Fakfak (8/8). Pengurus Pengajian An-Nisa Masjid Nurul Iman Fakfak mengikuti pengajian muslimah secara daring yang diselenggarakan Departemen Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK) DPP LDII melalui Zoom Meeting, Minggu (26/7). Kegiatan tersebut diikuti ibu-ibu dan remaja putri LDII se-Tanah Papua sebagai upaya memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus pembinaan karakter.
Ketua DPD LDII Kabupaten Fakfak, Abu Thalib Rumagesan mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan rutin bagi muslimah LDII agar memiliki pemahaman agama yang benar sekaligus mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Peran muslimah sangat strategis dalam membangun keluarga yang sakinah sekaligus membina generasi penerus. Karena itu, pembinaan seperti ini penting agar para ibu memiliki bekal ilmu agama yang kuat,” ujarnya.
Pada sesi pertama, Ust. Halimatus Sa’diyah menyampaikan materi mengenai thaharah wanita berdasarkan dalil Al-Qur’an dan hadis, meliputi pembahasan haid, nifas, dan istihadhah. Menurutnya, pemahaman yang benar mengenai hukum-hukum tersebut menjadi bekal penting bagi muslimah dalam menjalankan ibadah sesuai syariat.
Sementara itu, Ust. Hj. Rizky Masyani mengajak peserta menjaga akhlak dalam kehidupan bermasyarakat maupun saat bermedia sosial. Ia menekankan pentingnya menyampaikan konten yang bermanfaat dan menghindari unggahan yang bersifat provokatif maupun bertentangan dengan nilai-nilai Islam. “Dalam bermedia sosial, gunakanlah platform digital untuk menyebarkan kebaikan, memberikan inspirasi, dan menjaga kehormatan diri. Hindari konten yang dapat menimbulkan mudarat atau menjadi dosa jariyah,” katanya.
Abu Thalib menambahkan, pembinaan muslimah memiliki peran penting dalam mewujudkan program pembinaan generasi LDII. Menurutnya, keluarga menjadi lingkungan pertama dalam menanamkan nilai-nilai keislaman kepada anak. “Ibu memiliki peran besar dalam mengawal lahirnya generasi yang alim-faqih, berakhlakul karimah, dan mandiri. Karena itu, implementasi 29 Karakter Luhur harus dimulai dari lingkungan keluarga agar lahir generasi profesional religius yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara,” tutupnya.














