PALING UPDATE
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Home Artikel

Menjaga Kesaktian Pancasila

in Artikel
392
0
Menjaga Kesaktian Pancasila

Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (Undip), Singgih Tri Sulistiyono mengatakan, masyarakat perlu memaknai Pancasila. Foto: LINES.

556
SHARES
2.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Kesaktian Pancasila perlu dijaga, jika tidak, bangsa Indonesia akan mengalami disorientasi, dan tinggal menunggu waktu kehancuran. Untuk itu, seluruh elemen bangsa, harus belajar dari sejarah, bagaimana Pancasila hadir sebagai dasar negara.

Guru Besar Ilmu Sejarah, Universitas Diponegoro, Singgih Tri Sulistiyono mengungkapkan, Hari Kesaktian Pancasila merupakan akumulasi puncak konflik dari berbagai faksi politik yang berkembang.

Sejak zaman akhir kolonialisme, dan awal kemerdekaan, sampai dengan tahun 1960-an, berbagai kelompok faksi politik saling bersaing dan berkonflik. Bahkan, sampai menggunakan kekerasan yang akhirnya meletus tragedi tahun 1965.

Pada saat itu berkembang situasi, ideologi Pancasila, cenderung akan digantikan dengan ideologi komunisme. “Alhamdulillah, percobaan kudeta yang menamakan dirinya G30S/PKI bisa diatasi, bisa dicegah, dan bisa digagalkan. Itulah yang kemudian bangsa Indonesia sepakat menetapkan tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila,” ujar Ketua DPP LDII tersebut.

Melihat hal tersebut, Singgih menegaskan pentingnya belajar dari sejarah untuk menjaga kesaktian Pancasila. “Belajar sejarah berarti mempelajari narasi atau kisah mengenai sebuah peristiwa. Belajar sejarah, bisa dilakukan melalui dokumen dan arsip, untuk memperoleh fakta sejarah dari sumber sejarah. Kemudian para penulis sejarah menarasikan di dalam kisah sejarah,” ujarnya

Namun, belajar dari sejarah berarti mengambil hikmah dari rangkaian peristiwa yang telah terjadi. Misalnya, setelah didalami, ternyata tragedi 1965 merupakan hasil dari proksi politik pecah belah yang diintroduksi kekuatan asing, dalam konteks perang dingin.

Singgih melanjutkan, pada saat itu, antara blok barat yang beraliran liberal dan kapitalis, dan blok timur yang beraliran komunis dan sosialis, masing-masing berusaha menancapkan dan mengembangkan pengaruhnya di luar negara mereka.

“Sehingga, justru konflik dan kekerasan timbul, tidak di Amerika Serikat, atau di Uni Soviet, tetapi di negara lain yang menjadi ladang persaingan konflik dari dua kekuatan ideologi besar tersebut,” jelasnya.

Contohnya ada di Vietnam, Korea, ataupun di Indonesia. “Ini jadi bahan pembelajaran, jangan sampai kita menghadapi pola sejarah yang sama. Kekuatan asing berusaha membuat proksi di Indonesia,” katanya.

Jangan sampai, bangsa Indonesia asik dengan konflik sesama anak bangsa. Tahu-tahu, sudah dikontrol kekuatan asing. “Ini jadi pelajaran penting, bukan hanya di era tahun 1960-an, tetapi juga generasi kini, dan generasi yang akan datang,” tegasnya.

Memaknai Kesaktian Pancasila

Untuk memaknai kesaktian Pancasila, perlu melihat rangkaian peristiwa yang dialami bersama sebagai sebuah bangsa. Bagi bangsa Indonesia, Pancasila merupakan dasar negara dan filosofi kehidupan bersama. “Yang digali dari nilai-nilai luhur yang telah berkembang di masyarakat, selama beribu-ribu tahun. Kemudian dikristalisasi di Pancasila,” ujar Singgih.

Sehingga, jika bangsa Indonesia mencoba mengambil ideologi bangsa lain, entah itu komunisme, sosialisme, ataupun ideologi keagamaan tertentu, maka ini tidak sesuai. “Misalnya mendirikan negara agama, sedangkan masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang plural, maka tentu, masyarakat yang tidak sesuai dengan negara agama akan protes, dan menjadi sumber konflik, bahkan konflik berdarah,” tegasnya.

