Menjelang Hari Dokter Nasional 2026, kiprah dr. Rulifa Syahroel menggambarkan bagaimana profesi kedokteran dan kepemimpinan organisasi kemasyarakatan dapat berjalan beriringan dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
Pengabdian seorang dokter tidak selalu berhenti di ruang pelayanan medis. Di tengah masyarakat, pengetahuan dan pengalaman di bidang kesehatan juga dapat menjadi bekal untuk mendorong perubahan perilaku serta meningkatkan kualitas kehidupan.
Peran tersebut dijalankan oleh dr. Rulifa Syahroel, dokter di Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Batam yang juga mengemban amanah sebagai Ketua DPW Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Kepulauan Riau.
Dua tanggung jawab itu mempertemukan pelayanan kesehatan dengan pembinaan masyarakat. Melalui profesinya, Rulifa menjalankan tugas medis, sedangkan melalui LDII ia memiliki ruang untuk mendorong penguatan karakter, pendidikan, dan kepedulian sosial.
Menjelang Hari Dokter Nasional pada 24 Oktober 2026, perjalanan tersebut menjadi gambaran bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat dilakukan melalui berbagai bidang yang saling melengkapi.
Dari Ruang Praktik hingga Pengabdian Sosial
RSBP Batam merupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan rujukan di Kepulauan Riau. Keberadaannya mendukung kebutuhan layanan medis masyarakat Batam dan wilayah sekitarnya.
Sebagai dokter, Rulifa menjalankan tanggung jawab profesional dalam memberikan pelayanan kesehatan. Pengalaman di dunia medis juga menjadi bekal untuk memahami pentingnya edukasi, pencegahan penyakit, serta penerapan pola hidup sehat.
Di sisi lain, kepemimpinannya di DPW LDII Kepulauan Riau membuka ruang pengabdian melalui kegiatan pembinaan warga.
Organisasi kemasyarakatan memiliki kesempatan untuk membantu memperluas pemahaman mengenai kesehatan keluarga, kebersihan lingkungan, serta kebiasaan hidup yang mendukung produktivitas masyarakat.
Peran tersebut sejalan dengan pendekatan promotif dan preventif dalam pembangunan kesehatan. Upaya menjaga kesehatan tidak hanya bergantung pada layanan pengobatan, tetapi juga memerlukan kesadaran individu dan dukungan lingkungan sosial.
Melalui kegiatan pembinaan dan interaksi antarwarga, pesan-pesan mengenai pola hidup sehat dapat disampaikan sebagai bagian dari kepedulian terhadap kualitas kehidupan masyarakat.
Pembinaan Generasi dan Tantangan Indonesia Emas
Dalam menjalankan program organisasi, LDII Kepulauan Riau menempatkan pengembangan sumber daya manusia sebagai salah satu perhatian dalam pembinaan warga.
Pendidikan agama, pembentukan karakter, kemandirian, dan pengembangan keterampilan menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi profesional religius.
Pembinaan tersebut juga memiliki keterkaitan dengan kesehatan. Kondisi fisik yang baik membantu generasi muda menjalani pendidikan, mengembangkan kemampuan, serta berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan ekonomi.
Bagi Kepulauan Riau, kebutuhan terhadap sumber daya manusia berkualitas semakin relevan mengingat posisi geografisnya sebagai wilayah perbatasan yang memiliki aktivitas industri, perdagangan, dan hubungan internasional.
Tantangan tersebut menuntut generasi muda untuk memiliki pengetahuan, keterampilan, karakter, dan kesiapan fisik dalam menghadapi perkembangan zaman.
Karena itu, pembangunan kesehatan dan pendidikan perlu berjalan beriringan sebagai bagian dari persiapan menuju Indonesia Emas 2045.
Sinergi Profesi dan Organisasi
Kiprah Rulifa menunjukkan bahwa profesi dan tanggung jawab organisasi dapat menjadi dua ruang pengabdian yang saling mendukung.
Di rumah sakit, ia menjalankan tugas sebagai tenaga medis. Sementara melalui LDII, ia turut mengemban tanggung jawab dalam pembinaan warga dan pengembangan program kemasyarakatan.
Kedua peran tersebut memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, lembaga pendidikan, dan pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Peringatan Hari Dokter Nasional pun menjadi kesempatan untuk mengapresiasi pengabdian para dokter sekaligus mengajak berbagai elemen masyarakat untuk mengambil bagian dalam pembangunan kesehatan sesuai perannya masing-masing.
Dari Batam, perjalanan pengabdian dr. Rulifa Syahroel menghadirkan satu pesan: membangun Indonesia Emas 2045 memerlukan keterlibatan berbagai pihak, dengan kesehatan, pendidikan, dan pembentukan karakter sebagai bekal bagi generasi masa depan.














