Jakarta (27/8). Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, diharapkan menjadi momentum penting untuk merumuskan gagasan dan langkah strategis dalam menjawab berbagai persoalan keumatan dan kebangsaan.
Ketua Umum DPP LDII Dody Taufiq Wijaya mengatakan, kompleksitas persoalan yang dihadapi umat Islam saat ini membutuhkan respons yang komprehensif. Menurutnya, isu keagamaan kini berkaitan erat dengan perkembangan teknologi, ekonomi, politik, pendidikan, lingkungan, hingga perubahan sosial.
“Umat Islam membutuhkan agenda bersama yang tidak berhenti pada persoalan internal organisasi. Tantangan hari ini bersifat lintas sektor. Karena itu, hasil Muktamar NU sangat kami nantikan sebagai solusi persoalan kebangsaan sekaligus memperkuat kontribusi Islam bagi bangsa dan peradaban,” ujar Dody dalam keterangan pers, Kamis (27/8/2026).
Ia mengungkapkan, terdapat sejumlah isu strategis yang perlu menjadi perhatian bersama organisasi kemasyarakatan Islam. Salah satunya adalah polarisasi sosial dan menguatnya politik identitas. Perbedaan pilihan politik, menurut Dody, harus ditempatkan sebagai bagian dari demokrasi dan tidak boleh berkembang menjadi konflik sosial.
“Yang harus dijaga adalah jangan sampai perbedaan pilihan politik berubah menjadi permusuhan sosial. Islam memiliki tradisi musyawarah dan adab dalam menyikapi perbedaan,” katanya.
Untuk itu, ormas Islam dinilai perlu memperkuat pendidikan kebangsaan, literasi politik, serta budaya dialog. Ulama dan tokoh agama juga diharapkan berperan sebagai penyejuk di tengah masyarakat, terutama saat menghadapi momentum politik.
Selain itu, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) menjadi tantangan sekaligus peluang. Dody menilai teknologi dapat memperluas jangkauan pendidikan dan dakwah, namun harus diimbangi dengan peningkatan literasi digital dan penguatan akhlak.
“Dakwah tidak boleh gagap teknologi. Tetapi penguasaan teknologi harus disertai akhlak. Jangan sampai teknologi yang seharusnya menjadi sarana mencerdaskan justru digunakan untuk menyebarkan kebohongan, fitnah, dan kebencian,” ujarnya.
Menurutnya, ormas Islam dapat membangun ekosistem literasi digital dengan melibatkan ulama, akademisi, pendidik, generasi muda, dan praktisi teknologi. Pengembangan materi keislaman dalam format digital juga perlu dilakukan agar mudah diterima generasi muda tanpa mengurangi kedalaman keilmuannya.
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah ketimpangan ekonomi dan kemandirian ekonomi umat. Dody menilai besarnya jumlah umat Islam harus diiringi peningkatan kapasitas sebagai pelaku ekonomi.
“Ekonomi umat harus naik kelas. UMKM jangan hanya menjadi objek pemberdayaan, tetapi harus didorong menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional,” tuturnya.
Penguatan ekonomi tersebut dapat dilakukan melalui pendampingan UMKM, sertifikasi halal, digitalisasi usaha, akses pembiayaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pengembangan jejaring perdagangan. Industri halal, lanjut Dody, juga perlu diperluas mencakup makanan dan minuman, kosmetik, farmasi, fesyen, pariwisata, keuangan, hingga ekonomi digital.
Di bidang pendidikan, Dody menekankan pentingnya mempersiapkan generasi muda menghadapi bonus demografi. Pendidikan tidak cukup hanya membangun pengetahuan agama, tetapi juga harus membekali generasi muda dengan sains, teknologi, keterampilan kerja, kewirausahaan, kemampuan berpikir kritis, dan karakter.
“Generasi muda tidak cukup hanya dibekali pengetahuan agama. Mereka juga membutuhkan sains, teknologi, keterampilan kerja, kewirausahaan, kemampuan berpikir kritis, serta karakter yang kuat,” katanya.
Sementara itu, isu lingkungan dan perubahan iklim juga perlu mendapatkan perhatian organisasi Islam. Dody memandang persoalan seperti krisis air, sampah, degradasi lahan, dan bencana ekologis merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.
“Menjaga lingkungan bukan sekadar agenda pemerintah atau aktivis lingkungan. Ini bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi,” tegasnya.
Ia mendorong pengembangan gerakan masjid dan pesantren hijau, pengelolaan sampah berbasis masyarakat, konservasi air, penghijauan, serta edukasi mengenai pola konsumsi dan produksi berkelanjutan.
Dody berharap Muktamar ke-35 NU dapat menghasilkan keputusan yang tidak hanya menjawab persoalan internal organisasi, tetapi juga memberikan dampak luas bagi masyarakat.
“Kami berharap keputusan-keputusan yang lahir dapat memperkuat persaudaraan sesama umat Islam, menjaga persatuan Indonesia, sekaligus memberikan kontribusi terhadap perdamaian dunia dan peradaban umat manusia. Selamat bermuktamar untuk ‘saudara tua’ kami, Nahdlatul Ulama,” pungkasnya.














