PALING UPDATE
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Home Nasehat

Meraih Keberkahan Rezeki Menuju Keluarga Harmoni

in Nasehat
374
0
Meraih Keberkahan Rezeki Menuju Keluarga Harmoni

Ilustrasi Keluarga Harmonis.

548
SHARES
2.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Wilnan Fatahillah

Keberkahan adalah inti dari teologi rezeki. Ia adalah penambahan kebaikan, pertumbuhan, dan manfaat yang melampaui batas-batas materi. Rezeki yang diberkahi adalah rezeki yang sedikit namun mencukupi, mendatangkan ketenangan jiwa, dan mampu digunakan untuk kebaikan serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebaliknya, rezeki yang banyak namun tidak diberkahi bisa jadi hanya mendatangkan kegelisahan, keserakahan, dan menjauhkan dari nilai-nilai spiritual.

Contoh konkret dalam kehidupan keluarga adalah ketika sebuah keluarga dengan penghasilan pas-pasan mampu mengelola keuangannya dengan baik, mencukupi kebutuhan dasar, mendidik anak-anaknya dengan baik, dan bahkan bersedekah. Ini adalah indikasi keberkahan. Sebaliknya, ada keluarga dengan penghasilan melimpah namun selalu merasa kurang, sering bertengkar karena masalah keuangan, dan anak-anaknya tumbuh tanpa nilai-nilai moral. Ini menunjukkan ketiadaan keberkahan, meskipun secara materi mereka kaya (Siddiqi, 2019).

Faktor-faktor yang dapat mendatangkan keberkahan dalam rezeki yang perlu diketahui oleh seluruh anggota keluarga meliputi:

  • Ketakwaan dan Ketaatan: Menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya adalah kunci utama keberkahan. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS. Al-A’raf: 96).

  • Syukur: Mensyukuri setiap nikmat, sekecil apapun, akan menambah keberkahan rezeki.

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“…Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)

Kata “La-azidannakum” menggunakan penekanan ganda yang berarti Allah pasti akan menambah nikmat tersebut. Dalam keluarga, syukur bukan hanya menambah jumlah uang, tapi menambah keberkahan, kesehatan, dan keharmonisan. Sebaliknya, mengeluh (kufur) justru akan “menyempitkan” rezeki yang sudah ada. Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa prasyarat rezeki adalah merasa cukup (Qana’ah), yang merupakan inti dari syukur.

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan (rezeki) yang hakiki adalah kekayaan jiwa (syukur/merasa cukup).” (HR. Bukhari & Muslim) .

Keluarga yang bersyukur akan merasa “kaya” meskipun pendapatannya biasa saja. Inilah rezeki batin. Tanpa syukur, orang yang berharta melimpah sekalipun akan merasa “miskin” karena selalu merasa kurang.

  • Sedekah dan Infak: Mengeluarkan sebagian rezeki di jalan Allah tidak akan mengurangi harta, justru akan melipatgandakan keberkahannya.

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ…

“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji…”(QS. Al-Baqarah: 261)

Satu harta yang disedekahkan bisa berkembang menjadi 700 kali lipat. Bagi keluarga, sedekah adalah cara paling cerdas untuk menjaga kestabilan rezeki di tengah inflasi dan ketidakpastian ekonomi yang terjadi saat ini.

  • Silaturahmi: Menjaga hubungan baik dengan kerabat dan sesama Muslim juga merupakan pintu keberkahan.

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari no. 5986 dan Muslim no. 2557).

Para ulama menjelaskan bahwa “dilapangkan rezeki” bisa berarti jumlahnya bertambah, atau rezeki tersebut menjadi sangat berkah (mencukupi segala kebutuhan). Secara logika sosiologi, silaturahmi membuka peluang-peluang baru, relasi bisnis, dan bantuan dari kerabat yang sering kali menjadi jalan datangnya rezeki yang tidak disangka-sangka.

