PALING UPDATE
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Home Opini

Keteladanan untuk Membangun Indonesia Emas 2045

in Opini
378
0
Menjaga Tunas Bangsa Melalui Pancasila: Refleksi Keteladanan Menuju Indonesia Emas 2045

Hari Pancasila. Sumber: vektor

548
SHARES
2.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Thonang Effendi

“Garuda Pancasila, akulah pendukungmu… Patriot Proklamasi, sedia berkorban untukmu.”

Setiap 1 Juni, bait lagu karya Sudharnoto itu kembali menggema. Lagu tersebut bukan sekadar mars kenegaraan. Ia adalah ringkasan cita-cita bangsa: bahwa setiap warga Indonesia diibaratkan sebagai Garuda yang terpanggil untuk mendukung Pancasila. Pertanyaannya, sudahkah kita benar-benar mendukungnya?

Pertanyaan itu membawa kita kembali ke tahun 1945. Saat memimpin sidang BPUPKI, dr. Rajiman Wedyodiningrat melemparkan pertanyaan mendasar: “Atas dasar apakah Indonesia didirikan?” Dari forum itulah lahir jawaban besar bernama Pancasila. Bukan sekadar dasar negara, tetapi juga dasar hidup berbangsa.

Bila dikaitkan dengan tema Harkitnas 2026, “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara,” sesungguhnya mengandung pesan yang sama: bahwa kedaulatan bangsa dimulai dari bagaimana negara menjaga generasi mudanya dengan fondasi yang jelas. Fondasi itu adalah Pancasila.

Lima sila Pancasila tidak berdiri sendiri. Semuanya merupakan satu rangkaian menuju tujuan besar yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945: masyarakat adil, makmur, dan sentosa. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan ketakwaan, toleransi, dan penghormatan terhadap kebebasan beribadah. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menumbuhkan sikap saling menghormati, peduli, dan menjunjung martabat sesama manusia. Sila Persatuan Indonesia memperkuat semangat cinta tanah air dan mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun golongan. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan mengajarkan musyawarah, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap pendapat orang lain. Sedangkan Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia mendorong sikap gotong royong, kepedulian sosial, serta pemerataan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Jika nilai-nilai tersebut hidup dalam perilaku warga dan para pemimpinnya, maka cita-cita Indonesia yang adil, makmur, dan sentosa bukanlah utopia.

Namun, Pancasila tidak akan hidup hanya di atas kertas atau dihafal saat upacara. Ia harus menjelma menjadi kepribadian bangsa. Dan kepribadian bangsa lahir dari penyelarasan kepribadian setiap warga dengan nilai-nilai Pancasila. Di sinilah ujian terbesar dimulai: keteladanan para pemimpin negara dan tokoh bangsa.

Bangsa Indonesia masih memiliki budaya keteladanan yang kuat. Rakyat lebih mudah belajar dari apa yang dilihat daripada sekadar dari apa yang didengar. Karena itu, negara perlu hadir bukan hanya lewat aturan, tetapi juga melalui contoh nyata.

Namun, ujian keteladanan itu semakin berat di era digital dan globalisasi. Dahulu keteladanan cukup terlihat di ruang-ruang birokrasi. Kini semuanya terekam kamera dan menyebar dalam hitungan detik. Persoalannya, generasi Z, Alpha, dan Beta — calon penentu Indonesia Emas 2045—lebih percaya pada apa yang mereka lihat dari perilaku pemimpinnya dibanding slogan di baliho atau pidato resmi.

Di tengah banjir hoaks, individualisme, dan algoritma media sosial yang sering memecah belah, Pancasila justru semakin dibutuhkan sebagai antivirus kebangsaan. Namun antivirus hanya bekerja jika “sumbernya” bersih. Jika pengelola negara sendiri abai terhadap nilai Pancasila, jangan salahkan apabila masyarakat ikut kehilangan arah.

Lalu refleksi apa yang perlu dilakukan pada 1 Juni 2026?

Refleksi pertama harus dimulai dari para pemimpin negara dan tokoh bangsa. Kita perlu kembali merenungkan bait lagu Garuda Pancasila: “sedia berkorban untukmu.” Pengorbanan terbesar seorang negarawan hari ini bukanlah gugur di medan perang, melainkan kemampuan mengorbankan ego, nafsu kekuasaan, dan kepentingan pribadi demi kepentingan bangsa.

Refleksi kedua ditujukan kepada seluruh elemen masyarakat. Program menjaga tunas bangsa perlu benar-benar membumi, menjangkau seluruh lapisan masyarakat dari Sabang sampai Merauke, dari PAUD hingga lansia.

Perhatian besar perlu diberikan kepada generasi muda saat ini yaitu generasi Z, Alpha, dan Beta sebagai aktor penting yang turut menentukan masa depan Indonesia. Genarasi Pancasialis, profesional religius, berkarakter luhur yang siap bersaing di dunia global.

Pendidikan umum, pendidikan agama, dan pendidikan karakter berbasis pembiasaan perlu berjalan selaras. Langkah semacam ini telah dilakukan banyak organisasi kemasyarakatan, termasuk LDII melalui pembinaan Tri Sukses dan 29 Karakter Luhur untuk membentuk sumber daya manusia profesional religius yang cerdas sekaligus berakhlak mulia. Hal ini bagian dari pengabdian LDII untuk bangsa di bidang pendidikan.

Menjaga tunas bangsa demi kedaulatan negara tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Ini adalah kerja kolektif. Pemerintah membuat kebijakan, masyarakat mengawasi, pendidik membina, media mengedukasi, dan keluarga menanamkan nilai sejak dini. Namun poros utamanya tetap satu: keteladanan.

