Oleh Ust. Tommy Sutomo
Di dalam Islam, ada sosok Ayah yang menjadi panutan bagi umat muslim dalam menasehati anaknya. Sosok Ayah tersebut bukanlah seorang Rasul bukan pula seorang Nabi, namun nama dan ucapannya tercantum dalam Al Quran. Ialah Luqman Al Hakim.
Ust. Tommy Sutomo dalam Oase Hikmah LDII TV menjelaskan bahwa Luqman diberi julukan Al Hakim karena ucapannya mengandung hikmah pedoman bagi kehidupan manusia. Lalu apa saja nasehat Luqman kepada anaknya?
1.Larangan Menyekutukan Allah (Tauhid)
Sebagai seorang ayah, ia memberi nasihat kepada anaknya.
يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Wahai anakku janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah itu adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” (QS. Luqman: 3)
Ini adalah pelajaran tentang tauhid yang perlu dipahami oleh setiap anak agar kelak akidahnya ini tidak menyimpang.
2. Berbakti kepada Orangtua
Ust. Tommny menegaskan bahwa setiap manusia harus berbuat baik kepada orangtua terutama kepada ibu.
Karena ibu lah yang telah mengandung kita dalam keadaan lemah yang bertambah tambah, وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ derita di atas derita, dan juga menyapih kita setelah kurun waktu kurang lebih dua tahun.
Dalam Hadist Shohih Bukhori diceritakan ada seorang lelaki dari kalangan Bani Israil yang bernama Juraij. Ketika itu dia sedang salat, lantas ibunya memanggilnya.
Dia tidak menjawab pada ibunya, meskipun dalam hatinya cukup bimbang, “Saya menjawab ibu atau saya melanjutkan salat”.
Keesokan harinya peristiwa yang sama terulang. Akhirnya si ibu berdoa, “Ya Allah jangan matikan dia sebelum terlibat dengan wanita pezina”.
Akhirnya suatu ketika seorang wanita pezina menggoda Juraij, namun karena Juraij keimanannya kuat, Juraij pun mengusirnya.
Karena diusir, akhirnya wanita tadi berhubungan dengan seorang penggembala kambing yang pada akhirnya dalam kisah itu lahirlah seorang anak. Wanita tadi mengatakan bahwa anaknya adalah hasil hubungannya dengan Juraij.
Akhirnya warga masyarakat heboh kemudian merobohkan dan membakar syuro Juraij dan mencaci makinya. Pada waktu itu tempat ibadahnya dibakar habis.
Dalam kondisi genting seperti itu, akhirnya Juraij berwudhu dan kemudian salat setelah itu mendatangi si bayi karena sedang difitnah yang luar biasa. Juraij bertanya kepada si bayi, ini termasuk mukjizat yang Allah beri, salah satu bayi yang bisa berbicara.
Juraij menanyakan, “Nak, siapa bapakmu?”. Lantas bayi tersebut menjawab, “Bapakku adalah seorang penggembala kambing”.
Apa hikmah yang bisa kita ambil dari kisah ini? Ust. Tommy menjelaskan, Juraij itu seorang yang ahli ibadah, ahli salat. Ketika dipanggil oleh ibunya saat dia sedang salat, kemudian tidak ada jawaban ternyata begitu membuat sakit hati ibunya. Di sisi lain ternyata Allah tetap berpihak kepada ibunya berarti ini termasuk perbuatan durhaka.
Apa Saja Perbuatan Durhaka Kepada Orangtua?
Melihat kisah Juraij, lalu apa saja perbuatan durhaka kepada orangtua? Di antaranya menyakiti hatinya baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan.
Bayangkan, lisan kita ini yang dituntun oleh orangtua kita sejak kecil agar bisa berbicara, lantas kita gunakan untuk mencaci makinya, untuk berbicara dengan nada yang lebih tinggi atau untuk menyakiti hatinya. Padahal lisan kita bisa berbicara ini lantaran dituntun oleh kedua orangtua kita.
Perbuatan durhaka lainnya seperti membangkang, melawan permintaan atau seruan orangtua kita, membentak atau bahkan menghardiknya, tidak mengurusnya atau kita di hadapan kedua orangtua kita bermuka masam, cemberut, merendahkan dan mungkin menghinanya.
Selain itu, memerintah orangtua dengan seenaknya seperti menyuruh mencuci pakaian, menyetrika atau menyiapkan makanan, mencemarkan nama baik orangtua, menyebarkan kejelekan orangtua di hadapan orang banyak atau bahkan kedurhakaan lainnya.
Atau bahkan malu mengakui orangtuanya atau malu keberadaan orang tuanya karena status sosial kita meningkat, lalu kita durhaka seperti malin kundang, ini jangan sampai terjadi.
3. Kesadaran akan Pengawasan Allah
Hakikat dari iman itu adalah kesadaran bahwa kita selalu di bawah pengawasan Allah yang maha waspada.
Maka Luqman pun berkata:
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ
“Wahai anakku, meskipun suatu perbuatan itu hanya seberat biji sawi dan berada di dalam batu atau langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya untuk diperhitungkan”. (QS. Luqman: 16)
Tentunya semua kebaikan yang kita tanam akan kita tuai hasilnya, entah sedikit atau banyak karena sesungguhnya Allah maha mengetahui dengan apapun yang hambanya kerjakan.
4. Mendirikan Salat dan Amar Maruf Nahi Munkar
Luqman juga menasehati anaknya untuk memiliki semangat berdakwah. Maka Luqman mengatakan:
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Wahai anakku dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik, perintahlah pada makruf [berbuat baik] dan mencegah mereka dari pebuatan yang munkar, bersabarlah terhadap apa apa yang menimpamu, karena sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang Allah wajibkan”. (QS. Luqman: 17).
5. Larangan Bersikap Sombong
Dalam hal pergaulan dengan sesama manusia, Luqman seorang Ayah juga menasehati anaknya.
“Janganlah kamu memalingkan muka atau wajahmu dari manusia karena sombong, janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan angkuh, sesungguhnya Allah tidak menyukai pada orang-orang yang sombong lagi membanggakan dirinya”.
Seorang anak supaya menyederhanakan dalam berjalan, tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat dan lunakkanlah hati mu. Karena sesungguhnya seburuk buruk suara ialah suara keledai, maka kita supaya bisa berlemah lembut.
Berbahagialah seorang anak bila sejak masa kecilnya dibekali akidah yang benar dan akhlak yang mulia. Karena dia akan dicintai tuhannya. Dengan dia bisa melaksanakan aturan dia juga akan dicintai lingkungannya, karena keberadaannya di tengah-tengah masyarakat itu memberi manfaat.
Melalui nasehat Luqman kepada anaknya, Ust. Tommy menyimpulkan, inilah hikmah yang luar biasa ketika kehadiran seorang Ayah itu dirasakan oleh anak-anaknya. Maka mari kita gelorakan komunikasi yang efektif antara orangtua dengan anak-anak kita, terus berupaya, dan sebagai orangtua terus memberikan keteladanan.
Saksikan juga:














