Bali (20/6). Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi pengingat penting bahwa kelestarian bumi memerlukan perhatian lebih. Pada peringatan tahun ini, LDII mendorong pendekatan yang lebih personal, di mana pengelolaan persoalan sampah diharapkan dapat dimulai dari kesadaran diri sendiri di lingkungan keluarga.
“Masalahnya bukan hanya soal sistem pengelolaan yang belum memadai, melainkan juga pola konsumsi kita sehari-hari yang menghasilkan timbulan sampah dalam jumlah besar,” ujar salah satu anggota Departemen Litbang, Iptek, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup (LISDAL) DPP LDII, Siham Afatta.
Siham mengaitkan persoalan ini dengan karakter mujhid muzhid, sebuah nilai yang mengajarkan kesungguhan sekaligus kesederhanaan dalam hidup. Dalam konteks lingkungan, nilai tersebut diterjemahkan secara praktis, seperti mengurangi barang sekali pakai, menghindari pemborosan, serta mengendalikan apa yang dibeli dan dibuang.
“Semakin sedikit sampah yang lahir dari rumah kita, semakin ringan beban lingkungan. Nilai itu harus berjalan beriringan dengan kemandirian,” katanya.
Kemandirian yang dimaksud meliputi langkah konkret di tingkat rumah tangga, seperti memilah sampah, mengolah sisa makanan menjadi kompos, dan tidak sepenuhnya menggantungkan persoalan kebersihan kepada petugas atau pemerintah.
Pandangan senada datang dari Ketua Korbid LISDAL DPP LDII sekaligus ahli epidemiologi dan lingkungan dari Griffith University Australia, Dicky Budiman. Menurutnya, persoalan sampah saat ini sudah berkembang menjadi isu yang kompleks.
“Ini sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat, lingkungan, ekonomi, bahkan ketahanan bangsa,” tegasnya.
Berdasarkan data yang dipaparkan, Indonesia menghasilkan lebih dari 50 juta ton sampah setiap tahun. Sebagian besar berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA), namun tidak sedikit yang mengalir ke sungai, laut, atau dibakar di tempat terbuka.
“Kondisi tersebut tidak berkelanjutan dan berpotensi merusak lingkungan,” kata Dicky. Ia menyebut situasi ini sebagai tantangan nyata bagi kesehatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan yang berkelanjutan.
Menurutnya, terdapat tiga akar masalah utama yang perlu diselesaikan bersama, yaitu pola konsumsi berlebih, budaya barang sekali pakai yang sudah mengakar, serta kurangnya rasa tanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan sendiri.
Oleh karena itu, solusi paling efektif adalah melakukan pencegahan dan pemilahan sampah sejak dari hulu, mulai dari lingkungan rumah, sekolah, hingga tempat ibadah. Melalui pemanfaatan modal sosial yang kuat seperti gerakan gotong royong, program kampung bebas sampah, dan pembentukan bank sampah berbasis komunitas, penanganan isu lingkungan diharapkan dapat berjalan lebih optimal.
Dari sudut pandang kesehatan, pengelolaan sampah yang baik dari rumah diyakini memiliki dampak besar, terutama dalam menurunkan risiko sejumlah penyakit berbasis lingkungan seperti leptospirosis, diare, demam berdarah, hingga infeksi saluran pernapasan.
“Lingkungan yang bersih adalah hal yang harus kita siapkan untuk generasi yang akan datang. Karena itu, mengelola sampah adalah bagian dari tanggung jawab moral, sosial, dan spiritual kita bersama,” pungkasnya.














