Lamongan (13/8). PC LDII Kecamatan Babat menggelar Pengajian Sarimbit bertajuk “Sehidup Sesurga” di Masjid Baitul Firdaus, Babat, Lamongan, (26/7). Kegiatan yang diikuti ratusan pasangan suami istri tersebut membahas komunikasi dan psikologi pernikahan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan keluarga.
Pengajian menghadirkan pasangan suami istri Rio Azadi dan Sovia Sahid, yang juga merupakan pengurus DPW LDII Jawa Timur, sebagai pemateri. Keduanya membahas keharmonisan rumah tangga dari perspektif ajaran Islam dan psikologi keluarga.
Rio mengatakan komunikasi menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun hubungan suami istri. Menurutnya, sejumlah konsep komunikasi yang berkembang saat ini memiliki kesesuaian dengan keteladanan Rasulullah SAW dalam memperlakukan keluarga. “Konsep komunikasi dalam rumah tangga yang berkembang saat ini sejatinya telah diajarkan dalam Islam melalui keteladanan Rasulullah SAW. Tinggal bagaimana kita memahami dan menerapkannya dalam kehidupan keluarga,” ujar Rio yang juga dokter spesialis penyakit dalam itu.
Ia menjelaskan, perbedaan karakter antara suami dan istri merupakan bagian dari kehidupan yang seharusnya saling melengkapi. Karena itu, pasangan perlu mengingat kembali tujuan pernikahan sebagai ibadah ketika menghadapi persoalan rumah tangga. “Jangan menjadikan perbedaan karakter sebagai alasan untuk saling menyalahkan. Ketika muncul persoalan, kembali ingat bahwa pernikahan adalah bagian dari ibadah. Dari sana kita belajar untuk saling memahami dan melengkapi,” katanya.
Sementara itu, Sovia Sahid mengatakan masalah komunikasi menjadi salah satu persoalan yang banyak muncul dalam rumah tangga. Ia menjelaskan, pasangan perlu memahami perbedaan cara berkomunikasi agar tidak mudah terjadi kesalahpahaman. “Kita tau bahwa menikah itu menyatukan dua insan, dan paling banyaknya waktu yang kita lewati bersama adalah berkomunikasi, sehingga terakdang ini juga menjadi kunci keharmonisan dalam rumah tangga,” katanya
Menurut Sovia, perjalanan pernikahan umumnya melalui lima fase, yakni bulan madu, kekecewaan, kesadaran, perubahan, dan cinta sejati. Setiap fase membutuhkan kemampuan pasangan untuk beradaptasi dan menjaga komunikasi. “Suami dan istri tidak selalu memiliki cara yang sama dalam menghadapi persoalan. Perempuan umumnya membutuhkan ruang untuk didengar, sedangkan laki-laki cenderung ingin segera mencari solusi. Perbedaan ini harus dipahami agar tidak berkembang menjadi konflik,” tuturnya.
Sovia juga mengenalkan konsep “tangki cinta” melalui apresiasi, waktu berkualitas, sentuhan fisik, tindakan pelayanan, dan perhatian sederhana kepada pasangan. “Jika kita membayangkan sebuah tangki bahan bakar, jika ia kering maka bisa menjadi penghambat melajunya sebuah kendaraan, begitupun dengan tangki cinta, ia perlu terus di isi melalui kebiasan menyenangkan hati pasangan,” jelas Pemilik Klinik Motiva Konsulting itu.
Ketua PC LDII Babat, Sumarlin, mengatakan keluarga harmonis menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun masyarakat yang kuat. Menurutnya, kondisi rumah tangga juga berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak dan kehidupan sosial di lingkungan masyarakat. “Keluarga yang harmonis adalah kunci utama terbentuknya masyarakat yang kuat serta anak-anak yang bahagia. Karena itu, pembinaan keluarga perlu terus dilakukan dan tidak berhenti setelah pasangan melangsungkan pernikahan,” ujarnya.