صِلَةُ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِي الأَهْلِ، مَثْرَاةٌ فِي الْمَالِ، مَنْسأَةٌ فِي الأَثَرِ

“Silaturahmi itu mendatangkan cinta dalam keluarga, memperbanyak harta, dan memperpanjang umur.” (HR. Tirmidzi no. 1979).

Kata “Mathra-atun fil maal” secara eksplisit berarti memperbanyak harta. Hubungan kekeluargaan yang harmonis menciptakan ekosistem saling bantu (ta’awun). Jika ada satu anggota keluarga yang kesulitan, yang lain membantu, sehingga secara keseluruhan ekonomi keluarga besar tersebut tetap kuat.

  • Kejujuran dan Amanah: Dalam mencari dan mengelola rezeki, kejujuran dan amanah adalah prinsip dasar yang mendatangkan

jujur dan amanah adalah “Akar Rezeki” yang menjamin harta tersebut tidak hanya banyak, tapi juga berkah dan berkelanjutan. Tanpa kejujuran, rezeki mungkin datang cepat, tapi akan hilang dengan cara yang menyakitkan. Rezeki keluarga biasanya datang dari hasil transaksi atau pekerjaan. Nabi SAW menjanjikan keberkahan bagi mereka yang jujur dalam prosesnya.

فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

“Jika keduanya (penjual dan pembeli) jujur dan transparan, maka diberkahi transaksi mereka. Namun jika mereka menyembunyikan (cacat) dan berbohong, maka dihapuskan keberkahan transaksi mereka.” (HR. Bukhari & Muslim).

Keberkahan (Barakah) adalah “rezeki yang bertambah dan menetap”. Rezeki yang diberkahi meskipun sedikit akan cukup untuk kebutuhan keluarga. Sebaliknya, rezeki hasil bohong akan “muhiqat” (dihapuskan/lenyap tak berbekas), misalnya habis untuk biaya rumah sakit, musibah, atau kerugian lain.

Amanah dalam bekerja atau menjalankan bisnis adalah magnet bagi datangnya rezeki dan kepercayaan orang lain.

‌الأَمانَةُ ‌تَجْلبُ الرِّزْقَ والخِيَانَةُ تَجْلِبُ الفَقْرَ

“Amanah itu adalah mendatangkan rezeki, sedangkan khianat itu adalah mendatangkan kemiskinan.” (HR. Al-Jami’ Al-Shagir, Imam Suyuti).

Secara logika amanah adalah “Credit Score” tertinggi. Orang yang amanah akan selalu dipercaya oleh mitra bisnis dan atasan, sehingga peluang rezekinya selalu terbuka lebar. Sebaliknya, sekali saja berkhianat, reputasi hancur, dan pintu rezeki akan tertutup (miskin).

Pemahaman yang benar tentang teologi rezeki dan keberkahan memiliki implikasi yang sangat signifikan dalam membangun keluarga Muslim yang kokoh dan beradab.

  • Mengurangi Kecemasan dan Stres: Dengan keyakinan bahwa rezeki telah dijamin oleh Allah, anggota keluarga akan terhindar dari kecemasan berlebihan terhadap masa depan finansial. Mereka akan lebih fokus pada usaha yang halal dan berkualitas, serta tawakal kepada Allah. Pemicu utama stres adalah rasa “selalu kurang”. Berkah mengubah rezeki yang sedikit menjadi “mencukupi”, sehingga beban pikiranpun berkurang.

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh beruntung orang yang berserah diri (Islam), diberikan rezeki yang cukup, dan Allah jadikannya merasa cukup (Qana’ah) atas apa yang Allah berikan kepadanya.” (HR. Muslim No. 1054).

Keberkahan rezeki membuat seseorang memiliki sifat Qana’ah. Di era ini, di mana gaya hidup konsumtif sangat tinggi, sifat merasa cukup adalah ”antibiotik stre”s. Orang yang merasa cukup tidak akan dikejar-kejar oleh ambisi yang melampaui batas atau utang yang menumpuk.

