Oleh: Thonang Effendi*)
Pagi itu, dapur rumah terasa lebih hidup dari biasanya. Sayuran segar dipetik dari instalasi hidroponik sederhana di pekarangan. Buah papaya matang pohon dipetik dari tabulampot. Beberapa ekor lele diambil dari kolam plastik di sudut halaman. Semua disiapkan untuk sarapan keluarga: nasi hangat, sayur bening, lauk ikan, dan buah segar. Sederhana, namun penuh makna. Dari pekarangan rumah, tersaji piring makan yang sehat, sekaligus menjadi pengingat akan banyaknya nikmat yang kerap luput kita syukuri.
Momentum Hari Gizi Nasional 25 Januari 2026, dengan tema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal” dan slogan “Sehat Dimulai dari Piringku”, mengajak kita kembali melihat hal-hal mendasar dalam kehidupan. Bahwa kesehatan dan kecerdasan generasi bangsa tidak selalu berawal dari sesuatu yang mahal dan jauh, melainkan dari apa yang tersedia di sekitar kita.
Pemenuhan gizi seimbang merupakan fondasi utama tumbuh kembang anak. Asupan gizi yang cukup dan seimbang berpengaruh langsung pada kesehatan fisik, kecerdasan intelektual, kestabilan emosi, serta daya tahan tubuh. Tidak berlebihan jika dikatakan, generasi yang sehat dan cerdas berawal dari piring makan yang terisi dengan komposisi gizi yang tepat: karbohidrat, protein, sayur, dan buah.
Dalam konteks pendidikan, makan makanan bergizi juga menjadi bagian dari pembiasaan karakter. Kemendikdasmen telah menegaskan hal ini melalui 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, salah satunya adalah kebiasaan mengonsumsi makanan bergizi. Kebiasaan ini tidak berdiri sendiri, melainkan perlu ditanamkan secara konsisten melalui sinergi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan.
Sekolah memiliki peran strategis sebagai ruang edukasi gizi dan pembentukan kebiasaan hidup sehat. Edukasi gizi dapat diintegrasikan dalam pembelajaran, baik melalui mata pelajaran maupun kegiatan tematik. Lebih dari itu, sekolah bersama komite sekolah dapat memberikan pengarahan kepada orang tua tentang pentingnya pemenuhan gizi seimbang di rumah. Ketika sekolah dan keluarga berjalan seiring, pembiasaan hidup sehat akan lebih mudah tertanam pada diri peserta didik.
Praktik nyata yang dapat dikembangkan adalah workshop urban farming bagi siswa dan orang tua, yang diinisiasi oleh sekolah bersama komite sekolah. Melalui kegiatan ini, peserta didik tidak hanya belajar menanam sayur atau memelihara ikan, tetapi juga belajar tentang kemandirian, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan. Urban farming menjadi sarana edukatif yang menyatukan aspek pengetahuan, keterampilan, dan karakter.
Semangat ini selaras dengan konsep Tri Pusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, yaitu pendidikan yang berlangsung di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketika ketiga pusat pendidikan ini bersinergi, nilai rukun, kompak, dan kerja sama yang baik akan tumbuh secara alami. Inilah nilai-nilai karakter luhur yang sangat dibutuhkan dalam membangun ekosistem pendidikan yang sehat dan berkelanjutan.
Gerakan pemanfaatan pangan lokal untuk memenuhi gizi seimbang juga menjadi bentuk kemandirian bangsa. Pangan lokal bukan hanya warisan budaya, tetapi juga sumber gizi yang kaya dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan memanfaatkan pekarangan rumah—melalui hidroponik, kolam ikan sederhana, atau pot tanaman—kita menanamkan kesadaran bahwa pemenuhan gizi bisa dimulai dari lingkungan terdekat.
Lebih dari sekadar upaya kesehatan, pemenuhan gizi seimbang berbasis pangan lokal mengajarkan kita untuk bersyukur. Bersyukur merupakan salah satu dari empat tali keimanan dan bagian dari 29 karakter luhur yang dikembangkan oleh LDII. Dari rasa syukur, iman diperkuat. Dari iman yang kuat, lahir praktik 29 karakter luhur dalam kehidupan sehari-hari. Inilah fondasi penting dalam mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, berakhlak, dan profesional religius.
Refleksi Hari Gizi Nasional ini mengingatkan kita bahwa Allah SWT telah menyediakan begitu banyak nikmat di sekitar kita. Tugas kitalah untuk menyadarinya, merawatnya, dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Dari pekarangan rumah, dari piring makan keluarga, kita dapat memulai langkah kecil yang berdampak besar bagi masa depan generasi bangsa.
Pada akhirnya, pertanyaan sederhana patut kita ajukan pada diri sendiri: sudahkah kita memanfaatkan lahan pekarangan sebagai wujud syukur untuk memenuhi gizi seimbang berbasis pangan lokal? Dan sudahkah isi piring kita benar-benar mencerminkan makna sehat dimulai dari piringku?
Penulis
Thonang Effendi
Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII














