PALING UPDATE
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Mari Berpikir Radikal Tentang Shodaqoh Ekologis: Amal Baru untuk Menyelamatkan Bumi

in Uncategorized
387
0
Mari Berpikir Radikal Tentang Shodaqoh Ekologis: Amal Baru untuk Menyelamatkan Bumi

Ilustrasi Shodaqoh Ekologis.

549
SHARES
2.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Sudarsono*

“Bumi kita sedang tidak baik-baik saja, bukan hanya karena takdir, tapi karena ulah manusia yang rakus dan abai. Jika shodaqoh biasanya kita pahami sebagai memberi kepada sesama, kini saatnya kita meluaskannya: beramal untuk alam yang terus memberi tanpa pernah menagih. Shodaqoh ekologis adalah panggilan generasi muda—amal jariyah yang bukan hanya menyelamatkan bumi, tapi juga menyelamatkan masa depan kita sendiri.”

Kita hidup di era yang penuh paradoks. Di satu sisi, teknologi berkembang pesat, gaya hidup semakin modern, dan akses informasi terbuka lebar. Namun di sisi lain, bumi kita semakin sesak oleh polusi, hutan digunduli tanpa ampun, sungai berubah jadi tempat sampah raksasa, dan udara yang kita hirup makin tipis kualitasnya. Generasi muda hari ini bukan hanya mewarisi smartphone dan startup, tetapi juga krisis iklim yang nyata.

Di tengah kegelisahan itu, muncul gagasan segar: shodaqoh ekologis. Sebuah istilah yang mungkin belum populer, tetapi punya potensi besar untuk mengubah cara kita beramal. Shodaqoh atau sedekah biasanya kita pahami sebagai memberi uang atau makanan kepada orang yang membutuhkan. Tapi bagaimana jika shodaqoh juga berarti memberi kehidupan kepada bumi? Menanam pohon, membersihkan sungai, mendukung energi terbarukan—semua itu bisa jadi bentuk shodaqoh.

Konsep ini bukan sekadar tren hijau. Ia adalah panggilan spiritual sekaligus aksi nyata. Shodaqoh ekologis mengajak kita untuk melihat Bumi — planet kita — sebagai penerima amal, bukan sekadar latar tempat kita hidup.

Landasan Filosofis dan Teologis

Islam sejak awal menempatkan manusia sebagai khalifah di bumi. Dalam Al Quran, Allah berfirman: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. Al Baqarah: 30). Khalifah bukan sekadar pemimpin, tetapi penjaga, pengelola, dan pelindung.

Hadis Nabi juga menegaskan: “Jika Kiamat telah terjadi sementara di tangan salah seorang dari kalian ada bibit kurma, maka jika ia mampu menanamnya sebelum Kiamat benar-benar terjadi, hendaklah ia menanamnya.” (diriwayatkan oleh Ahmad). Pesan ini sederhana tapi radikal: bahkan di ujung dunia, Rasulullah tetap perintah menanam pohon.

Shodaqoh ekologis lahir dari semangat ini. Ia menegaskan bahwa amal tidak berhenti pada manusia, tetapi meluas ke seluruh ciptaan. Menyiram tanaman, menjaga hewan, mengurangi sampah plastik—semua itu bisa jadi shodaqoh ekologis.

Konsep Shodaqoh Ekologis

Shodaqoh ekologis adalah amal yang ditujukan untuk menjaga, merawat, dan memulihkan ekosistem. Bentuknya bisa beragam, antara lain:

  • Menanam pohon: setiap pohon yang kita tanam dan pelihara hingga hidup secara berkelanjutan, adalah tabungan oksigen yang kita shodaqohkan untuk alam dan lingkungan.
  • Membersihkan sungai dan pantai: air bersih adalah hak semua makhluk. Dengan membersihkan sungai dan pantai, kita shodaqoh menjaga air tetap bersih agar semua makhluq dapat memanfaatkannya.
  • Mendukung energi terbarukan: listrik dari matahari adalah cahaya masa depan. Jika sebagian kebutuhan enerji danlListrik kita dapat dibangkitkan dari energi terbarukan maka kita telah melakukan shodaqoh ekologis dengan mengurangi emisi gas rumah kaca.
  • Kelola sampah di rumah: Sampah rumah tangga tertangani di rumah masing-masing sehingga tidak perlu membanjiri TPA, sebagai shodaqoh ekologis mengurangi masalah sampah. Sampah organik ditangani dengan biokonversi menggunakan maggot Black Soldier Fly (BSF) atau dijadikan kompos. Sebagian sampah anorganik didaur ulang, dan yang tidak bisa dikelola baru dikirim ke TPA.
  • Donasi untuk konservasi hutan dan satwa: menjaga harimau, gajah, atau burung langka adalah shodaqoh ekologis untuk menjaga keseimbangan alam. Konservasi hutan menjadi ladang shodaqoh ekologis yang masih terbuka lebar implementasinya.
  • Dan bentuk-bentuk shodaqoh ekologis lainnya.

