PALING UPDATE
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Home Nasehat

Sekitar Kita

in Nasehat
394
0
Sekitar Kita

Ilustrasi manusia dikelilingi manusia lainnya. Foto: LINES

553
SHARES
2.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Terus terang saya terserang amnesia berat. Sudah tidak ingat lagi Sekitar Kita

Terus terang saya terserang amnesia berat. Sudah tidak ingat lagi kapan terakhir merasa sedih. Bukan sombong, ini hanya masalah rasa. Tepatnya bentuk kesyukuran dengan memainkan perasaan. Yang artinya bisa mengoptimalkan setiap nikmat yang didapat menutup semua rasa sedih dan kecewa. Seperti iklan bodrex, yang lupa pernah sakit kepala. Hasilnya, plong. Merasakan hidup yang enak terus, nlisir. Sak dermo. Nrimo ing pandum. Dan mengalir. Padahal dalilnya jelas, dalam hidup ini haruslah ada cobaan. Hidup haruslah dengan problematika. Tidak bisa tidak. Ada mushibah, ada nikmat. Ada senang, ada sedih. Ada tawa, ada tangis. Ada sukses, ada gagal. Ada kesulitan, ada kemudahan. Dan lain sebagainya, sebagai suatu bentuk pasangan yang telah diciptakan Allah. Itulah ketentuanNya. Allah berfirman;
لَتُبْلَوُنَّ فِيْٓ اَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْٓا اَذًى كَثِيْرًاۗ وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا فَاِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ
“Kalian pasti akan diuji sungguh dalam (urusan) harta dan diri kalian. Kalain pun pasti akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Alkitab sebelum kalian dan dari orang-orang musyrik. Jika kalian bersabar dan bertakwa, sesungguhnya yang demikian itu termasuk tetapnya perkara.” (QS Ali Imran : 186)

Untuk ukuran hidup, apalagi jarak tempuh, mungkin baru sedikit sekali pengalaman dan petualangan hidup ini di muka bumi. Pulau-pulau besar Indonesia saja belum lengkap dijelajahi. Pulau Jawa pun banyak yang bolong, belum dikunjungi. Jangankan Pulau Jawa, wong Kota Pati sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Pati, yang tercantum di KTP saya sebagai tempat lahir, belum saya kenal dengan baik. Kadang saya jadi malu; mengaku orang Pati, tapi tidak tahu Pati. Begitulah hidup, dengan gaya apa adanya. Apalagi bicara manca negara. Bisa terpaku, terdiam menjadi pendengar setia. Untuk yang lain, sebagai fortifikasi dan diversifikasi juga serupa. Pengalaman berkelahi tidak pernah. Terjun langsung tawuran belum punya catatan. Jadi anak bandel baru sedikit-sedikit mencoba dan tidak berlanjut. Maka terkadang terbersit pengin merasakan satu per satu semua pengalaman itu.

Namun, itu semua bukan ukuran kualitas hidup seseorang yang sebenarnya. Sebab kebijaksanaan tidak melulu datang dari hal yang mahal, pelik dan brilian lagi menantang. Bahkan yang paling sederhana pun bisa menjadi hikmah dan guru hidup yang luar biasa, kalaulah bukan yang terbaik. Sebab selama kita masih berpijak pada bumi yang sama, maka kita bisa belajar dan mendengar dari sejarah orang-orang terdahulu dan pengalaman orang lain di sekitar kita. Walau tanpa pernah mengalaminya sendiri. Sebab apa yang ada di bumi ini memang diperuntukkan bagi kita semua manusia. Tinggal pintar – pintarnya kita mengambil hikmah dan pelajarannya. Walaupun memang beda, antara mengalami sendiri dan mendengarkan cerita orang lain. Ingat, ada hak yang sama di sana sesuai firman Allah ini;
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ
Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (QS Al-Mulk:15)

Banyak penekun kehidupan setelah merasakan pahit-getir lakon hidup berpesan secara mendalam; urusan hidup itu sudah ada yang mengatur. Oleh karena itu jangan suka mengatur hidup. Isilah dengan hal – hal yang bermanfaat saja. Isilah dengan yang baik – baik saja, sebagaimana telah diatur dan diberikan yang Maha Mengatur lewat para utusan, di dalam kitab dan sunnatullahNya. Alam semesta telah banyak memberikan contoh, maka para leluhur nan bijak sering berkata, hiduplah seperti air yang mengalir. Mengasihilah seperti sang surya yang menyinari dunia. Kalau kita berbuat baik Allah senang. Kalau kita berbuat baik, kebaikanlah yang kita temui kembali. Dalam diam, tirulah kehidupan pohon. Pepohonan mengolah racun karbon diokasida menjadi oksigen yang bermanfaat bagi kehidupan. Jika tidak bisa membantu, yang penting jangan menyakiti. Sejuk. Allah mengingatkan;
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗوَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” (QS Al-Isra:7)