  • Membangun Etos Kerja yang Islami: Keluarga akan termotivasi untuk bekerja keras, profesional, dan inovatif, bukan semata-mata untuk akumulasi kekayaan, tetapi sebagai bentuk ibadah dan pencarian rezeki yang diberkahi. Mereka akan menghindari praktik-praktik curang atau riba yang merusak keberkahan. Rezeki yang berkah tidak didapat dengan cara malas-malasan atau curang. Justru, harapan akan keberkahan itulah yang menjadi bahan bakar utama bagi seorang Muslim untuk bekerja dengan integritas, profesional, dan penuh semangat. Keberkahan rezeki dimulai dari niat. Ketika keluarga menyadari bahwa bekerja adalah cara bersyukur, maka akan muncul etos kerja yang tinggi untuk memberikan yang terbaik.

…اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“…Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali di antara hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS. Saba’: 13)

Ayat ini menekankan bahwa “bekerja” (i’malu) adalah wujud nyata dari rasa syukur. Etos kerja Islami memandang pekerjaan bukan beban, melainkan sarana mengabdi kepada Allah. Keluarga yang memegang prinsip ini akan bekerja dengan ceria dan sungguh-sungguh karena mengejar keberkahan, bukan sekadar gaji. Allah mencintai hamba yang bekerja secara profesional dan tuntas. Inilah inti dari etos kerja Islami: melakukan pekerjaan dengan kualitas terbaik.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya secara Itqan (profesional, teliti, dan sempurna).” (HR. Al-Baihaqi).

Sifat Itqan adalah prasyarat keberkahan. Seorang yang mengejar berkah tidak akan bekerja asal-asalan. Ia akan disiplin, jujur, dan meningkatkan kompetensinya. Keberkahan rezeki akan turun pada hasil kerja yang berkualitas tinggi. Etos kerja Islami menuntut kemandirian. Mencari kayu bakar (kerja kasar) jauh lebih terhormat dan berkah daripada meminta-minta.

لأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَحْتَطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ…

“Sungguh, salah seorang di antara kalian mengambil tali lalu mencari kayu bakar dan memikulnya di atas punggungnya, itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain…” (HR. Bukhari).

Hadis ini membangun etos kerja yang kuat: Pantang Menyerah. Keberkahan rezeki ada pada usaha yang mandiri dan cucuran keringat yang halal. Ini memberikan kekuatan mental bagi keluarga untuk tetap produktif di tengah persaingan ekonomi yang ketat.

  • Mendorong Pola Konsumsi yang Zuhud: Keluarga diajarkan untuk tidak boros (israf) dan tidak kikir (bakhil), melainkan mengelola rezeki dengan bijak, memprioritaskan kebutuhan, dan menyisihkan untuk sedekah serta investasi akhirat. Ini menciptakan sustainable consumption dalam skala mikro keluarga (Khan & Rahman, 2020).

Di tengah kepungan budaya pamer kemewahan (flexing) dan konsumerisme ekstrem, keberkahan rezeki justru akan menuntun sebuah keluarga pada pola konsumsi yang zuhud. Zuhud dalam hal ini bukan berarti miskin atau kumal, melainkan kondisi hati yang tidak diperbudak oleh harta dan pola konsumsi yang tidak berlebihan. Rezeki yang berkah akan membimbing keluarga untuk mengonsumsi sesuatu sesuai kebutuhan, bukan sesuai nafsu.

…وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“…makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”(QS. Al-A’raf: 31)

Keberkahan rezeki membuat kita merasa “cukup” dengan yang ada. Sifat israf (berlebih-lebihan) biasanya muncul karena rezeki yang didapat tidak berkah atau tidak disyukuri. Keluarga yang diberkahi rezekinya akan lebih fokus pada kualitas dan kebermanfaatan barang daripada sekadar merek atau gengsi.

