PALING UPDATE
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Home Opini

Menyelami Hakikat Kurban

in Opini
386
0
Menyelami Hakikat Kurban

Ilustrasi Hakikat Kurban.

548
SHARES
2.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Wilnan Fatahillah*

Setiap kali takbir bergema membelah langit pada kesunyian fajar Idul Adha, ada getaran spiritual yang tidak biasa merayap di dalam dada setiap Muslim. Di sudut-sudut halaman masjid dan tanah lapang, hewan-hewan kurban telah bersiap menumpahkan darahnya. Namun, Islam tidak pernah memandang ritual ini sekadar sebagai pesta daging tahunan atau tontonan jagal yang kering dari makna. Kurban adalah sebuah monumen cinta tertinggi yang pernah dipahat dalam sejarah peradaban manusia. Ia adalah sebuah madrasah tahunan yang mengajarkan bahwa untuk mendekat (taqarrub) kepada Sang Khalik, ada sesuatu yang harus disembelih: egoisme, ketamakan, dan kecintaan yang berlebihan pada dunia.

Ibadah yang dinamakan Udhhiyah ini bukan sekadar rutinitas Ibadah yang kaku tanpa makna. Ia adalah napas perjuangan yang ditiupkan kembali setiap tahun agar umat manusia tidak lupa pada hakikat penghambaan yang hakiki. Di balik sebilah pisau yang tajam dan tetesan darah yang mengalir ke bumi, ada sebuah benang merah yang terbentang lurus menuju sebuah bukit sunyi di pinggiran Makkah ribuan tahun silam. Sebuah fragmen sejarah yang begitu menyentuh hati, di mana cinta makhluk diuji hingga batas tertingginya demi sebuah rida dari Sang Maha Pengasih.

Sejarah kurban adalah sejarah tentang bagaimana cinta makhluk tunduk total di bawah cinta Khaliq. Mari kita bayangkan sebuah garis waktu di mana seorang syekh tua bernama Ibrahim AS, yang telah menanti kehadiran seorang anak selama puluhan tahun hingga rambutnya memutih dan tulang-tulangnya melemah. Ketika doa panjangnya dikabulkan dengan lahirnya Ismail AS dari rahim Siti Hajar, kebahagiaan Ibrahim tentu tak terbendung. Ismail tumbuh menjadi seorang pemuda yang cerdas, santun, dan menjadi penyejuk mata bagi ayahnya yang mulai senja.

Namun, di titik puncak kecintaan seorang ayah itulah, ujian langit itu datang tanpa kompromi. Allah SWT tidak menguji Ibrahim dengan kemiskinan atau penyakit, melainkan dengan perintah untuk menyembelih putra tunggal kesayangannya melalui sebuah mimpi yang haq. Al-Quran mengabadikan dialog paling dramatis dan menyentuh hati sepanjang sejarah manusia ini dalam Surat As-Saffat:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!'” (QS. As-Saffat: 102).

Perhatikan betapa indahnya adab seorang ayah. Ibrahim tidak mengesekusi perintah itu secara diktator, melainkan mengajak putranya berdialog untuk menguji keimanan sang anak. Dan jawaban Ismail AS adalah mukjizat keteguhan jiwa yang membuat malaikat di langit pun bergetar:

قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

“Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'” (QS. As-Saffat: 102).

Ketika pisau sudah diletakkan di leher Ismail yang pasrah, dan Ibrahim siap menekan egonya sebagai ayah demi ketaatan kepada Tuhannya, di sanalah puncak kelulusan itu tercapai. Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba jantan yang besar (dhibhin ‘azhim). Peristiwa ini membuktikan bahwa Allah tidak pernah menginginkan darah Ismail, Allah hanya menginginkan “penyembelihan” rasa kepemilikan Ibrahim atas Ismail. Allah ingin menegaskan bahwa di dalam hati seorang kekasih Allah (Khalilullah), tidak boleh ada berhala cinta yang menandingi cinta-Nya.

