Oleh Ust. Tommy Sutomo
Mengapa kita bersedih atau berbahagia berlebihan menanggapi suatu peristiwa. Sebagai orang yang beriman, kita tidak boleh membuka ruang untuk euforia atau berlebihan dalam menanggapi peristiwa. Dalam Shahih Muslim diterangkan:
كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Allah telah mencatat takdir seluruh makhluk 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim No. 2653, dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash)
Ust. Tommy Sutomo dalam Oase Hikmah LDII TV menjelaskan bahwa sebagai orang beriman, kita wajib meyakini bahwa seluruh qadar telah Allah tetapkan jauh sebelum langit dan bumi diciptakan. Inilah pondasi keimanan. Apa pun yang terjadi dalam hidup ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari ketetapan-Nya.
Jika qadar bisa diubah dengan doa, maka itu pun sudah dalam ketetapan Allah. Adapun sesuatu yang telah terjadi, itulah takdir Allah yang wajib kita yakini, imani, dan terima dengan penuh kepercayaan kepada-Nya. Dalam kehidupan ini, setidaknya ada empat maqadirullah yang pasti kita hadapi.
1. Ketika Ditakdirkan Mendapat Nikmat
Jika Allah mentakdirkan kita memperoleh nikmat, maka kewajiban kita adalah bersyukur.
Allah berfirman:
كُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِلَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّيدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)
Hakikat syukur bukan sekadar ucapan “alhamdulillah”, tetapi menggunakan seluruh nikmat untuk menggapai ridha Allah. Nikmat sehat, apakah sudah kita gunakan untuk ibadah? Nikmat akal dan pikiran, apakah sudah kita arahkan untuk kebaikan? Nikmat harta, apakah sudah kita gunakan di jalan yang diridhai Allah? Rasulullah SAW memberi teladan luar biasa. Beliau shalat malam hingga kedua telapak kakinya bengkak. Ketika ditanya, bukankah dosa beliau telah diampuni, beliau menjawab:
أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur?”
Inilah wujud syukur yang sesungguhnya: semangat dalam ibadah, semangat dalam kebaikan, dan semangat dalam menjalani kehidupan. Tidak ada istilah bersyukur tetapi malas. Justru orang yang bersyukur semakin bersemangat.
2. Ketika Ditakdirkan Mendapat Musibah
Allah berfirman:
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ
“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’.” (QS. Al-Baqarah: 156)
Ust. Tommy Sutomo menegaskan, realisasi istirja’ bukan hanya di lisan, tetapi juga di hati dan sikap. Membiasakan diri mengucapkan kalimat tersebut ketika tertimpa musibah. Menghindari keluhan, cercaan, dan kata-kata yang tidak bermanfaat.
Yakinlah bahwa pengganti dari Allah pasti lebih baik. Jangan meluapkan emosi dengan kata-kata kasar. Seorang mukmin menjaga lisannya, menjaga hatinya, dan menjaga keyakinannya.
3. Ketika Ditakdirkan Mendapat Ujian
Allah berfirman:
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)
Ujian adalah bukti cinta Allah sekaligus sarana pembuktian kejujuran iman. Praktik sabar bukan berarti tidak sedih, tetapi tetap menampakkan sikap tenang dan tidak berlebihan, terutama di hadapan kedua orang tua. Tetap husnuzan billah, berprasangka baik kepada Allah.
Ingatlah satu prinsip penting: Ini akan berlalu. Tidak ada ujian yang abadi. Semakin besar ujian, semakin besar pula pahala yang Allah siapkan. Jangan membiasakan diri mengeluh, apalagi menyimpan dendam. Kesabaran adalah kemuliaan akhlak orang beriman.
4. Ketika Ditakdirkan Berbuat Salah
Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan.
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang mau bertaubat.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Yang membedakan seorang mukmin bukan pada ada atau tidaknya kesalahan, tetapi pada kesigapan untuk bertobat.
Menyesali kesalahan, bertekad tidak mengulanginya, meminta maaf, dan meminta ridha terutama kepada orang tua. Tidak gengsi mengakui kesalahan. Membiasakan membaca istighfar:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
“Aku memohon ampun kepada Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus (makhluk-Nya), dan aku bertaubat kepada-Nya.”
Kemudian meningkatkan kualitas ibadah. Ibadah wajib ditertibkan, ibadah sunnah ditingkatkan. Bersyukur ketika masih ada yang menasihati. Jangan sampai membuat orang enggan mengingatkan kita. Karena orang beriman saling menguatkan dalam kebaikan.
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan memberinya ujian.” (HR. Bukhari)
Nasihat dan ujian hakikatnya adalah bentuk kebaikan dari Allah. Semoga kita mampu memahami dan mempraktikkan empat maqadirullah ini dalam kehidupan sehari-hari: ketika mendapat nikmat kita bersyukur, ketika mendapat musibah kita ber-istirja’, ketika mendapat ujian kita bersabar, dan ketika berbuat salah kita segera bertobat.
Semoga Allah menjaga keimanan kita, memuliakan hidup kita di dunia, dan mengumpulkan kita kelak dalam surga-Nya. (inggri)
Lihat juga: https://www.youtube.com/live/s8TmuBk3C9Q?si=ckgykScoOr78EhqX








