Jakarta (29/06) – Piala Dunia 2026 tidak hanya menghadirkan pertandingan sepak bola kelas dunia, tetapi juga menyuguhkan pelajaran tentang persatuan, sportivitas, dan penghormatan terhadap keberagaman. Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, mengajak generasi muda menjadikan ajang tersebut sebagai media pembelajaran karakter dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurut Dody, Piala Dunia memperlihatkan bagaimana bangsa-bangsa dengan latar belakang budaya, bahasa, ras, dan agama yang berbeda dapat berkompetisi secara sehat dalam satu aturan yang sama. Nilai tersebut, menurutnya, sejalan dengan pembinaan karakter yang selama ini dilakukan LDII kepada generasi muda melalui pengkajian Al-Qur’an dan Al-Hadits.
“Generasi muda tidak cukup hanya menjadi penonton pertandingan. Mereka perlu menangkap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti menghargai perbedaan, disiplin, kerja sama, dan sportivitas. Nilai-nilai itulah yang akan membentuk pribadi yang matang,” ujar Dody dalam siaran persnya, Senin (29/6).
Ia menjelaskan, keberagaman merupakan realitas yang harus disikapi dengan bijaksana. Dalam setiap pertandingan Piala Dunia, para pemain, pelatih, ofisial, maupun suporter berasal dari berbagai negara dan budaya, namun tetap menjunjung aturan serta saling menghormati demi terciptanya kompetisi yang adil.
“Perbedaan tidak boleh menjadi sumber perpecahan. Justru keberagaman harus menjadi kekuatan untuk membangun persatuan. Sebagai warga negara Indonesia, generasi muda perlu menjaga identitas kebangsaan sekaligus memiliki sikap terbuka terhadap perbedaan,” katanya.
Dody juga menekankan bahwa sportivitas merupakan karakter yang harus diterapkan di berbagai bidang kehidupan, tidak terbatas pada dunia olahraga. Dalam pendidikan, pekerjaan, organisasi, maupun kehidupan sosial, sikap menghargai aturan, bersaing secara sehat, serta mampu menerima keberhasilan maupun kegagalan merupakan modal penting dalam membangun masyarakat yang maju.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya integritas sebagai landasan utama membentuk sumber daya manusia yang berkualitas. Kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, dan konsistensi antara ucapan dan tindakan menjadi nilai yang harus ditanamkan sejak usia muda.
“Prestasi akan memiliki makna apabila dibangun di atas integritas. Karena itu, generasi muda harus membiasakan diri menjadi pribadi yang amanah, disiplin, dan bertanggung jawab dalam setiap peran yang dijalankan,” tegasnya.
Dody berharap semangat kompetisi yang ditunjukkan para peserta Piala Dunia mampu menginspirasi generasi muda Indonesia untuk terus meningkatkan kapasitas diri tanpa meninggalkan nilai-nilai moral dan kebangsaan.
“Jadikan Piala Dunia sebagai sarana belajar tentang kepemimpinan, kerja sama tim, disiplin, penghormatan terhadap perbedaan, serta sportivitas. Jika nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, Indonesia akan memiliki generasi muda yang profesional, berakhlakul karimah, dan siap berkontribusi bagi kemajuan bangsa,” pungkasnya.
“Generasi muda tidak cukup hanya menjadi penonton pertandingan. Mereka perlu menangkap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti menghargai perbedaan, disiplin, kerja sama, dan sportivitas. Nilai-nilai itulah yang akan membentuk pribadi yang matang,” ujar Dody dalam siaran persnya, Senin (29/6).
Ia menjelaskan, keberagaman merupakan realitas yang harus disikapi dengan bijaksana. Dalam setiap pertandingan Piala Dunia, para pemain, pelatih, ofisial, maupun suporter berasal dari berbagai negara dan budaya, namun tetap menjunjung aturan serta saling menghormati demi terciptanya kompetisi yang adil.
“Perbedaan tidak boleh menjadi sumber perpecahan. Justru keberagaman harus menjadi kekuatan untuk membangun persatuan. Sebagai warga negara Indonesia, generasi muda perlu menjaga identitas kebangsaan sekaligus memiliki sikap terbuka terhadap perbedaan,” katanya.
Dody juga menekankan bahwa sportivitas merupakan karakter yang harus diterapkan di berbagai bidang kehidupan, tidak terbatas pada dunia olahraga. Dalam pendidikan, pekerjaan, organisasi, maupun kehidupan sosial, sikap menghargai aturan, bersaing secara sehat, serta mampu menerima keberhasilan maupun kegagalan merupakan modal penting dalam membangun masyarakat yang maju.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya integritas sebagai landasan utama membentuk sumber daya manusia yang berkualitas. Kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, dan konsistensi antara ucapan dan tindakan menjadi nilai yang harus ditanamkan sejak usia muda.
“Prestasi akan memiliki makna apabila dibangun di atas integritas. Karena itu, generasi muda harus membiasakan diri menjadi pribadi yang amanah, disiplin, dan bertanggung jawab dalam setiap peran yang dijalankan,” tegasnya.
Dody berharap semangat kompetisi yang ditunjukkan para peserta Piala Dunia mampu menginspirasi generasi muda Indonesia untuk terus meningkatkan kapasitas diri tanpa meninggalkan nilai-nilai moral dan kebangsaan.
“Jadikan Piala Dunia sebagai sarana belajar tentang kepemimpinan, kerja sama tim, disiplin, penghormatan terhadap perbedaan, serta sportivitas. Jika nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, Indonesia akan memiliki generasi muda yang profesional, berakhlakul karimah, dan siap berkontribusi bagi kemajuan bangsa,” pungkasnya.














