PALING UPDATE
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Home Nasehat

Keseimbangan

in Nasehat
396
0
Keseimbangan

Ilustrasi: istock.

550
SHARES
2.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan

Adakah praktik spiritual yang sederhana namun mendalam? Tentu ada. Tersenyum adalah jawabnya. Terutama karena senyuman jauh lebih dalam dari sekadar dua bibir lentur, melengkung dan mengembang. Ia adalah tanda jiwa sedang membuka pintunya. Tatkala seseorang tersenyum, cengkeraman pikiran yang penuh penghakiman menjadi longgar. Wajah melembut, tubuh relaks, dan hati belajar mekar. Sebuah senyuman bukan sekadar memberi kedamaian kepada orang lain, melainkan juga mengirimkan aura penyembuhan ke dalam diri sendiri. Seperti bunga yang mekar tanpa suara, senyum mengajarkan bahwa kebaikan terdalam sering lahir dari hal-hal kecil yang nyaris tak terdengar. Senyum adalah wujud kerendahan hati, penerimaan, dan cinta kasih kepada sesama. Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

مَا حَجَبَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مُنْذُ أَسْلَمْتُ، وَلَا رَآنِي إِلَّا تَبَسَّمَ فِي وَجْهِي

“Sejak aku masuk Islam, Rasulullah ﷺ tidak pernah menghalangi aku untuk menemuinya. Dan setiap kali beliau melihatku, pasti beliau tersenyum kepadaku.” (HR. al-Bukhari no. 3035, Muslim no. 2475)

Adakah obat kesembuhan jiwa yang sederhana namun mendalam? Jawabannya ada, yaitu menerima hidup apa adanya. Kehidupan bergerak dalam putaran nasib: kadang manis, kadang getir. Ada masa kita berada di atas, ada kala kita jatuh di bawah. Semua putaran itu bukan kebetulan yang terpisah, melainkan bagian dari tarian kesempurnaan yang sama. Pikiran manusia terlalu kecil untuk bisa memahami mengapa kesedihan dan kebahagiaan harus bergantian. Namun, ketika kita berhenti melawan dan mulai berdekapan dengan hidup sebagaimana adanya, wajah kehidupan tiba-tiba berubah. Yang tadinya tampak sebagai luka, perlahan menjadi puisi indah kedamaian. Menerima hidup bukan berarti menyerah, melainkan menari bersama arus, sembari percaya bahwa setiap ayunan membawa hikmah.
Allah ﷻ berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“Tidak ada suatu musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghābun: 11)

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Dan jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Barangsiapa ridha, maka baginya keridhaan Allah. Barangsiapa murka, maka baginya kemurkaan Allah.” (HR. at-Tirmidzi no. 2396, dinyatakan hasan)

Adakah bentuk pelayanan spiritual yang sederhana namun mendalam? Jawabannya adalah mendengarkan dengan empati. Di zaman ini banyak jiwa yang haus didengarkan. Sebagian besar orang ingin berbicara, ingin didengar, ingin melepaskan “sampah batin” yang menumpuk. Namun, jarang yang mau sungguh-sungguh mendengarkan. Padahal, ketika kita belajar mendengarkan dengan hati, kita sedang menanam benih cinta. Mungkin yang keluar dari orang lain adalah keluh kesah, amarah, atau kesedihan. Itu tampak seperti sampah. Tetapi bila kita sabar menampungnya, suatu hari sampah itu akan berubah menjadi bunga. Dan bunga pertama yang mekar bukan di hati orang yang kita dengarkan, melainkan di hati kita sendiri. Mendengarkan adalah pelayanan, sekaligus penyembuhan.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ:كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا اسْتَقْبَلَهُ الرَّجُلُ فَصَافَحَهُ لَا يَنْزِعُ يَدَهُ مِنْ يَدِهِ حَتَّى يَكُونَ الرَّجُلُ هُوَ الَّذِي يَنْزِعُ، وَلَا يَصْرِفُ وَجْهَهُ عَنْهُ حَتَّى يَكُونَ الرَّجُلُ هُوَ الَّذِي يَصْرِفُهُ، وَلَمْ يُرَ مُقَدِّمًا رُكْبَتَيْهِ بَيْنَ يَدَيْ جَلِيسٍ لَهُ.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ketika ada seseorang yang berbicara kepada Rasulullah ﷺ, beliau menghadapkan wajah dan seluruh tubuhnya kepada orang itu, hingga orang tersebut merasa dialah satu-satunya yang diperhatikan.” (HR. at-Tirmidzi no. 3640, dinyatakan hasan)