Perbedaannya jelas dengan shodaqoh selama ini kita praktekkan. Jika shodaqoh yang kita praktekkan fokus pada kebutuhan agama dan manusia, shodaqoh ekologis fokus pada keberlanjutan ekosistem. Namun keduanya tetap beririsan: lingkungan yang sehat pada akhirnya juga menyehatkan manusia.

Urgensi di Era Krisis Lingkungan

Mari kita bicara fakta. Indonesia kehilangan sekitar 650 ribu hektar hutan setiap tahun. Polusi udara di kota besar sudah melewati ambang aman WHO. Sungai-sungai besar tercemar limbah industri dan rumah tangga. Krisis air bersih berpotensi mengancam jutaan orang.

Dampaknya nyata: banjir makin sering, tanah longsor jadi rutinitas, penyakit pernapasan meningkat, dan ketahanan pangan terguncang. Jika tidak terkelola, generasi muda akan jadi korban paling lama dari krisis ini.

Di sinilah relevansi shodaqoh ekologis. Ia bukan sekadar amal tambahan, tetapi jawaban atas kebutuhan zaman. Dengan menjadikan aksi ekologis sebagai ibadah, kita memberi makna spiritual pada gerakan lingkungan. Amal jadi lebih kontekstual, lebih membumi, dan lebih relevan.

Implementasi Praktis

Shodaqoh ekologis bukan konsep abstrak. Ia bisa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai ilustrasi

  • Peran individu:
    • Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
    • Memilih transportasi ramah lingkungan.
    • Menanam pohon di halaman rumah atau sekolah.
  • Peran komunitas:
    • Masjid bisa jadi pusat gerakan hijau: program Jumat bersih, bank sampah, taman masjid.
    • Pesantren bisa jadi laboratorium ekologi: menambah pengajaran kepada para santri tentang wawasan lingkungan, misalnya melalui praktek pertanian organik dan implementasi energi terbarukan.
  • Peran negara:
    • Kebijakan mendukung gerakan shodaqoh ekologis: insentif bagi komunitas hijau, regulasi ketat terhadap pencemar lingkungan.
    • Kolaborasi dengan NGO dan gerakan anak muda.

Bayangkan jika setiap jamaah masjid di seluruh Indonesia menanam 100 pohon setiap tahun, sebagai bentuk shodaqoh ekologis maka dalam 10 tahun, jutaan pohon baru akan tumbuh. Itu bukan utopia, itu matematika sederhana.

Tantangan dan Solusi

Tentu ada tantangan. Kesadaran ekologis masih rendah. Banyak orang menganggap isu lingkungan hanya urusan aktivis. Dukungan kebijakan juga sering lemah, kalah oleh kepentingan ekonomi jangka pendek.

Solusinya? Edukasi berbasis agama melalui dakwah ekologis. Ceramah sehabis sholat Ju’mat dapat diselipkan pesan-pesan tentang pentingnya menjaga bumi. Kurikulum pesantren bisa memasukkan ekologi sebagai bagian dari fiqh. Generasi muda bisa jadi motor penggerak dengan gaya kampanye kreatif di media sosial.

Shodaqoh Ekologis LDII sebagai Lesson Learned

LDII telah memberikan contoh nyata shodaqoh ekologis yang diimplementasikan hingga akar rumput. Sebagai contoh kasus di tingkat Pengurus Cabang (PC) LDII Kapanewon (Kecamatan) Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, secara konsisten telah memulai aksi pilah sampah di setiap rumah warga, dan masjid yang dikelola LDII dijadikan basis koordinasi dan pengumpulan sampah terpilah melalui shodaqoh sampah. Sampah yang masih mempunyai nilai bisa dijual ke pengepul.

PC LDII Kapanewon Turi membentuk wadah Lembaga Pengelola Shodaqoh Sampah Remaja Komplek Masjid (LPSS REKOMA), yang kegiatannya sudah berjalan dua tahunan. Pengurus LPSS REKOMA rutin mencatat hasil penjualan shodaqoh sampahnya. Kegiatan LPSS REKOMA telah mendapat perhatian dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten dan mendapatkan dana dukungan kelembagaan pengelola sampah sebesar Rp5 juta serta mendapat bantuan fasilitas kendaraan roda tiga untuk mengangkut sampah. Hasil penjualan sampah yang dikelola LPSS REKOMA dishodaqohkan antara lain untuk mendukung kegiatan generasi muda di lokasi dan digunakan untuk mewujudkan hewan kurban.