Sejarah transisi dramatis antara kepasrahan Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih Nabi Ismail AS hingga menjadi syariat melontar jumrah diabadikan secara teologis dalam hadis sahih riwayat Imam Al-Hakim dan Imam Ibnu Khuzaimah dari jalur sahabat Abdullah bin Abbas RA.  Ketika perintah menyembelih itu turun, peristiwa itu tidak berjalan mudah karena setan menjelma menjadi sosok nyata demi menggagalkan ketaatan agung tersebut. Berikut narasi sejarah tekstualnya dari kitab Al-Mustadrak ‘alas Shahihain:

لَمَّا أَتَى إِبْرَاهِيمُ خَلِيلُ اللهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ الْمَنَاسِكَ عَرَضَ لَهُ الشَّيْطَانُ عِنْدَ جَمْرَةِ الْعَقَبَةِ، فَرَامَاهُ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ حَتَّى سَاخَ فِي الْأَرْضِ، ثُمَّ عَرَضَ لَهُ عِنْدَ الْجَمْرَةِ الثَّانِيَةِ، فَرَامَاهُ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ حَتَّى سَاخَ فِي الْأَرْضِ، ثُمَّ عَرَضَ لَهُ عِنْدَ الْجَمْرَةِ الثَّالِثَةِ، فَرَامَاهُ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ حَتَّى سَاخَ فِي الْأَرْضِ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: الشَّيْطَانَ تَرْجُمُونَ، وَمِلَّةَ أَبِيكُمْ تَتَّبِعُونَ

Ketika Ibrahim kekasih Allah AS hendak melaksanakan manasik (perintah menyembelih Ismail di Mina), setan tiba-tiba menampakkan diri di hadapannya di Jumrah Aqabah. Maka Ibrahim melempar setan itu dengan tujuh batu kerikil hingga setan itu amblas masuk ke dalam tanah. Kemudian setan itu menampakkan diri lagi (menggoda) di Jumrah Kedua (Wusta), lalu Ibrahim melemparnya kembali dengan tujuh batu kerikil hingga ia amblas ke dalam tanah. Kemudian setan itu menampakkan diri lagi di Jumrah Ketiga (Ula/Sughra), dan Ibrahim melemparnya kembali dengan tujuh batu kerikil hingga ia amblas ke dalam tanah.”Ibnu Abbas RA kemudian berkata: “Sebab itulah setan yang kalian rajam (saat haji), dan syariat ayah kalian (Ibrahim) yang kalian ikuti.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak No. 3388 & Ibnu Khuzaimah No. 2962. Imam Al-Hakim menyatakan hadis ini sahih sesuai syarat Imam Muslim).

Dalam syarah hadis, dijelaskan bahwa setan tidak hanya menggoda Nabi Ibrahim AS di tiga titik pelontaran tersebut. Setan juga mendatangi Siti Hajar untuk membangkitkan naluri keibuannya agar menghalangi suaminya, serta mendatangi Ismail kecil untuk menakut-nakutinya dengan bayang-bayang tajamnya pisau sang ayah. Namun, ketiganya kompak melawan dengan melemparkan batu-batu kecil sebagai bentuk perlawanan dan penghinaan mutlak kepada iblis. Keteguhan inilah yang melahirkan syariat wajib haji berupa melontar tiga jumrah (Ula, Wusta, dan Aqabah) menggunakan kerikil di Mina.

Saat ini, tugu atau dinding jumrah yang dilempari oleh jemaah haji bukanlah wadah fisik setannya yang sedang diikat di sana. Melainkan, tugu tersebut adalah monumen visual penanda sejarah tempat di mana nenek moyang kita, Ibrahim AS, berhasil meremukkan rayuan nafsu dan bisikan iblis demi mempertahankan cintanya kepada Allah.

Ibadah kurban memiliki kedudukan yang sangat agung. Rasulullah SAW memberikan penekanan yang sangat kuat agar umatnya yang memiliki kelapangan rezeki tidak meninggalkan ritual suci ini. Dalam sebuah riwayat masyhur yang bertengger dalam kitab Sunan Ibnu Majah dan Sunan At-Tirmidzi, Sayyidah Aisyah RA mengejawantahkan sabda Nabi SAW:

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الْأَرْضِ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

“Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan oleh anak Adam pada hari Nahr (Iduladha) yang lebih dicintai oleh Allah daripada menumpahkan darah (menyembelih hewan kurban). Sesungguhnya hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya darah kurban itu telah diterima di sisi Allah sebelum menetes ke bumi, maka bersihkanlah jiwamu dengan berkurban.” (HR. At-Tirmidzi No. 1493 & Ibnu Majah No. 3126).

