Serang (19/6). Pengelola media informasi dan kreator konten perlu memahami tahapan kerja yang terstruktur, mulai dari proses pra-produksi, produksi, hingga pasca-produksi. Melalui pemahaman tersebut, setiap materi yang dipublikasikan di media sosial dapat dianalisis untuk mendukung publikasi kegiatan positif organisasi secara berkelanjutan.
Hal itu disampapikan dalam rangkaian Pelatihan Jurnalistik DPW LDII Provinsi Banten yang menghadirkan narasumber koordinator divisi media sosial LINES DPP LDII, Faza Ruziqyani Firdausa, pada Jumat (19/6).
“Sebelum membuat konten, kita harus betul-betul memerhatikan dari segi nilainya. Gunakan poin-poin positif untuk menyebarkan kebaikan di media sosial,” ujar Faza.
Ia menjelaskan bahwa kampanye di media sosial dapat menjadi sarana yang efektif untuk meningkatkan perhatian khalayak umum. Salah satu metode yang dapat diterapkan adalah teknik bercerita (storytelling) untuk membangun kedekatan dengan audiens, di samping memanfaatkan fitur promosi yang tersedia pada platform digital.
Dalam memproduksi konten, daya tarik visual dan narasi memegang peranan penting agar penonton tertarik untuk menyimak informasi hingga selesai. “Kreator konten harus mampu mengeksplorasi berbagai kemungkinan untuk meningkatkan perhatian publik. Kegiatan-kegiatan yang positif perlu dimasifkan di seluruh jejaring media sosial sebagai bagian dari kontribusi informasi untuk bangsa,” katanya.
Dari sisi teknis, Faza memaparkan bahwa pembuatan video perlu memiliki tujuan format yang jelas, baik dalam ukuran lanskap 16:9 maupun potret 9:16. Meskipun kualitas perangkat keras memengaruhi proses produksi, kreativitas dalam mengolah format konten seperti tanya jawab (Q&A), jajak pendapat (voxpop), maupun kuis tetap dapat menghasilkan karya yang menarik.
Kerja sama tim dalam membaca situasi lapangan juga menjadi kunci, terutama saat menerapkan teknik dasar pengambilan gambar seperti hukum sepertiga (rule of thirds) serta variasi pergerakan kamera (movement) meliputi still, tilt, dolly, crab, truck, dan orbit.
“Hal penting lainnya yang harus diperhatikan adalah resolusi pengambilan gambar, kerapian transisi visual, ritme audio, pemilihan perangkat lunak penyuntingan, hingga batas aman layar (safe area) yang sesuai dengan spesifikasi media sosial. Terpenting, setiap pelaksanaan tugas ini diniatkan sebagai amal saleh yang dikerjakan dengan riang gembira,” tutupnya.