Adakah tanda sederhana bahwa jiwa sudah melangkah pulang, kembali tercerahkan? Pasti ada. Tandanya bukan pada cahaya yang memancar dari wajah, bukan pula pada gelar kerohanian yang disandang. Tanda itu tampak dalam sikap sederhana: melihat masa lalu sebagai pelajaran, bukan penyesalan. Menyambut masa depan sebagai harapan, bukan kecemasan. Dan yang paling utama, jiwa tercerahkan hidup penuh dengan kekinian. Menyatu dengan saat ini tanpa terlalu bernafsu ingin menjadi lebih begini atau lebih begitu. Ia menemukan rumah jiwa yang dekat, sedekat tarikan nafas. Tidak sombong ketika di atas, tidak larut dalam kesedihan ketika di bawah. Inilah kesederhanaan kehidupan yang memancarkan cahaya kesejatian. Allah ﷻ berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ . لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ

“Tidak ada suatu musibah yang menimpa di bumi dan pada dirimu kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. (Kami jelaskan) agar kalian tidak bersedih hati atas apa yang luput dari kalian, dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan kepada kalian.” (QS. Al-Ḥadīd: 22–23)

Kesederhanaan spiritual bukan hanya gagasan abstrak. Ia pernah hadir nyata dalam kehidupan para sahabat Nabi ﷺ. Salah satu kisah yang indah adalah persaudaraan antara Salman al-Farisi dan Abu Darda’ sebagaimana diriwayatkan dalam hadits berikut. Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata,

آخَى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بَيْنَ سَلْمَانَ ، وَأَبِى الدَّرْدَاءِ ، فَزَارَ سَلْمَانُ أَبَا الدَّرْدَاءِ ، فَرَأَى أُمَّ الدَّرْدَاءِ مُتَبَذِّلَةً . فَقَالَ لَهَا مَا شَأْنُكِ قَالَتْ أَخُوكَ أَبُو الدَّرْدَاءِ لَيْسَ لَهُ حَاجَةٌ فِى الدُّنْيَا . فَجَاءَ أَبُو الدَّرْدَاءِ ، فَصَنَعَ لَهُ طَعَامًا . فَقَالَ كُلْ . قَالَ فَإِنِّى صَائِمٌ . قَالَ مَا أَنَا بِآكِلٍ حَتَّى تَأْكُلَ . قَالَ فَأَكَلَ . فَلَمَّا كَانَ اللَّيْلُ ذَهَبَ أَبُو الدَّرْدَاءِ يَقُومُ . قَالَ نَمْ . فَنَامَ ، ثُمَّ ذَهَبَ يَقُومُ . فَقَالَ نَمْ . فَلَمَّا كَانَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ قَالَ سَلْمَانُ قُمِ الآنَ . فَصَلَّيَا ، فَقَالَ لَهُ سَلْمَانُ إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ . فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « صَدَقَ سَلْمَانُ»

“Nabi ﷺ mempersaudarakan Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) mengenakan pakaian yang kusut. Salman bertanya padanya, “Mengapa keadaanmu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.” Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali. Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman berkata lagi padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.“ Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi ﷺ lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Nabi bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari).

Kisah ini memperlihatkan wajah lain dari spiritualitas yang mendalam namun sederhana: keseimbangan. Abu Darda’ ingin tenggelam sepenuhnya dalam ibadah, tetapi Salman mengingatkan bahwa hak tubuh, hak keluarga, dan hak Allah harus ditempatkan secara proporsional.

Pesan Salman Alfarisi senada dengan tiga praktik spiritual sederhana tadi. Senyum adalah keseimbangan tubuh dan jiwa, relaksasi yang memancar keluar dan masuk ke dalam. Menerima hidup adalah keseimbangan antara nasib baik dan buruk, antara suka dan duka. Mendengarkan dengan empati adalah keseimbangan antara memberi ruang pada orang lain dan merawat bunga hati sendiri. Dalam keseimbangan, jiwa tidak lagi terbebani oleh ekstremitas: tidak berlebihan dalam ibadah hingga melupakan tubuh, tidak berlebihan dalam dunia hingga melupakan akhirat. Di sanalah letak kesederhanaan yang sejati, yang mendalam, yang menyembuhkan.

Kadang manusia mencari spiritualitas dalam ritual yang panjang, doa-doa yang sulit, atau perjalanan jauh ke tempat sunyi. Padahal, kedalaman spiritual bisa ditemukan dalam hal-hal yang sederhana: senyuman yang tulus, penerimaan hidup apa adanya, telinga yang mau mendengarkan, dan hati yang selalu mencari keseimbangan dan kesyukuran. Seperti pesan Salman kepada Abu Darda’, dan pengakuan Rasulullah ﷺ yang bersabda; “Salman benar,” spiritualitas sejati bukanlah lari dari dunia, melainkan menghadirinya dengan penuh keseimbangan. Saat itulah, hidup kita pelan-pelan berubah menjadi puisi indah kedamaian.