Hadis ini memberikan kita sebuah kepastian metafisik bahwa setiap tetes darah yang keluar dari hewan kurban bernilai pahala yang instan di sisi Allah SWT. Setiap helai bulunya adalah kebaikan. Oleh karena itu, bagi mereka yang sengaja menahan hartanya dan enggan berkurban padahal ia mampu, Rasulullah SAW memberikan sebuah peringatan yang sangat keras (tahdzir syadid):

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ، وَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Siapa yang memiliki kelapangan rezeki namun ia tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.” (HR. Ibnu Majah No. 3123 & Ahmad No. 8273, disahihkan oleh Al-Hakim).

Peringatan ini berkelindan erat dengan perintah eksplisit dari Allah SWT di dalam Al-Qur’an. Melalui Surat Al-Hajj ayat 36, Allah SWT secara tegas memerintahkan umat Islam tidak hanya untuk menyembelih hewan kurban sebagai bentuk ibadah vertikal (hablum minallah), tetapi juga menginstruksikan agar dagingnya didistribusikan secara adil kepada mereka yang membutuhkan sebagai bentuk ibadah horizontal (hablum minannas).

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ ۗ

“…Maka makanlah sebagian darinya dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta-minta…” (QS. Al-Hajj [22]: 36).

Hadis Nabi SAW memberikan ancaman pengusiran secara spiritual (“jangan mendekati tempat salat kami”), karena orang yang kikir telah menutup mata dari perintah Allah untuk mengalirkan kebahagiaan kepada fakir miskin. Berkurban adalah bukti bahwa seseorang siap memotong rantai ketamakan hartanya demi menyambung tali kemanusiaan. Ingat !!! Darah hewan yang mengalir ke bumi itu akan membeku, dagingnya akan habis dalam beberapa hari. Namun, getaran keikhlasan saat membagikannya, senyuman bahagia dari kaum duafa yang menerima pemberian kita, itulah yang akan terbang menembus langit menjadi saksi abadi yang akan membela kita di Padang Mahsyar. Hewan kurban tidak akan mengurangi kekayaan; ia justru sedang mengakar menjadi pondasi istana di surga kelak.

Agar ibadah kurban kita tidak terjebak pada sekadar ritual jagal hewan biasa, nabi Muhammad SAW memberikan dan merumuskan rambu-rambu fikih yang ketat seperti mengenai waktu berkurban dan ciri-ciri hewan yang dapat dikurbankan. Kurban memiliki batasan waktu yang sangat ketat. Waktu penyembelihan dimulai setelah selesainya salat Iduladha pada tanggal 10 Zulhijjah. Jika ada seseorang yang menyembelih sebelum salat Id selesai, maka hewan tersebut statusnya hanyalah daging sembelihan biasa untuk konsumsi, bukan ibadah kurban. Waktu ini terus berlangsung selama hari-hari Tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah hingga matahari terbenam.

Khazanah fikih masyhur menekankan bahwa hewan yang dikurbankan haruslah hewan ternak (An’am) yang sehat dan tidak cacat. Rasulullah SAW bersabda bahwa ada 4 jenis cacat yang membuat hewan tidak sah dijadikan kurban:

  1. Buta sebelah mata yang jelas kebutaannya.
  2. Sakit yang jelas tampak penyakitnya.
  3. Pincang yang jelas jalannya tidak normal.
  4. Sangat kurus hingga tidak memiliki sumsum tulang.

