Tabanan (18/6). Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah menjadi momentum penting dalam merawat kerukunan umat beragama di Kabupaten Tabanan, Bali. Warga LDII Kabupaten Tabanan melestarikan tradisi ngejot dengan membagikan daging kurban kepada masyarakat luas tanpa memandang perbedaan latar belakang agama, suku, maupun golongan pada Rabu (27/5).
Ngejot merupakan tradisi khas masyarakat Bali berupa kegiatan berbagi hidangan kepada tetangga sebagai wujud kasih sayang dan persaudaraan. Aksi sosial ini dimulai sesaat setelah proses pemotongan hewan kurban selesai di Gedung Sekretariat LDII Tabanan, Banjar Malkangin, Dajan Peken.
Uniknya, selain membagikan daging mentah, panitia juga mendistribusikan daging kambing yang telah diolah menjadi masakan siap saji, ”Ada tiga ekor kambing yang kami masak gulai, kemudian kami bagikan kepada tetangga dan warga sekitar. Kegiatan ngejot daging kurban ini sifatnya inklusif untuk semua kalangan,” ujar Ketua DPD LDII Tabanan, Maulana Sandijaya.
Untuk menghormati keyakinan sesama, warga yang tidak mengonsumsi daging sapi akan diberikan daging kambing, begitu pula sebaliknya. Langkah ini diambil untuk memastikan seluruh lapisan masyarakat dapat ikut menikmati suasana hari raya dengan nyaman.
Dalam pelaksanaannya, generasi muda dari tingkat sekolah hingga kuliah dilibatkan aktif untuk mengantarkan paket kurban langsung dari rumah ke rumah warga. Pengurus sengaja melibatkan para pemuda sebagai sarana edukasi dalam menghargai perbedaan dan menumbuhkan rasa peduli sosial sejak dini.
Selain sebagai perekat hubungan antarumat beragama, aksi sosial ini juga diarahkan sebagai instrumen kepedulian ekonomi di tengah tantangan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat, khususnya bagi kaum dhuafa.
Pada Iduladha tahun ini, warga LDII Tabanan menyembelih sebanyak 5 ekor sapi dan 17 ekor kambing. Demi mendukung kelestarian lingkungan dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, panitia menggunakan besek atau wadah dari anyaman bambu untuk membungkus daging kurban.
Proses penyembelihan juga dilakukan oleh juru sembelih yang telah mendapatkan pelatihan standar halal dan menerapkan sistem pengelolaan limbah yang ramah lingkungan. Seluruh darah dan kotoran hewan ditanam di lubang khusus, serta dilakukan penyemprotan cairan eco-enzyme organik untuk meminimalkan aroma tidak sedap di sekitar lokasi pemotongan.








