Dua dekade berdiri di Batam, Pondok Pesantren Abdul Dhohir telah melahirkan lebih dari 100 mubaligh dan mubaligah. Dari kawasan perbatasan Indonesia, pesantren ini membina generasi muda dengan ilmu agama sekaligus menanamkan semangat hidup bermasyarakat dan berbangsa.
Batam menjadi salah satu pintu Indonesia yang berhadapan langsung dengan dunia luar. Kota industri itu tumbuh bersama derasnya mobilitas manusia, informasi, dan budaya. Di tengah dinamika tersebut, sebuah pesantren di kawasan Patam Lestari, Sekupang, memilih jalan yang relatif sunyi: membina generasi muda melalui pendidikan agama.
Namanya Pondok Pesantren Abdul Dhohir.
Lebih dari dua dekade, pesantren binaan LDII Kepulauan Riau itu menjalankan pembinaan santri di Kota Batam. Dari ruang-ruang belajar sederhana, para santri mendalami Al-Qur’an dan Hadis, belajar beribadah, membangun kedisiplinan, serta mempersiapkan diri untuk mengabdi di tengah masyarakat.
Waktu kemudian mencatat perjalanan itu. Hingga kini, lebih dari 100 mubaligh-mubaligah telah menyelesaikan pembinaan di Ponpes Abdul Dhohir.
Mereka kemudian kembali ke tengah masyarakat dengan medan pengabdian yang berbeda-beda. Ada yang membina pengajian, mendampingi generasi muda, mengajarkan ilmu agama, hingga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial di lingkungannya.
Bagi Ketua Ponpes Abdul Dhohir sekaligus Dewan Penasihat LDII Kepulauan Riau, Abdul Arif, keberadaan para alumni tersebut menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan pesantren.
Mubaligh, menurutnya, tidak cukup hanya mampu menyampaikan materi agama. Mereka juga perlu memiliki akhlak yang baik, mampu hidup berdampingan dengan masyarakat, serta memahami tanggung jawabnya sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Pesantren di Beranda Indonesia
Letak Batam memberikan warna tersendiri bagi proses pendidikan di Ponpes Abdul Dhohir.
Kepulauan Riau berada di kawasan yang berbatasan dengan sejumlah negara tetangga. Interaksi masyarakat dengan berbagai latar belakang budaya dan kehidupan sosial menjadi bagian keseharian.
Bagi pesantren, kondisi tersebut menghadirkan tantangan sekaligus ruang pembelajaran.
Santri tidak hanya dipersiapkan agar memiliki pemahaman agama, tetapi juga mampu membawa nilai agama dalam kehidupan masyarakat yang majemuk. Kerukunan, kemampuan berkomunikasi, kepedulian sosial, dan sikap menghargai orang lain menjadi bagian yang perlu tumbuh bersama dengan kemampuan memahami ilmu agama.
Di titik inilah perjalanan Ponpes Abdul Dhohir bertemu dengan semangat Sumpah Pemuda.
Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang menyatakan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. Hampir satu abad kemudian, tantangan yang dihadapi generasi muda tentu berbeda.
Mereka tidak lagi menghadapi situasi yang sama dengan pemuda pada masa pergerakan nasional. Generasi hari ini tumbuh di tengah perkembangan teknologi, keterbukaan informasi, perubahan pola pergaulan, hingga derasnya pengaruh budaya global.
Namun, kebutuhan untuk menjaga persatuan tetap sama.
Dari Santri Menjadi Mubaligh
Proses menjadi mubaligh tidak berlangsung dalam waktu singkat.
Santri harus mengikuti pembelajaran agama, membangun kebiasaan disiplin, serta belajar menyampaikan ilmu kepada orang lain. Mereka juga dituntut memahami bahwa berdakwah bukan sebatas berbicara di depan mimbar.
Ketika kembali ke masyarakat, kemampuan berinteraksi justru menjadi salah satu bekal terpenting.
Seorang mubaligh dapat berhadapan dengan anak-anak, remaja, orang tua, maupun masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Karena itu, ilmu agama perlu berjalan bersama kesabaran, keteladanan, dan kemampuan membaca keadaan.
Dari proses itulah Ponpes Abdul Dhohir secara bertahap melahirkan lebih dari 100 mubaligh dan mubaligah.
Angka tersebut bukan sekadar statistik kelulusan. Di belakangnya terdapat perjalanan para santri yang datang, belajar, dibina, kemudian kembali membawa ilmu ke lingkungan masing-masing.
Ada estafet pembinaan yang terus berjalan.
Santri hari ini belajar dari para pendahulunya. Kelak, sebagian dari mereka akan berdiri di hadapan generasi berikutnya untuk melakukan hal yang sama.
Menjaga Agama, Merawat Kebangsaan
Di lingkungan pesantren, pendidikan agama dan wawasan kebangsaan tidak harus berjalan pada dua jalur yang berlawanan.
Santri dapat mendalami Al-Qur’an dan Hadis sekaligus tumbuh menjadi warga negara yang memahami pentingnya menjaga persatuan.
Semangat tersebut sejalan dengan pembinaan LDII yang menempatkan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai bagian dari wawasan kebangsaan.
Bagi Abdul Arif, generasi muda perlu memahami bahwa kehidupan beragama juga menuntut kemampuan hidup berdampingan, menjaga lingkungan, serta memberikan manfaat di tengah masyarakat.
Nilai itulah yang berusaha diterapkan dalam pembinaan santri.
Di ruang belajar, mereka mendalami agama. Di luar ruang belajar, mereka belajar berorganisasi, bekerja sama, menghormati sesama, dan mengambil tanggung jawab.
Dengan cara tersebut, nasionalisme tidak berhenti sebagai slogan. Ia hadir melalui kebiasaan menjaga kerukunan dan mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.
Nyala dari Sekupang
Dua puluh tahun lebih tentu belum menjadi akhir perjalanan.
Perubahan zaman justru membuat tantangan pendidikan generasi muda semakin kompleks. Pesantren harus mampu mempertahankan tradisi pembelajaran agama sembari memahami perkembangan masyarakat tempat para santrinya kelak mengabdi.
Ponpes Abdul Dhohir berada di tengah tantangan tersebut.
Dari Sekupang, pembinaan terus berjalan. Santri datang dan pergi. Sebagian kemudian menjadi mubaligh dan mubaligah. Mereka tersebar membawa ilmu yang diperoleh selama berada di pesantren.
Menjelang hampir satu abad Sumpah Pemuda, perjalanan itu menghadirkan satu refleksi sederhana: persatuan bangsa tidak hanya dijaga melalui pidato dan seremoni.
Ia juga dirawat dari ruang-ruang kecil tempat generasi muda belajar memahami siapa dirinya, agamanya, masyarakatnya, dan negaranya.
Dari sebuah pesantren di Batam, estafet itu terus berlangsung.
Dari Sekupang, nyala itu tetap dijaga.