Fikih mengajarkan kita untuk memberikan yang terbaik bagi Allah, bukan hewan sisa atau hewan cacat yang harganya murah. Ini adalah cerminan dari ketakwaan hati. Pada era modern dan digital ini, tantangan ibadah kurban bergeser pada tata kelola dan distribusi. Di era Nabi, kurban langsung disembelih di tempat dan dibagikan kepada tetangga sekitar yang membutuhkan. Namun saat ini, seringkali terjadi penumpukan daging kurban di kota-kota besar yang masyarakatnya sudah sejahtera, sementara di pelosok desa terpencil atau wilayah konflik internasional, banyak umat Islam yang jarang memakan daging sepanjang tahun.

Menjawab tantangan kekinian ini, fikih Islam yang dinamis memperbolehkan sistem Taukil (mewakilkan) atau yang akrab disebut Kurban Online/Kurban Digital. Melalui lembaga amil yang amanah seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) atau lembaga filantropi lainnya, seorang pekurban di kota besar dapat menyetorkan uangnya, dan lembaga tersebut akan membelikan hewan, menyembelihnya, serta mendistribusikannya ke daerah-daerah miskin dan membutuhkan. Secara fikih masyhur, praktik ini sah selama akadnya jelas (Wakalah) dan penyembelihannya dilakukan tepat pada waktu yang ditentukan syariat (10-13 Zulhijjah). Ini adalah solusi nyata bagaimana ibadah kurban bertransformasi menjadi pilar ketahanan pangan umat dan instrumen pemerataan keadilan sosial secara global.

Saatnya kita menyelami lebih dalam makna dibalik kurban. Ketika pisau tajam memutuskan urat nadi hewan kurban, bayangkanlah bahwa kita sedang memutuskan sifat-sifat kebinatangan di dalam diri kita: sifat tamak, sombong, meremehkan orang lain, dan cinta dunia yang buta. Setiap kali kita membagikan bungkusan daging kurban kepada kaum duafa, ingatlah senyuman Ismail yang pasrah dan keikhlasan Ibrahim yang teguh. Kurban mengajari kita bahwa harta yang kita miliki hari ini pada hakikatnya bukanlah milik kita; ia adalah titipan yang sewaktu-waktu harus siap kita “sembelih” demi kepentingan kemanusiaan dan ketaatan kepada Ilahi.

Mari kita hiasi hari-hari penuh berkah ini dengan bersyukur, berbagi, dan memanjatkan doa agar kita senantiasa diberikan kelapangan rezeki yang halal untuk dapat terus berkurban setiap tahunnya:

اللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَإِلَيْكَ، فَتَقَبَّلْ مِنَّا كَمَا تَقَبَّلْتَ مِنْ خَلِيلِكَ إِبْرَاهِيمَ وَحَبِيبِكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Ya Allah, hewan kurban ini adalah nikmat dari-Mu dan dipersembahkan kembali untuk-Mu. Maka terimalah kurban dari kami, sebagaimana Engkau menerima kurban dari kekasih-Mu Ibrahim dan kekasih-Mu Muhammad SAW.”

Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari riya, menerima setiap tetesan darah kurban kita, dan mengumpulkan kita bersama keluarga para nabi yang bertakwa di dalam surga-Nya kelak. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

*) Dr. Wilnan Fatahillah, S.H.I, M.H, M.M., CFLS adalah Ketua Departemen Pendidikan Keagamaan dan Dakwah (PKD) DPP LDII

Tags: 4 jenis cacatHakikat KurbanHewan KurbanIdul AdhaWilnan Fatahillah

Related Posts

Program SMA Dual Track: Solusi Jalan Tengah Antara Ingin Kuliah atau Bekerja
Opini

Program SMA Dual Track: Solusi Jalan Tengah Antara Ingin Kuliah atau Bekerja

by admin
April 3, 2026
0

Oleh Thonang Effendi* Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2025, jumlah pengangguran terbuka lulusan SLTA umum (SMA) mencapai 2.203.563 orang dari...

Read more
Pelan-Pelan, Alim pun Terkikis
Opini

Pelan-Pelan, Alim pun Terkikis

by admin
April 1, 2026
0

Oleh Daud Sobri* Di lingkungan pesantren, istilah alim bukan sekadar gelar bagi mereka yang banyak hafal kitab atau fasih berbahasa Arab. Alim...

