Cilegon (30/7). Tim rukyatul hilal DPP, DPW, dan DPD LDII di berbagai wilayah Indonesia melaksanakan pemantauan hilal 1 Safar 1447 Hijriah pada Rabu (15/7/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari agenda pemantauan awal bulan Hijriah yang dilakukan secara serentak sebagai bentuk kontribusi dalam pengamatan astronomi Islam.
Di provinsi Banten, pengamatan dilakukan oleh Anggota Departemen Pendidikan Keagamaan dan Dakwah (PKD), Mujhid Budi Luhur. Pemantauan berlangsung pada Rabu, 15/7/2026 pukul 17.48 WIB di titik pengamatan yang berada pada koordinat 7.393927 Lintang Selatan dan 112.632785 Bujur Timur di wilayah Cikuasa, Merak.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Mujhid Budi Luhur, posisi hilal saat pengamatan memiliki azimut 292,5 derajat dengan altitude 9,8 derajat. Adapun posisi alat pengamatan atau teleskop berada pada ketinggian sekitar 42,5 meter di atas permukaan laut, sehingga memberikan cakrawala barat yang relatif lebih terbuka untuk proses observasi.

Mujhid menjelaskan bahwa pemantauan dilakukan berdasarkan perhitungan astronomi yang telah dipersiapkan sebelumnya. “Berdasarkan data yang kami peroleh, posisi hilal saat waktu rukyat berada pada azimut 292,5 derajat dengan altitude 9,8 derajat. Pengamatan dilakukan menggunakan teleskop dari lokasi pengamatan di Sukodono pada ketinggian sekitar 42,5 meter di atas permukaan laut,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa hasil pengamatan lapangan menjadi bagian dari proses dokumentasi rukyatul hilal yang dilaksanakan secara serentak oleh tim LDII di berbagai daerah di Indonesia. “Selain menjadi bagian dari pelaksanaan rukyatul hilal, kegiatan ini juga memiliki nilai edukatif bagi masyarakat mengenai pentingnya pengamatan astronomi dalam penentuan awal bulan Hijriah,” ujr Mujhid.
Penggunaan data koordinat, azimut, altitude, serta instrumen teleskop menunjukkan bahwa rukyatul hilal merupakan aktivitas yang memadukan metode observasi lapangan dengan pendekatan ilmu falak atau astronomi. Menurut Mujhid, pemantauan hilal menjadi salah satu kegiatan rutin yang dilakukan oleh tim rukyatul hilal LDII di berbagai daerah. “Pelaksanaan pengamatan dilakukan dengan mengacu pada data astronomi serta menggunakan peralatan optik untuk membantu proses observasi di lapangan,” tambahnya.
Di Merak, seluruh tahapan pengamatan dilakukan menjelang dan sesaat setelah matahari terbenam. Data posisi hilal yang diperoleh selanjutnya menjadi bagian dari dokumentasi hasil rukyat yang dapat digunakan sebagai bahan informasi astronomi maupun pelaporan internal.
Berdasarkan data astronomi untuk wilayah Kota Cilegon pada saat matahari terbenam, posisi hilal telah berada pada ketinggian (altitude) sekitar 9,8 derajat dengan arah azimut 292,5 derajat.
Secara astronomis, ketinggian tersebut menunjukkan hilal telah berada cukup tinggi di atas ufuk barat sehingga memiliki peluang untuk diamati, dengan catatan kondisi atmosfer, cuaca, dan visibilitas langit mendukung selama proses rukyat berlangsung.
Faktor lain yang turut memengaruhi keberhasilan pengamatan meliputi tingkat transparansi atmosfer, keberadaan awan di cakrawala barat, tingkat kelembapan udara, serta kualitas instrumen optik yang digunakan.
Pelaksanaan pemantauan secara serentak oleh tim DPP, DPW, dan DPD LDII di berbagai wilayah Indonesia juga mencerminkan upaya membangun budaya ilmiah dalam memahami fenomena astronomi yang berkaitan dengan kalender Hijriah.
Dengan dukungan data astronomi yang akurat serta pengamatan langsung di lapangan, kegiatan rukyatul hilal diharapkan dapat menjadi salah satu kontribusi dalam memperkaya dokumentasi observasi hilal di Indonesia.