Sebagai contoh praktek baik kedua, di Sumbawa telah diinisiasi PPSBM (Program Pengelolaan Sampah Berbasis Madjid) oleh DPD LDII Kabupaten Sumbawa Barat. PPSBM di Kabupaten Sumbawa Barat telah di-launching oleh Ketua MUI Kabupaten Sumbawa Barat dan peresmiannya dihadiri oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup setempat. Kegiatan PPSBM telah berjalan dan berkembang di empat kecamatan, yaitu PC LDII KecamatanTaliwang dan Kecamatan Maluk (Kabupaten Sumbawa Barat) serta PC LDII di Kecamatan Alas Barat dan Kecamatan Sumbawa (Kabupaten Sumbawa), Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Khusus di PC LDII Kecamatan Taliwang, selama enam bulan hingga akhir tahun 2025, sudah mengelola sampah melalui daur ulang sebanyak tiga ton dengan nilai jual Rp. 4.500.000,- dan mengelola sampah organik sebanyak hampir tujuh ton, yang semuanya dikonversi menjadi pupuk kompos dengan teknik Tabung Sampah Organik Rumah Tangga (TASORTA) atau teknik lainnya. Sedangkan sampah yang tidak dapat dikelola secara mandiri, tetap diangkut ke TPA namun kuantitasnya sudah jauh berkurang. Hasil yang didapat dari shodaqoh pengelolaan sampah disumbangkan untuk masjid yang ada di lokasi PC Taliwang. Dengan demikian, sampah yang tercecer dan berpotensi menjadi masalah lingkungan jauh berkurang dan sampah rumah tangga tidak dibuang sembarangan atau tidak dibakar.

Lesson learned dari contoh kegiatan yang dilakukan oleh LDII adalah bahwa shodaqoh ekologis dapat berwujub bermacam-macam. Namun demikian, shodaqoh ekologis dapat diimplementasikan hingga akar rumput secara berkelanjutan.

Relevansi shodaqoh ekologis dengan tumuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals, SDGs) juga sangat jelas. Shodaqoh ekologis mendukung berbagai nomer SDG, misalnya SDG 3 (Good Health and Well-being) karena mengurangi risiko penyakit akibat pencemaran dan vektor penular penyakit dari sampah, Shodaqoh ekologis juga berkaitan erat dengan SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), sebab kota yang mampu mengelola sampah dengan baik akan lebih layak huni, sehat, dan berdaya saing. Dan yang tak kalah penting, pengelolaan sampah mendukung SDG 12 (Responsible Consumption and Production), karena mendorong masyarakat untuk lebih bertanggung jawab dalam pola konsumsi dan produksi, serta mengurangi beban lingkungan dari perilaku boros dan tidak terpilah. Dengan demikian, praktik shodaqoh ekologis LDII bukan hanya relevan di tingkat lokal, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen global untuk pembangunan berkelanjutan.

Kesimpulan

Shodaqoh ekologis adalah gagasan baru, tetapi berakar kuat pada tradisi Islam. Ia mengajak kita untuk memperluas makna amal: bukan hanya memberi kepada manusia, tetapi juga kepada bumi.

Generasi muda punya peran vital. Dengan kreativitas, energi, dan keberanian, mereka bisa menjadikan Shodaqoh Ekologis sebagai gerakan nyata. Amal tidak lagi sekadar transfer uang, tetapi aksi menjaga kehidupan.

Bumi bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah penerima shodaqoh kita. Dan setiap shodaqoh ekologis adalah doa yang menumbuhkan harapan.

*) Prof. Dr. Ir. Sudarsono, M.Sc, adalah Koordinator Bidang (Korbid) Litbang, IPTEK, Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup (LISDAL), Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII)

Tags: Menyelamatkan BumiSDG 11 Sustainable Cities and CommunitiesSDG 12 Responsible Consumption and ProductionSDG 3 Good Health and Well-beingShodaqoh Ekologis

Related Posts

Menatap 2026: Pendidikan, Karakter, dan Perbaikan Berkelanjutan
Uncategorized

Menatap 2026: Pendidikan, Karakter, dan Perbaikan Berkelanjutan

by admin
January 1, 2026
0

Oleh Thonang Effendi* Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2025–2045 telah ditetapkan sebagai arah transformasi pendidikan nasional. Dokumen ini tidak sekadar memetakan tujuan jangka...

Read more
LDII Wonogiri dan PPG Jatipuro Gelar Festival Anak Saleh ke-XIV
Uncategorized

LDII Wonogiri dan PPG Jatipuro Gelar Festival Anak Saleh ke-XIV

by admin
December 5, 2025
0

Wonogiri (5/12). DPD LDII Kabupaten Wonogiri bekerja sama dengan Penggerak Pembina Generus (PPG) menggelar Festival Anak Saleh (FAS) ke-XIV Tahun 2025 pada...

