Pesawaran (13/8). LDII Provinsi Lampung membekali peserta Camping Cinta Alam Indonesia (CAI) ke-47 Bandar Lampung Pesawaran dengan materi penguatan karakter dan kepemimpinan di Pondok Pesantren Babunnajah, Sungai Langka, Kabupaten Pesawaran, Kamis (9/7). Pembinaan tersebut bertujuan mencetak generasi yang profesional religius, berdaya saing, dan siap menjadi penerus bangsa.
Wakil Ketua DPW LDII Lampung, H. Heri Sensustadi, mengatakan kualitas suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Karena itu, pembinaan karakter harus dilakukan secara berkelanjutan sejak usia dini.
“Bangsa yang besar bukan hanya memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi juga memiliki sumber daya manusia yang berkarakter. Sejarah membuktikan banyak bangsa runtuh bukan karena miskin, melainkan karena gagal membina generasinya,” ujarnya.
Menurut Heri, Islam telah memberikan pedoman yang jelas tentang pentingnya mempersiapkan generasi penerus. Ia mengatakan pembinaan tidak cukup hanya membekali anak dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus memperkuat akidah, akhlak, dan rasa tanggung jawab.
“Rasulullah SAW telah memberi teladan bagaimana membina generasi muda hingga lahir pemimpin-pemimpin yang mampu membangun peradaban. Ini yang harus terus kita jadikan contoh,” katanya.
Ia juga mengajak peserta belajar dari negara-negara yang berhasil membangun kualitas sumber daya manusianya melalui pendidikan dan pembentukan karakter.
“Kemajuan suatu bangsa tidak dibangun dalam waktu singkat. Dibutuhkan investasi jangka panjang melalui pendidikan, disiplin, etos kerja, dan pembinaan karakter yang dilakukan secara konsisten,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris DPW LDII Lampung, Ahmat Nurdin, menegaskan pembinaan generasi harus dimulai dari lingkungan keluarga. Menurutnya, keluarga merupakan tempat pertama anak belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian.
“Keluarga adalah sekolah pertama. Keteladanan orang tua menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter anak sebelum mereka mengenal lingkungan yang lebih luas,” ujarnya.
Ia menjelaskan sekolah memiliki peran melanjutkan pembinaan yang telah dibangun di rumah. Guru, lanjutnya, tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga menjadi teladan dalam membentuk sikap dan kebiasaan peserta didik.
Ahmat juga mengingatkan pentingnya pola asuh yang mampu menyesuaikan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.
“Di era digital, orang tua tidak cukup hanya mengawasi. Mereka harus hadir sebagai pendamping, membangun komunikasi yang baik, memberikan teladan, dan menanamkan nilai agama agar anak siap menghadapi tantangan zaman,” katanya.
Menurutnya, tujuan pendidikan bukan hanya mencetak generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga melahirkan pribadi yang beriman, berakhlakul karimah, berintegritas, dan mampu memberi manfaat bagi masyarakat.
“Generasi unggul lahir dari proses pembinaan yang panjang. Ketika keluarga, sekolah, dan organisasi berjalan seiring, insyaallah akan lahir generasi profesional religius yang siap membangun bangsa,” pungkasnya.
Melalui Camping CAI ke-47, DPW LDII Lampung berharap para peserta mampu mengimplementasikan nilai-nilai 29 Karakter Luhur dalam kehidupan sehari-hari serta menjadi generasi penerus yang cinta Tanah Air, berdaya saing, dan berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.