Related Posts

Nasehat Seorang Ayah Kepada Anaknya
Headline

Nasehat Seorang Ayah Kepada Anaknya

by admin
March 17, 2026
0

Oleh Ust. Tommy Sutomo Di dalam Islam, ada sosok Ayah yang menjadi panutan bagi umat muslim dalam menasehati anaknya. Sosok Ayah tersebut...

Read more
Nasehat untuk Anak
Nasehat

Nasehat untuk Anak

by admin
March 14, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah* Nak, orang tuamu adalah akar yang tersembunyi di dalam tanah yang gelap dan sunyi, agar engkau menjadi dahan yang...

Read more
Nasehat untuk Orang Tua
Nasehat

Nasehat untuk Orang Tua

by admin
March 14, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah* Wahai para orang tua, anak-anakmu bukanlah milikmu. Mereka datang melaluimu, tetapi bukan darimu. Dan meskipun mereka bersamamu, mereka bukan...

Read more
Walimah Pernikahan dalam Islam: Sederhana, Sesuai Kemampuan, dan Penuh Keberkahan
Headline

Walimah Pernikahan dalam Islam: Sederhana, Sesuai Kemampuan, dan Penuh Keberkahan

by admin
March 10, 2026
0

Oleh Aceng Karimullah Salah satu pertimbangan yang sering muncul bagi para pemuda dan pemudi yang belum menikah adalah persoalan biaya resepsi pernikahan....

Read more
Nasehat untuk Para Suami
Nasehat

Nasehat untuk Para Suami

by admin
March 10, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah Menjadi suami bukanlah tentang menjadi tuan di atas singgasana. Terlena tanpa beban. Ingat, setelah menikah status baru menantimu. Allah...

Read more
Nasehat untuk Para Istri
Nasehat

Nasehat untuk Para Istri

by admin
March 10, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah* Dalam rumah tangga, istri bukan sekadar penghuni dinding batu, melainkan roh yang menghidupkan setiap sudutnya. Ketaatan kepada suami bukanlah bentuk...

Read more

Trending

Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas Ramadan, LDII Kabupaten Bandung Hadiri Bukber Polresta
Lintas Daerah

Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas Ramadan, LDII Kabupaten Bandung Hadiri Bukber Polresta

9 hours ago
Tiga Ormas Islam di Jombang Jalin Ukhuwah Islamiyah dengan Safari Ramadan
Lintas Daerah

Tiga Ormas Islam di Jombang Jalin Ukhuwah Islamiyah dengan Safari Ramadan

10 hours ago
Bawa Hidangan dalam Rantang, Wali Kota Mojokerto Buka Puasa Bersama Warga LDII
Lintas Daerah

Bawa Hidangan dalam Rantang, Wali Kota Mojokerto Buka Puasa Bersama Warga LDII

10 hours ago
Ratusan Warga LDII Semarang Meriahkan Tarawih Keliling di Rumah Dinas Wali Kota
Lintas Daerah

Ratusan Warga LDII Semarang Meriahkan Tarawih Keliling di Rumah Dinas Wali Kota

10 hours ago
LDII Lampung Helat Itikaf Bersama di 603 Masjid dan 21 Pesantren se-Lampung
Lintas Daerah

LDII Lampung Helat Itikaf Bersama di 603 Masjid dan 21 Pesantren se-Lampung

10 hours ago
Nuansa Persada

Majalah Resmi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Hubungi kami untuk layanan iklan online: marketing@nuansaonline.com

Follow Us

Recent News

Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas Ramadan, LDII Kabupaten Bandung Hadiri Bukber Polresta

Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas Ramadan, LDII Kabupaten Bandung Hadiri Bukber Polresta

March 17, 2026
Tiga Ormas Islam di Jombang Jalin Ukhuwah Islamiyah dengan Safari Ramadan

Tiga Ormas Islam di Jombang Jalin Ukhuwah Islamiyah dengan Safari Ramadan

March 17, 2026

ARSIP

  • Iklan
  • Privacy & Policy

© 2021 - Designed by GenerusMedia

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Energi
  • Fa Aina Tadzhabun
  • Iptek
  • Apa Siapa
  • Digital
  • Hukum
  • Jejak Islam
  • Kesehatan
  • Kisah Teladan
  • Laporan
  • Lentera Hati
  • Liputan Khusus
  • Lintas Daerah
  • Resonansi
  • Olah Raga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Remaja
  • Siraman Rohani
  • Khutbah (PDF)
    • Khutbah Jumat Bahasa Arab
    • Idul Fitri Bahasa Arab
    • Idul Fitri (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (ust. Imam Rusdi)
    • Idul Adha (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (Kediri 2017)

© 2021 - Designed by GenerusMedia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In