin
January 7, 2026
0

Oleh Bambang Supriadi* Pergantian tahun sejatinya adalah momen muhasabah, saat manusia berhenti sejenak untuk menengok perjalanan hidup yang telah dilalui dan menata...

Read more
Dari Sangurejo Wujudkan Amanah Jaga Lingkungan Melalui ProKlim
Opini

Dari Sangurejo Wujudkan Amanah Jaga Lingkungan Melalui ProKlim

by admin
January 7, 2026
0

Oleh Sudarsono “Sangurejo bukan sekadar lokasi Program Kampung Iklim, melainkan ruang pembelajaran hidup tentang bagaimana ketekunan warga, kearifan lokal, dan kerja kolektif...

Read more
Dakwah Ekologis: Jalan Baru Dakwah Islam Masa Depan
Opini

Dakwah Ekologis: Jalan Baru Dakwah Islam Masa Depan

by admin
December 8, 2025
0

Oleh Sudarsono dan Siham Afata* “Banjir bandang yang melanda Aceh dan Sumatera Utara akhir November 2025 menelan ratusan korban jiwa, ribuan rumah...

Read more
ProKlim: Antara Papan Nama dan Aksi Nyata
Opini

ProKlim: Antara Papan Nama dan Aksi Nyata

by admin
December 8, 2025
0

Oleh Sudarsono dan Atus Syahbudin* “Perubahan iklim tak lagi jauh—ia sudah mengetuk pintu kampung-kampung kita. Program Kampung Iklim (ProKlim) hadir sebagai harapan,...

Read more

Trending

Primata Indonesia Warisan Alam yang Terancam, Tanggung Jawab Kita Bersama
Opini

Primata Indonesia Warisan Alam yang Terancam, Tanggung Jawab Kita Bersama

23 hours ago
Perkuat Ukhuwah Islamiyah, LDII Silaturahim dengan Rais Syuriyah PWNU Lampung
Lintas Daerah

Perkuat Ukhuwah Islamiyah, LDII Silaturahim dengan Rais Syuriyah PWNU Lampung

23 hours ago
Dukung Penguatan Moderasi Beragama, LDII Lampung Selatan Hadiri Upacara HAB ke-80 Kemenag
Lintas Daerah

Dukung Penguatan Moderasi Beragama, LDII Lampung Selatan Hadiri Upacara HAB ke-80 Kemenag

23 hours ago
Kunjungi DPP LDII, Stafsus Kemenko PMK Dorong Penguatan Inklusivitas dan Sinergi Kebangsaan
Headline

Kunjungi DPP LDII, Stafsus Kemenko PMK Dorong Penguatan Inklusivitas dan Sinergi Kebangsaan

24 hours ago
LDII Ngawen dan Muspika Santuni Anak Yatim dan Dhuafa
Lintas Daerah

LDII Ngawen dan Muspika Santuni Anak Yatim dan Dhuafa

3 days ago
Nuansa Persada

Majalah Resmi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Hubungi kami untuk layanan iklan online: marketing@nuansaonline.com

Follow Us

Recent News

Primata Indonesia Warisan Alam yang Terancam, Tanggung Jawab Kita Bersama

Primata Indonesia Warisan Alam yang Terancam, Tanggung Jawab Kita Bersama

January 9, 2026
Perkuat Ukhuwah Islamiyah, LDII Silaturahim dengan Rais Syuriyah PWNU Lampung

Perkuat Ukhuwah Islamiyah, LDII Silaturahim dengan Rais Syuriyah PWNU Lampung

January 9, 2026

ARSIP

  • Iklan
  • Privacy & Policy

© 2021 - Designed by GenerusMedia

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Energi
  • Fa Aina Tadzhabun
  • Iptek
  • Apa Siapa
  • Digital
  • Hukum
  • Jejak Islam
  • Kesehatan
  • Kisah Teladan
  • Laporan
  • Lentera Hati
  • Liputan Khusus
  • Lintas Daerah
  • Resonansi
  • Olah Raga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Remaja
  • Siraman Rohani
  • Khutbah (PDF)
    • Khutbah Jumat Bahasa Arab
    • Idul Fitri Bahasa Arab
    • Idul Fitri (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (ust. Imam Rusdi)
    • Idul Adha (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (Kediri 2017)

© 2021 - Designed by GenerusMedia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In