Nabi Muhammad SAW memberikan resep bahwa zuhud adalah cara untuk dicintai oleh Allah dan manusia. Rezeki yang berkah menumbuhkan karakter zuhud. Keluarga yang zuhud tidak akan stres mengejar tren yang dimiliki tetangga atau orang lain. Mereka mengonsumsi apa yang mereka butuhkan untuk menunjang ibadah dan kesehatan, sehingga hidup mereka menjadi tenang dan dihargai lingkungan.

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ

“Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia (tidak rakus pada milik orang lain), niscaya manusia akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah No. 4102).

  • Menumbuhkan Kedermawanan dan Empati Sosial: Dengan memahami bahwa rezeki adalah titipan, keluarga akan lebih mudah untuk berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Ini menumbuhkan rasa empati dan tanggung jawab sosial, yang merupakan pilar penting dalam membangun peradaban Islam.

keberkahan rezeki diukur bukan dari seberapa banyak yang kita tumpuk, melainkan seberapa banyak yang kita alirkan. Rezeki yang berkah memiliki sifat “melembutkan hati”. Harta tersebut tidak membuat pemiliknya kikir, melainkan justru menumbuhkan rasa syukur yang diwujudkan dalam bentuk kedermawanan dan empati Sosial. Salah satu ciri rezeki yang tidak berkah adalah selalu membuat pemiliknya merasa terancam miskin sehingga ia kikir. Sebaliknya, rezeki berkah membawa optimisme untuk berbagi.

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kikir; sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia…” (QS. Al-Baqarah: 268)

Rezeki yang berkah membuat keluarga yakin bahwa memberi tidak akan mengurangi harta. Kedermawanan lahir karena rasa percaya pada janji Allah (Fadhlan). Keluarga yang dermawan adalah keluarga yang imannya terhadap Qadar rezeki sudah sangat kuat. Rezeki yang berkah menimbulkan kesadaran bahwa di dalam harta kita ada hak orang lain. Empati sosial adalah buah dari rezeki yang sehat secara spiritual.

مَا آمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانًا وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ

“Tidak beriman kepadaku orang yang tidur dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya, padahal ia mengetahuinya.” (HR. Al-Bazzar dan At-Thabrani).

Rezeki yang berkah tidak akan membiarkan pemiliknya hidup dalam “menara gading”. Ia akan menumbuhkan empati. Keberkahan harta membuat seseorang merasa “kenyang” hanya jika orang di sekitarnya juga tidak kelaparan. Inilah puncak dari etika sosial Islam.

  • Menciptakan Lingkungan Keluarga yang Harmonis: Ketika setiap anggota keluarga memahami bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada banyaknya harta, melainkan pada keberkahan dan ketenangan jiwa, konflik-konflik yang seringkali dipicu oleh masalah materi akan berkurang. Mereka akan lebih menghargai nilai-nilai non-material seperti kasih sayang, kebersamaan, dan spiritualitas. Rezeki yang berkah memiliki peran dalam menjaga keharmonisan keluarga. Rezeki Berkah Menumbuhkan Kasih Sayang Harta yang diperoleh dengan cara yang diridai agama dapat menanamkan rasa cinta di antara anggota keluarga.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh (termasuk mencari nafkah yang halal), kelak Allah Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (di dalam hati mereka).”(QS. Maryam: 96)

Mencari rezeki yang halal termasuk amal saleh. Keberkahan dari nafkah tersebut dapat ditanamkan menjadi “Wudda” (kasih sayang yang dalam) oleh Allah. Keluarga yang menggunakan hasil yang berkah akan cenderung lebih rukun, saling menghargai, dan minim konflik ego. Kualitas makanan yang dibeli dari rezeki berkah dapat berpengaruh pada perilaku dan harmonisasi keluarga.

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا…

“Wahai rasul-rasul! Makanlah dari makanan yang baik-baik (halal dan berkah), dan kerjakanlah amal saleh…”

Ayat ini menjelaskan bahwa perintah makan yang baik disandingkan dengan amal saleh. Makanan dapat dianggap sebagai bahan bakar perilaku. Jika rezeki yang diperoleh itu berkah, maka anggota keluarga dapat lebih mudah diarahkan kepada kebaikan dan ketaatan, yang dapat membuat lingkungan rumah menjadi harmonis dan jauh dari perilaku menyimpang. Keharmonisan keluarga tercermin dari kegiatan sederhana yang diberkahi, seperti makan bersama.

اجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ

“Berkumpullah kalian saat makan dan sebutlah nama Allah padanya, niscaya akan diberkahi bagi kalian pada makanan tersebut.” (HR. Abu Dawud No. 3764).

Penjelasan: Hadis ini menunjukkan bahwa keberkahan rezeki dapat terasa saat dinikmati bersama. Dengan makan bersama, komunikasi dapat terjalin, ego mereda, dan rasa syukur dapat muncul secara kolektif. Ini dapat menjadi cara untuk menciptakan harmoni.

Orang tua memiliki peran sentral dalam menanamkan pemahaman ini kepada anak-anak sejak dini. Anak-anak diajarkan bahwa uang bukanlah segalanya, bahwa kerja keras itu penting, tetapi keberkahan datang dari Allah, dan bahwa berbagi adalah kunci kebahagiaan. Studi kasus menunjukkan bahwa keluarga yang mengajarkan nilai-nilai ini cenderung memiliki anak-anak yang lebih mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi (Hasan, 2021). Mengajarkan Nilai Rezeki kepada anak bukan hanya soal uang, tapi soal membentuk mentalitas syukur, kerja keras, dan tauhid.Pendidikan pertama adalah Tauhid Rezeki. Anak harus mengetahui bahwa meskipun ayah/ibu bekerja, sumber rezeki yang hakiki adalah berasal dari Allah yang Maha Pemberi Rezeki

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا…

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya…”(QS. Hud: 6)

Ajarkan kepada anak bahwa makanan yang ada di meja adalah kiriman Allah melalui tangan orang tua. Ini penting agar anak tidak tumbuh menjadi pribadi yang sombong saat kaya, dan tidak rendah diri saat kekurangan, karena ia bergantung pada Allah yang Maha Kaya. Anak juga perlu dididik bahwa rezeki tidak datang begitu saja tanpa usaha. Ini adalah pendidikan tentang kerja keras dan  dan menghargai proses.

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”(QS. An-Najm: 39)

Ajarkan anak untuk “berusaha” sebelum mendapatkan sesuatu. Misalnya, jika ingin hadiah, anak harus menunjukkan prestasi atau disiplin terlebih dahulu. Ini menanamkan nilai bahwa rezeki butuh ikhtiar dan kesungguhan (Itqan). Zaman seperti sekarang ini, anak-anak sangat rentan terhadap rasa tidak puas. Didik anak untuk selalu bersyukur dengan cara melihat ke bawah. Jika anak ingin mainan baru, ingatkan dia bahwa banyak anak lain yang tidak memiliki makanan. Ini mendidik karakter anak agar tidak rakus dan selalu rida terhadap ketetapan Allah (Qadar rezeki).

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ…

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu (dalam urusan dunia) dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atasmu…” (HR. Muslim).

Dengan demikian, teologi rezeki dan keberkahan bukan hanya sekadar doktrin teologis, melainkan panduan praktis yang membentuk cara pandang, etos kerja, pola konsumsi, dan interaksi sosial dalam keluarga.

*) Dr. H. Wilnan Fatahillah, S.H.I, M.H, M.M, adalah anggota Departemen Pendidikan Keagamaan dan Dakwah DPP LDII.

Tags: Menuju Keluarga HarmoniMeraih Keberkahan RezekiWilnan Fatahillah

Related Posts

Menghitung Tanpa Angka
Nasehat

Menghitung Tanpa Angka

by admin
November 24, 2025
0

Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan Pernahkah hati kita merasa lelah menghitung?...

Read more
Malas Shalat dan Benci Infaq
Nasehat

Malas Shalat dan Benci Infaq

by admin
November 17, 2025
0

Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan Ketika Al-Qur’an menceritakan dan mendiskripsikan orang-orang...