Sebagaimana lambang Garuda tersemat di dada setiap aparatur negara dan warga bangsa, demikian pula nilai-nilai Pancasila perlu hidup dalam hati mereka. Ketika para pemimpin negara dan tokoh bangsa memberikan keteladanan yang selaras dengan nilai Pancasila, masyarakat akan lebih mudah mengikuti tanpa paksaan.

Karena itu, 1 Juni 2026 tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia perlu menjadi pengingat bahwa Indonesia didirikan di atas dasar yang jelas. Tugas kita hari ini adalah memastikan dasar itu tidak retak.

Caranya mungkin sederhana: mulailah menjadi contoh.

Sebab bangsa ini akan benar-benar bangkit, adil, makmur, dan sentosa ketika para pemimpin negara dan tokoh bangsa sungguh-sungguh menjadi “pendukungmu, Garuda Pancasila.”

Biodata Penulis

Thonang Effendi adalah Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII serta pemerhati kebangsaan dan pendidikan.

Tags: DPP LDIIhari PancasilaThonang effendi

Related Posts

Menyelami Hakikat Kurban
Opini

Menyelami Hakikat Kurban

by admin
May 25, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah* Setiap kali takbir bergema membelah langit pada kesunyian fajar Idul Adha, ada getaran spiritual yang tidak biasa merayap di...

Read more
Program SMA Dual Track: Solusi Jalan Tengah Antara Ingin Kuliah atau Bekerja
Opini

Program SMA Dual Track: Solusi Jalan Tengah Antara Ingin Kuliah atau Bekerja

by admin
April 3, 2026
0

Oleh Thonang Effendi* Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2025, jumlah pengangguran terbuka lulusan SLTA umum (SMA) mencapai 2.203.563 orang dari...

Read more
Pelan-Pelan, Alim pun Terkikis
Opini

Pelan-Pelan, Alim pun Terkikis

by admin
April 1, 2026
0

Oleh Daud Sobri* Di lingkungan pesantren, istilah alim bukan sekadar gelar bagi mereka yang banyak hafal kitab atau fasih berbahasa Arab. Alim...

Read more
Bukan Tips dan bukan Trik: Tempat sholat yang Nyaman di Harram
Opini

Bukan Tips dan bukan Trik: Tempat sholat yang Nyaman di Harram

by admin
March 14, 2026
0

Oleh Sudarsono Bayangkan Anda sedang salat di masjid, tapi tidak sembarang masjid karena ruangan masjidnya benar-benar harum dan tidak apek; udaranya sejuk-segar...

Read more
Pengasuhan: Jejak yang Melampaui Waktu
Opini

Pengasuhan: Jejak yang Melampaui Waktu

by admin
March 10, 2026
0

Oleh Siti Nurannisa P.B.* Pagi yang sering dimulai dengan kalimat sama “Ayo cepat.” Cepat makan, cepat mandi, cepat pakai sepatu. Di sela...

Read more
Ilustrasi Keluarga.
Opini

Baik Buruknya Keluarga

by admin
February 26, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah * Dalam timbangan Ilahi, suka dan duka, baik dan buruk, tak terelakkan lagi. Ia perputaran sunnatullah yang lama tertulis....

Read more

Trending

Menjaga Tunas Bangsa Melalui Pancasila: Refleksi Keteladanan Menuju Indonesia Emas 2045
Opini

Keteladanan untuk Membangun Indonesia Emas 2045

2 minutes ago
LDII Helat Nikah Massal 11 Pasang Mubaligh Mubalighot, Ini Pesan Bupati Inhu
Lintas Daerah

LDII Helat Nikah Massal 11 Pasang Mubaligh Mubalighot, Ini Pesan Bupati Inhu

12 hours ago
LDII Papua Selatan Bagikan 3.000 Paket Daging Kurban Jangkau Masyarakat Luas
Lintas Daerah

LDII Papua Selatan Bagikan 3.000 Paket Daging Kurban Jangkau Masyarakat Luas

12 hours ago
LDII Jayapura Salurkan Sapi Kurban Bantuan Bupati untuk Warga Masyarakat
Lintas Daerah

LDII Jayapura Salurkan Sapi Kurban Bantuan Bupati untuk Warga Masyarakat

12 hours ago
LDII Bitung Dorong Budaya Gotong Royong agar Semua Warga Bisa Berkurban
Lintas Daerah

LDII Bitung Dorong Budaya Gotong Royong agar Semua Warga Bisa Berkurban

12 hours ago
Nuansa Persada

Majalah Resmi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Hubungi kami untuk layanan iklan online: marketing@nuansaonline.com

Follow Us

Recent News

Menjaga Tunas Bangsa Melalui Pancasila: Refleksi Keteladanan Menuju Indonesia Emas 2045

Keteladanan untuk Membangun Indonesia Emas 2045

June 2, 2026
LDII Helat Nikah Massal 11 Pasang Mubaligh Mubalighot, Ini Pesan Bupati Inhu

LDII Helat Nikah Massal 11 Pasang Mubaligh Mubalighot, Ini Pesan Bupati Inhu

June 1, 2026

ARSIP

  • Iklan
  • Privacy & Policy

© 2021 - Designed by GenerusMedia

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Energi
  • Fa Aina Tadzhabun
  • Iptek
  • Apa Siapa
  • Digital
  • Hukum
  • Jejak Islam
  • Kesehatan
  • Kisah Teladan
  • Laporan
  • Lentera Hati
  • Liputan Khusus
  • Lintas Daerah
  • Resonansi
  • Olah Raga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Remaja
  • Siraman Rohani
  • Khutbah (PDF)
    • Khutbah Jumat Bahasa Arab
    • Idul Fitri Bahasa Arab
    • Idul Fitri (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (ust. Imam Rusdi)
    • Idul Adha (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (Kediri 2017)

© 2021 - Designed by GenerusMedia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In