Serang (19/6). Rangkaian Pelatihan Jurnalistik Mahir Dasar yang diselenggarakan oleh pengurus wilayah memasuki hari kedua pada Sabtu (30/5/2026). Kegiatan ini menghadirkan sesi pendalaman materi mengenai teknik penulisan berita langsung (straight news), naskah televisi, hingga berita khas (feature) untuk televisi.
Narasumber pelatihan, Noni Mudjiani, memaparkan pentingnya kemampuan menganalisis objek pemberitaan, baik dari sisi tokoh, data, situasi, maupun peristiwa, untuk menentukan sudut pandang berita yang informatif.
“Struktur berita yang baik diawali dengan kemampuan menggali informasi melalui wawancara yang tepat. Hasilnya dapat disusun dalam bentuk kutipan langsung maupun tidak langsung agar berita memiliki kedekatan dengan peristiwa yang dilaporkan,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga objektivitas dalam penulisan berita dengan menghindari opini pribadi agar tidak menimbulkan salah tafsir.
“Gaya penulisan judul juga beragam, namun untuk media informasi organisasi, kita mengedepankan judul yang sederhana dan informatif tanpa menggunakan gaya clickbait,” tambah Noni.
Materi kemudian dilanjutkan oleh Fitri Utami yang membahas teknik penyusunan naskah berita televisi. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa unsur utama dalam jurnalistik televisi meliputi suara, visual, dan grafis yang harus saling mendukung agar pesan tersampaikan secara efektif.
Menurutnya, naskah televisi memiliki karakteristik tersendiri karena mengutamakan aspek penyampaian lisan. Proses produksinya meliputi tiga tahapan utama, yaitu peliputan, penyuntingan, dan penyajian.
“Pada dasarnya kita menulis untuk didengar, bukan untuk dibaca ulang, sehingga informasi harus dapat dipahami hanya dalam sekali dengar. Prinsip dasarnya seperti mengobrol, menggunakan kalimat sederhana dengan struktur yang jelas,” ungkap Fitri.
Selain berita langsung, para peserta dari kalangan generasi muda ini juga dibekali materi mengenai penulisan feature news, yaitu jenis berita yang dikemas dalam bentuk narasi cerita. Berbeda dengan berita langsung, pembuatan feature memerlukan riset yang mendalam serta penyusunan papan cerita (storyboard) sejak tahap pra-produksi agar alur visual dan narasinya berjalan selaras.
“Keunikan sebuah cerita harus ditemukan sejak awal. Dengan perencanaan yang baik, hasil karya akan menjadi lebih menarik sehingga banyak masyarakat yang ingin menyaksikan dan mendengarkannya,” pungkasnya.
Melalui pelatihan ini, para generasi muda LDII diharapkan dapat terus meningkatkan kompetensi jurnalistik mereka, baik dalam ranah penulisan teks maupun produksi konten audiovisual, demi menyajikan informasi positif yang akurat dan bermanfaat bagi publik.