Read more
LDII Barito Kuala Gelar Pengajian Kebangsaan, Tanamkan Nilai Pancasila pada Warga
Uncategorized

LDII Barito Kuala Gelar Pengajian Kebangsaan, Tanamkan Nilai Pancasila pada Warga

by admin
October 17, 2025
0

Barito Kuala, (17/10). LDII Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, menggelar Pengajian Kebangsaan dengan tema ‘Memperkokoh Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara...

Read more
Amanat HUT RI Ketua LDII Jabar Tekankan Cinta Tanah Air dan Peduli Lingkungan
Lintas Daerah

Amanat HUT RI Ketua LDII Jabar Tekankan Cinta Tanah Air dan Peduli Lingkungan

by admin
August 19, 2025
0

Depok (19/8). Ketua DPW LDII Jawa Barat, Dicky Harun, bertindak sebagai inspektur upacara peringatan HUT ke-80 RI yang digelar di halaman Masjid...

Read more
Kerja Bakti Nasional, LDII Ajak Warga Peduli Lingkungan dan Nasionalisme
Berita Kegiatan

Kerja Bakti Nasional, LDII Ajak Warga Peduli Lingkungan dan Nasionalisme

by eko nuansa
August 4, 2025
0

Jakarta (3/8) — DPP LDII resmi mencanangkan Kerja Bakti Nasional 2025 bertema "Kerja Bersama Bakti untuk Negeri", Minggu (3/8), dalam rangka HUT...

Read more
Peringati HPSN 2025, LDII Gaungkan Selesaikan Sampah dari Rumah
Uncategorized

Peringati HPSN 2025, LDII Gaungkan Selesaikan Sampah dari Rumah

by admin
February 21, 2025
0

Jakarta (21/2). Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang diperingati setiap 21 Februari, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah. Tahun...

Read more

Trending

Menatap 2026: Pendidikan, Karakter, dan Perbaikan Berkelanjutan
Uncategorized

Menatap 2026: Pendidikan, Karakter, dan Perbaikan Berkelanjutan

2 hours ago
Mari Berpikir Radikal Tentang Shodaqoh Ekologis: Amal Baru untuk Menyelamatkan Bumi
Uncategorized

Mari Berpikir Radikal Tentang Shodaqoh Ekologis: Amal Baru untuk Menyelamatkan Bumi

2 hours ago
Santri Pilar Moral dan Kemajuan Bangsa, DPP LDII Dorong Pesantren Adaptif Hadapi Zaman
Berita Kegiatan

Ketum LDII Ajak Muhasabah Nasional Sambut 2026, Soroti Oligarki dan Krisis Lingkungan

1 day ago
Ketum DPP LDII: Muhasabah di Tahun Baru untuk Kehidupan Bernegara yang Lebih Baik
Lintas Daerah

Ketum DPP LDII: Muhasabah di Tahun Baru untuk Kehidupan Bernegara yang Lebih Baik

2 days ago
Ponpes Wali Barokah Raih Eco Pesantren Kategori Pratama, Siap Berkomitmen Ciptakan Lingkungan Sehat
Headlines

Ponpes Wali Barokah Raih Eco Pesantren Kategori Pratama, Siap Berkomitmen Ciptakan Lingkungan Sehat

6 days ago
Nuansa Persada

Majalah Resmi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Hubungi kami untuk layanan iklan online: marketing@nuansaonline.com

Follow Us

Recent News

Menatap 2026: Pendidikan, Karakter, dan Perbaikan Berkelanjutan

Menatap 2026: Pendidikan, Karakter, dan Perbaikan Berkelanjutan

January 1, 2026
Mari Berpikir Radikal Tentang Shodaqoh Ekologis: Amal Baru untuk Menyelamatkan Bumi

Mari Berpikir Radikal Tentang Shodaqoh Ekologis: Amal Baru untuk Menyelamatkan Bumi

January 1, 2026

ARSIP

  • Iklan
  • Privacy & Policy

© 2021 - Designed by GenerusMedia

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Energi
  • Fa Aina Tadzhabun
  • Iptek
  • Apa Siapa
  • Digital
  • Hukum
  • Jejak Islam
  • Kesehatan
  • Kisah Teladan
  • Laporan
  • Lentera Hati
  • Liputan Khusus
  • Lintas Daerah
  • Resonansi
  • Olah Raga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Remaja
  • Siraman Rohani
  • Khutbah (PDF)
    • Khutbah Jumat Bahasa Arab
    • Idul Fitri Bahasa Arab
    • Idul Fitri (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (ust. Imam Rusdi)
    • Idul Adha (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (Kediri 2017)

© 2021 - Designed by GenerusMedia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In