Read more
Bukan Tips dan bukan Trik: Tempat sholat yang Nyaman di Harram
Opini

Bukan Tips dan bukan Trik: Tempat sholat yang Nyaman di Harram

by admin
March 14, 2026
0

Oleh Sudarsono Bayangkan Anda sedang salat di masjid, tapi tidak sembarang masjid karena ruangan masjidnya benar-benar harum dan tidak apek; udaranya sejuk-segar...

Read more
Pengasuhan: Jejak yang Melampaui Waktu
Opini

Pengasuhan: Jejak yang Melampaui Waktu

by admin
March 10, 2026
0

Oleh Siti Nurannisa P.B.* Pagi yang sering dimulai dengan kalimat sama “Ayo cepat.” Cepat makan, cepat mandi, cepat pakai sepatu. Di sela...

Read more
Ilustrasi Keluarga.
Opini

Baik Buruknya Keluarga

by admin
February 26, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah * Dalam timbangan Ilahi, suka dan duka, baik dan buruk, tak terelakkan lagi. Ia perputaran sunnatullah yang lama tertulis....

Read more
DPP LDII
Opini

Not In My Back Yard – Mengakhiri Bau Busuk Sampah dengan Solusi Membumi

by admin
February 20, 2026
0

Sudarsono* Di beberapa kota besar Indonesia, bau busuk sampah menjadi bagian dari keseharian yang mengganggu kualitas hidup jutaan orang. Dari Bantargebang hingga...

Read more

Trending

Menyelami Hakikat Kurban
Opini

Menyelami Hakikat Kurban

3 minutes ago
Muswil IX 2026, Ahmad Jais Resmi Pimpin DPW LDII NTT Periode 2026-2031
Lintas Daerah

Muswil IX 2026, Ahmad Jais Resmi Pimpin DPW LDII NTT Periode 2026-2031

12 minutes ago
Junjung Tinggi Persaudaraan, Pemprov NTT Apresiasi Peran LDII Perkuat Toleransi
Lintas Daerah

Junjung Tinggi Persaudaraan, Pemprov NTT Apresiasi Peran LDII Perkuat Toleransi

16 minutes ago
Rangkaian Muswil IX NTT, LDII Helat Media Gathering untuk Perkuat Komunikasi Publik
Lintas Daerah

Rangkaian Muswil IX NTT, LDII Helat Media Gathering untuk Perkuat Komunikasi Publik

22 minutes ago
Mobil Listrik Tenaga Surya Karya Siswa SMK Budi Utomo Gadingmangu Dipamerkan di Peringatan Hardiknas Jawa Timur
Lintas Daerah

Mobil Listrik Tenaga Surya Karya Siswa SMK Budi Utomo Gadingmangu Dipamerkan di Peringatan Hardiknas Jawa Timur

24 minutes ago
Nuansa Persada

Majalah Resmi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Hubungi kami untuk layanan iklan online: marketing@nuansaonline.com

Follow Us

Recent News

Menyelami Hakikat Kurban

Menyelami Hakikat Kurban

May 25, 2026
Muswil IX 2026, Ahmad Jais Resmi Pimpin DPW LDII NTT Periode 2026-2031

Muswil IX 2026, Ahmad Jais Resmi Pimpin DPW LDII NTT Periode 2026-2031

May 25, 2026

ARSIP

  • Iklan
  • Privacy & Policy

© 2021 - Designed by GenerusMedia

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Energi
  • Fa Aina Tadzhabun
  • Iptek
  • Apa Siapa
  • Digital
  • Hukum
  • Jejak Islam
  • Kesehatan
  • Kisah Teladan
  • Laporan
  • Lentera Hati
  • Liputan Khusus
  • Lintas Daerah
  • Resonansi
  • Olah Raga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Remaja
  • Siraman Rohani
  • Khutbah (PDF)
    • Khutbah Jumat Bahasa Arab
    • Idul Fitri Bahasa Arab
    • Idul Fitri (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (ust. Imam Rusdi)
    • Idul Adha (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (Kediri 2017)

© 2021 - Designed by GenerusMedia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In