Read more
D l o s o r
Nasehat

D l o s o r

by admin
November 10, 2025
0

Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan Dalam budaya Jawa, kata dlosor terdengar...

Read more
Pikiran Sederhana
Nasehat

Pikiran Sederhana

by admin
November 3, 2025
0

(Jalan Menuju Kedamaian Hidup) Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan Kehidupan modern...

Read more
Maknai Syukur Saat Ujian, Habib Ubaidillah Tekankan Peran Takdir dan Doa
Nasehat

Maknai Syukur Saat Ujian, Habib Ubaidillah Tekankan Peran Takdir dan Doa

by admin
October 31, 2025
0

Pengasuh Pondok Pesantren Al Ubaidah Kertosono, Habib Ubaidillah Al Hasany menjelaskan cara bersyukur dalam kesulitan melalui program Oase Hikmah di kanal LDII...

Read more
Debu dalam Nafas Kita
Nasehat

Debu dalam Nafas Kita

by admin
October 27, 2025
0

— Sebuah Renungan tentang Microplastik — Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan...

Read more

Trending

Meraih Keberkahan Rezeki Menuju Keluarga Harmoni
Nasehat

Meraih Keberkahan Rezeki Menuju Keluarga Harmoni

28 minutes ago
Refleksi Hari Gizi Nasional: Belajar Bersyukur dari Pemenuhan Gizi Seimbang Berbasis Pangan Lokal
Artikel

Refleksi Hari Gizi Nasional: Belajar Bersyukur dari Pemenuhan Gizi Seimbang Berbasis Pangan Lokal

3 days ago
Gubernur Pramono Anung Apresiasi Komitmen Kebangsaan LDII DKI Jakarta
Berita Kegiatan

Gubernur Pramono Anung Apresiasi Komitmen Kebangsaan LDII DKI Jakarta

4 days ago
DPD LDII Kabupaten Bogor Jalin Silaturahim dengan BPIC dan IKADI
Berita Daerah

DPD LDII Kabupaten Bogor Jalin Silaturahim dengan BPIC dan IKADI

4 days ago
Gubernur Pramono Anung: “Soal Kebangsaan, LDII Lebih Kebangsaan, Daripada yang Mengaku-ngaku Kebangsaan”
Lintas Daerah

Gubernur Pramono Anung: “Soal Kebangsaan, LDII Lebih Kebangsaan, Daripada yang Mengaku-ngaku Kebangsaan”

5 days ago
Nuansa Persada

Majalah Resmi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Hubungi kami untuk layanan iklan online: marketing@nuansaonline.com

Follow Us

Recent News

Meraih Keberkahan Rezeki Menuju Keluarga Harmoni

Meraih Keberkahan Rezeki Menuju Keluarga Harmoni

January 28, 2026
Refleksi Hari Gizi Nasional: Belajar Bersyukur dari Pemenuhan Gizi Seimbang Berbasis Pangan Lokal

Refleksi Hari Gizi Nasional: Belajar Bersyukur dari Pemenuhan Gizi Seimbang Berbasis Pangan Lokal

January 25, 2026

ARSIP

  • Iklan
  • Privacy & Policy

© 2021 - Designed by GenerusMedia

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Energi
  • Fa Aina Tadzhabun
  • Iptek
  • Apa Siapa
  • Digital
  • Hukum
  • Jejak Islam
  • Kesehatan
  • Kisah Teladan
  • Laporan
  • Lentera Hati
  • Liputan Khusus
  • Lintas Daerah
  • Resonansi
  • Olah Raga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Remaja
  • Siraman Rohani
  • Khutbah (PDF)
    • Khutbah Jumat Bahasa Arab
    • Idul Fitri Bahasa Arab
    • Idul Fitri (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (ust. Imam Rusdi)
    • Idul Adha (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (Kediri 2017)

© 2021 - Designed by GenerusMedia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In