Oleh Ketua LDII Musi Banyuasin Daud Sobri
Harta yang digunakan untuk berhaji harus berasal dari sumber yang halal dan thayyib. Harta yang haram dikhawatirkan menjadi penghalang diterimanya amal ibadah. Dalam sebuah riwayat yang dinukil dari Imam Ahmad, disebutkan bahwa seseorang yang berhaji dengan harta haram akan mendapatkan jawaban penolakan atas talbiyahnya.
Dimensi penting lainnya dalam meraih haji mabrur adalah menjauhi maksiat setelah kembali dari tanah suci. Seorang haji mabrur tidak kembali kepada kebiasaan buruk yang ditinggalkan sebelumnya, tetapi justru menjadi pribadi yang lebih bertakwa, sabar, dan bermanfaat bagi orang lain.
Para ulama menjelaskan bahwa indikator haji mabrur dapat dilihat dari perubahan perilaku seseorang. Ukurannya sederhana: apakah setelah berhaji ia menjadi lebih baik dibanding sebelumnya.
Haji mabrur bukan menjadikan seseorang sombong atau merasa paling suci, melainkan membuatnya semakin rendah hati, dermawan, dan peduli terhadap sesama. Ia lebih rajin beribadah, lebih lembut dalam bersikap, serta lebih menjaga silaturahmi. Di lingkungan keluarga, ia menjadi sosok yang lebih penyayang, sementara di masyarakat ia hadir sebagai teladan kebaikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Jika nilai-nilai haji mabrur benar-benar dihidupkan, maka dampaknya akan sangat besar bagi kehidupan sosial. Seorang pedagang akan semakin jujur dalam usahanya, seorang pejabat semakin amanah dalam jabatannya, dan masyarakat akan semakin kuat dalam nilai kejujuran dan kepedulian.
Haji pada hakikatnya bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga investasi moral dan peradaban. Para jemaah haji yang kembali ke tanah air diharapkan menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing.
Dengan demikian, gelar “Haji” atau “Hajjah” bukan sekadar status sosial, tetapi cerminan dari perjalanan spiritual yang benar-benar mengubah diri menjadi lebih baik. Semoga seluruh jemaah haji menjadi haji yang mabrur, diampuni dosanya, dan mampu membawa cahaya kebaikan di tengah masyarakat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.














