Oleh Muhammad Naufal
Dalam proses belajar, kita sering mengenal dua hal yang saling melengkapi, yaitu teori dan praktik. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Teori memberikan pemahaman, sementara praktik menjadi bukti nyata dari pemahaman tersebut. Seseorang yang belajar dengan memadukan teori dan praktik akan memiliki pemahaman yang lebih mendalam dan kokoh.
Prinsip ini juga berlaku dalam menuntut ilmu agama. Dalam Islam, belajar tidak cukup hanya dengan mengaji atau mendengarkan ilmu, tetapi harus diikuti dengan mengamalkan apa yang telah dipelajari. Mengaji dan mengamalkan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ٱلَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
Artinya:
“(Yaitu) orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.”
(Q.S. Az-Zumar: 18)
Ayat tersebut menegaskan bahwa orang-orang yang memiliki akal dan kecerdasan sejati adalah mereka yang tidak hanya mendengarkan firman Allah (mengaji), tetapi juga berusaha mengikuti dan mengamalkan ajaran terbaik yang telah didengarnya. Mereka inilah yang mendapatkan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dalam pandangan Allah, ukuran kecerdasan seorang hamba bukanlah semata-mata kecerdasan intelektual, tingginya IQ, atau banyaknya ilmu yang dikuasai. Barometer kecerdasan menurut Allah adalah kemampuan seseorang untuk memahami kebenaran dan kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Orang-orang yang mengaji lalu berusaha langsung mengamalkan ilmunya itulah orang-orang yang benar-benar pintar, berakal, dan cerdas. Sebaliknya, ilmu yang hanya berhenti pada pemahaman tanpa diamalkan dapat menjadi sia-sia, bahkan berpotensi menjadi beban jika tidak diwujudkan dalam amal perbuatan.
Oleh karena itu, setiap selesai mengaji, sejatinya kita memiliki tanggung jawab atau “pekerjaan rumah” yang harus ditunaikan, yaitu mengamalkan ilmu tersebut. Baik dalam memperbaiki akhlak, meningkatkan kualitas ibadah, maupun menguatkan peran positif di tengah masyarakat.
Semoga kita semua termasuk golongan hamba Allah yang tidak hanya rajin mengaji, tetapi juga istiqamah dalam mengamalkan ilmu, sehingga ilmu tersebut benar-benar menjadi cahaya dan petunjuk dalam kehidupan. Aamiin. (Nisa)