Kemudian, jika ada pihak yang ingin memaksakan ideologi komunisme. “Yang ada, filosofi ateisme bertentangan dengan jiwa bangsa Indonesia, yang sejak dahulu merupakan masyarakat yang religius, yang percaya dengan kekuatan ilahiyah,” ujarnya.

Singgih melanjutkan, dengan karakter kepribadian bangsa tersebut, Pancasila memfasilitasi melalui aspek ketuhanan di sila pertama. Pancasila juga memfasilitasi kepribadian bangsa di sila-sila selanjutnya. “Aspek kemanusiaan dalam konteks antar manusia dan antar bangsa, bisa difasilitasi dalam sila kedua,” ujarnya.

Aspek berbangsa dan persatuan nasional, sebagai wadah untuk merealisasikan tujuan berbangsa dan bernegara ada di sila ketiga. Kemudian, sebuah cara bagaimana berbangsa dan bernegara, bukan dengan feodalisme dan sikap diktator, namun dengan cara demokrasi, musyawarah untuk mufakat, difasilitasi dalam sila keempat.

Sedangkan, sila kelima, mencantumkan tujuan berbangsa dan bernegara. Untuk mencapai kemakmuran di dalam keadilan, dan keadilan di dalam kemakmuran.

Maka, ini sudah sangat sesuai dengan realitas historis dan faktual bangsa Indonesia, sebagai bangsa yang plural, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

“Ini, kalau mau diganti dengan ideologi lainnya, akan menimbulkan kegaduhan. Maka, jika Pancasila dilupakan, maka di situlah cobaan akan dihadapi bangsa Indonesia. Akan berat sekali jika meninggalkan Pancasila sebagai dasar kehidupan bersama sebagai suatu bangsa,” tegasnya.

Bahkan, bangsa Indonesia patut berbangga, bahwa masyarakat internasional mengakui Pancasila. “Sekjen PBB António Guterres mengakui ini. Unity in diversity. Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.

Sejarah Pancasila

Singgih mengungkapkan, Pancasila disusun pada zaman penjajahan Jepang. “Itulah kehebatan founding father, memanfaatkan situasi kritis yang sedang dihadapi tentara pendudukan Jepang, yang sedang mengalami kemunduran dan kekalahan di medan pertempuran, saat melawan sekutu,” ujarnya.

Saat itu, melakukan komunikasi dan hubungan dengan pemerintahan pendudukan Jepang, mendesak agar Indonesia mendapatkan kemerdekaan. “Pada saat itu, Jepang memberikan kesempatan kemerdekaan. Kemudian didirikan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI),” ujarnya.

Saat itu, dipersiapkan bagaimana wujud bangsa Indonesia. Setelah merdeka, dasarnya apa, bentuknya seperti apa, mau ke mana, dan bagaimana nanti menjalankan negara yang baru, semua sudah dirancang pada zaman pendudukan Jepang.

“Termasuk juga mengenai dasar negara Indonesia yang akan didirikan pada saat itu. Di situlah berbagai tokoh bermusyawarah, termasuk bung Karno, bung Hatta, dan lainnya, ” katanya.

Saat Jepang mulai kalah, mereka berusaha menarik simpati masyarakat Indonesia. “Jepang takut, kalau sampai Amerika Serikat menduduki wilayah Asia Tenggara. Maka, Jepang berusaha mendapatkan bantuan masyarakat, melalui organisasi bentukan Jepang seperti pasukan Pembela Tanah Air (PETA), dan lainnya,” ujarnya.

Untuk menarik hati bangsa Indonesia itulah, Jepang memberikan janji kemerdekaan, dengan membentuk BPUPKI. “Kemudian menjelang Agustus 1945, membentuk PPKI. Dari situlah, dasar negara Pancasila digodok oleh tokoh bangsa, ada M Yamin, bung Karno, Radjiman, dan lainnya,” jelasnya.

Puncaknya, tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila. “Ini lompatan besar dan luar biasa. Ketika bangsa-bangsa yang lain di dunia tidak bisa merumuskan dasar ideologi seperti Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika. Tokoh bangsa Indonesia bisa merumuskan hal tersebut,” katanya.

Mewariskan Pancasila

Untuk memastikan kelestarian Pancasila, Singgih menyarankan, pelajaran sejarah harus menjadi kewajiban bagi para siswa di semua tingkatan. “Bangsa Indonesia lahir dari sejarah. Sebelum lahir bangsa Indonesia, sebelum ada kesempakatan Sumpah Pemuda tahun 1928, yang ada di wilayah Indonesia adalah suku, kelompok, dan agama tertentu,” ujarnya.

Melalui kesadaran membangun bangsa yang diidamkan, lahirlah bangsa Indonesia. “Sehingga jika meninggalkan sejarah, maka kita tidak akan tahu jati diri bangsa. Dan akan mengelami disorientasi sebagai bangsa,” ujarnya.

Hal ini, berbeda dengan Jepang, yang sejak zaman dahulu, sudah merasa sebagai orang Jepang, karena mereka relatif sebagai bangsa yang homogen. “Sedangkan Indonesia berasal dari berbagai macam elemen sosial budaya,” katanya.

Untuk itu, menjadi kewajiban pemerintah membuat kurikulum sejarah, sebagai pendidikan moral. “Perlu guru sejarah, yang tidak hanya memberikan pelajaran sejarah, tetapi harus mengarahkan peserta didik mampu belajar dari sejarah. Bagaimana proses terbentuknya negara Indonesaia, bagaimana pendahulu bangsa mati-matian dengan air mata dan darah serta nyawa mempertahankan NKRI, untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur,” imbuhnya.

Singgih menyontohkan, di level keluarga saja, jika tidak mengingat sejarah, maka keutuhan keluarga berpotensi runtuh. “Ingat bagaimana sewaktu merintis berjuang bersama, dengan cita-cita mulia bersama. Sehingga, saat sudah berhasil, menjadi keluarga yang makmur, memiliki anak yang saleh dan salehah, dan keutuhan keluarga bisa terjamin,” tegasnya.

Sedangkan, jika melupakan masa lampau, akan muda tergoda dan akan menyebabkan keluarga berantakan.

Kembali ke kehidupan berbangsa dan bernegara, jika terjadi disorientasi bernegara, maka tinggal menunggu kehancuran bangsa Indonesia. Berbicara saat orde baru, Pancasilais sejati artinya seseorang yang paham nilai-nilai Pancasila dan berusaha mengamalkan nilai-nilai Pancasila, dan mampu memberikan contoh yang baik dalam pengamalannya.

Di sini, tugas negara, menyosialisasikan dan mengkulturasikan Pancasila dalam elemen bangsa. “Baik di sekolah, di lingkungan masyarakat, ataupun di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.

Selanjutnya, ia mengingatkan, negara harus bisa mengkondisikan sebuah situasi yang sama atas pengamalan Pancasila. “Pejabat harus memberikan contoh yang baik. Di sekolah, memberikan pembelajaran menjadi Pancasilais sejati, tetapi jika pemimpin tidak memberikan contoh yang baik, maka akan mengalami degardasi. Katanya Pancasilais, tetapi kelakuan tidak seperti itu, dan ini berpotensi membuat Pancasila tidak sakti. Inilah tugas negara, dan tugas kita bersama,” tutupnya.

Related Posts

Pastikan Dokumen Santri WNA Tertib, TIMPORA Sidak Ponpes Wali Barokah Kediri
Artikel

Pastikan Dokumen Santri WNA Tertib, TIMPORA Sidak Ponpes Wali Barokah Kediri

by eko nuansa
June 20, 2026
0

Kediri (19/6) – Tim Pengawasan Orang Asing (TIMPORA) yang dipimpin Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Kediri menggelar inspeksi mendadak (sidak) administratif...

Read more
Kurban LDII Jatim Tembus Rp172 Miliar, Ketakwaan Jadi Pesan Utama
Artikel

Kurban LDII Jatim Tembus Rp172 Miliar, Ketakwaan Jadi Pesan Utama

by eko nuansa
June 19, 2026
0

Surabaya (19/6). DPW LDII Jawa Timur menghimpun hewan kurban senilai sekitar Rp172 miliar pada Idul Adha 1447 Hijriah. Jumlah tersebut terdiri atas...

Read more
Haji Mabrur: Transformasi Ibadah Menuju Perubahan Diri dan Sosial
Artikel

Haji Mabrur: Transformasi Ibadah Menuju Perubahan Diri dan Sosial

by Riska
June 19, 2026
0

Oleh Ketua LDII Musi Banyuasin Daud Sobri Harta yang digunakan untuk berhaji harus berasal dari sumber yang halal dan thayyib. Harta yang...

Read more
Manfaatkan Teknologi, LDII Ogan Ilir Gelar Pengajian Ibu-Ibu secara Online
Artikel

Manfaatkan Teknologi, LDII Ogan Ilir Gelar Pengajian Ibu-Ibu secara Online

by eko nuansa
June 17, 2026
0

Ogan Ilir (16/6). DPD LDII Ogan Ilir menggelar pengajian rutin ibu-ibu secara online (daring) yang dipusatkan di Jakabaring, Ogan Ilir, Sumatera Selatan....

Read more
PC LDII Cileungsi Gelar Sholat Idul Adha 1447 H di Tiga Lokasi, Tebar Ribuan Paket Daging Kurban
Artikel

PC LDII Cileungsi Gelar Sholat Idul Adha 1447 H di Tiga Lokasi, Tebar Ribuan Paket Daging Kurban

by eko nuansa
May 28, 2026
0

Cileungsi – Pimpinan Cabang (PC) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kecamatan Cileungsi menggelar pelaksanaan Sholat Idul Adha 1447 Hijriah di tiga lokasi...

Read more
Pewarta Musim Haji Antara Tugas dan Kemanusiaan
Artikel

Pewarta Musim Haji Antara Tugas dan Kemanusiaan

by admin
May 13, 2026
0

Oleh Faqihu Sholih Semua wartawan yang meliput haji mempunyai tugas utama meliput kegiatan haji. Bagaimana bila mereka bertemu jamaah yang membutuhkan pertolongan?...

Read more

Trending

Idul Adha 2026, LDII Banten Distribusikan Ribuan Paket Daging Kurban
Berita Daerah

Idul Adha 2026, LDII Banten Distribusikan Ribuan Paket Daging Kurban

17 hours ago
Tingkatkan Ketakwaan, Ponpes Millenium Alfiena Gelar Gerakan Nganjuk Mengaji
Berita Daerah

Tingkatkan Ketakwaan, Ponpes Millenium Alfiena Gelar Gerakan Nganjuk Mengaji

17 hours ago
Perkuat Sinergi, PC LDII Solear Terima Hewan Kurban dari Koramil 13 Cisoka
Berita Daerah

Perkuat Sinergi, PC LDII Solear Terima Hewan Kurban dari Koramil 13 Cisoka

17 hours ago
Hari Lingkungan Hidup, LDII Ajak Masyarakat Kelola Sampah dari Rumah
Berita Daerah

Hari Lingkungan Hidup, LDII Ajak Masyarakat Kelola Sampah dari Rumah

17 hours ago
Wujud Toleransi Beragama, Muspija Banten Serahkan Hewan Kurban ke LDII
Berita Daerah

Wujud Toleransi Beragama, Muspija Banten Serahkan Hewan Kurban ke LDII

18 hours ago
Nuansa Persada

Majalah Resmi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Hubungi kami untuk layanan iklan online: marketing@nuansaonline.com

Follow Us

Recent News

Idul Adha 2026, LDII Banten Distribusikan Ribuan Paket Daging Kurban

Idul Adha 2026, LDII Banten Distribusikan Ribuan Paket Daging Kurban

June 22, 2026
Tingkatkan Ketakwaan, Ponpes Millenium Alfiena Gelar Gerakan Nganjuk Mengaji

Tingkatkan Ketakwaan, Ponpes Millenium Alfiena Gelar Gerakan Nganjuk Mengaji

June 22, 2026

ARSIP

  • Iklan
  • Privacy & Policy

© 2021 - Designed by GenerusMedia

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Energi
  • Fa Aina Tadzhabun
  • Iptek
  • Apa Siapa
  • Digital
  • Hukum
  • Jejak Islam
  • Kesehatan
  • Kisah Teladan
  • Laporan
  • Lentera Hati
  • Liputan Khusus
  • Lintas Daerah
  • Resonansi
  • Olah Raga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Remaja
  • Siraman Rohani
  • Khutbah (PDF)
    • Khutbah Jumat Bahasa Arab
    • Idul Fitri Bahasa Arab
    • Idul Fitri (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (ust. Imam Rusdi)
    • Idul Adha (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (Kediri 2017)

© 2021 - Designed by GenerusMedia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In