Terus dari mana lagi kita bisa meningkatkan kualitas hidup? Setelah diri sendiri, tentu keluarga yang kedua. Keluarga menjadi tempat pertama bagi individu untuk tumbuh, belajar, dan mendapatkan kasih sayang. Keluarga adalah lingkungan awal di mana seseorang belajar nilai-nilai, norma, dan perilaku. Dalam keluarga yang harmonis, setiap anggotanya memiliki tanggung jawab untuk menciptakan kebahagiaan dan keseimbangan, sehingga menjadi tempat yang penuh kedamaian. Berikutnya, yang ketiga, adalah tetangga. Bagaimana individu berkembang di dalam keluarga, kemudian menular pertahan tapi pasti kepada para tetangga.
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ
“ Beribadahlah kepada Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Berbuat baiklah terhadap orang tua, kerabat dekat, anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat. ” (QS An-Nisa:36)

Rasulullah SAW pernah bersabda:
وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بوَائِقَهُ
“Demi Allah, tidak sempurna imannya, demi Allah tidak sempurna imannya, demi Allah tidak sempurna imannya. ” Rasulullah saw ditanya ‘Siapa yang tidak sempurna imannya wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman atas kejahatannya’. ” (HR Al-Bukhari).

Mengambil sari pati dari ayat dan hadits di atas, semoga cerita berikut ini bisa menjadi inspirasi untuk memulai berbuat sesuatu ke lingkungan sekitar terutama tetangga. Diceritakan seorang pewarta mewawancari seorang petani untuk mengetahui rahasia di balik sukses buah jagungnya yang selama bertahun-tahun selalu berhasil memenangkan kontes perlombaan hasil pertanian.

“Apa rahasianya Pak? Kenapa buah jagung Bapak selalu menjadi juara?” tanya sang wartawan.

Petani polos itu menjawab, “Tak ada rahasia. Tak ada resep khusus. Biasa – biasa saja. Sebab setiap musim tanam saya selalu membagi-bagikan bibit jagung terbaik saya pada tetangga-tetangga di sekitar perkebunan saya.”

“Mengapa anda membagi-bagikan bibit jagung terbaik itu pada tetangga-tetangga anda? Bukankah mereka mengikuti kontes ini juga setiap tahunnya?” tanya sang wartawan.

“Anda benar. Tapi tak tahukah anda?,” jawab petani itu, “Bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga yang masak dan menebarkannya dari satu ladang ke ladang yang lain. Bila tanaman jagung tetangga saya buruk, maka serbuk sari yang ditebarkan ke ladang saya juga buruk. Ini tentu menurunkan kualitas jagung saya. Bila saya ingin mendapatkan hasil jagung yang baik, saya harus memberikan kepada tetangga saya jagung yang baik juga, sehingga mereka pun mendapatkan jagung yang baik pula.”

Sangat berharap, kisah singkat di atas membuka mata hati. Sangat menanti, jiwa-jiwa indah yang terus berbunga dan berbakti. Begitulah hidup. Mereka yang ingin meraih keberhasilan harus menolong tetangganya menjadi berhasil pula. Mereka yang menginginkan hidup dengan baik harus menolong tetangganya hidup dengan baik pula. Nilai dari hidup kita diukur dari kehidupan-kehidupan yang kita sentuh di sekitar kita. Tak jauh – jauh. Dan sekarang mari lihat lingkungan sekitar tempat tinggal kita. Bukan hanya langit yang dijunjung, bumi yang dipijak, akan tetapi tetangga juga punya hak untuk diajak berbiak dengan kebaikan-kebaikan.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا زَالَ يُوصِينِي جِبْرِيلُ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ. رواه البخاري
Dari Aisyah ra, dari Nabi SAW, Nabi bersabda, “Jibril terus mewasiatkanku perihal tetangga, sehingga aku menyangka bahwa tetangga akan menjadi ahli waris.” (HR. Al-Bukhari).

Dengan satu helaan nafas yang panjang dan dalam, mungkin sudah terbayang jawaban; sudahkan kita melakukannya? Mudah-mudahan serbuk sari dan angin sepoi cerita di atas mengilhami kita semua untuk selalu berbuat terbaik dan bertumbuh peduli: sekitar kita. terakhir merasa sedih. Bukan sombong, ini hanya masalah rasa. Tepatnya bentuk kesyukuran dengan memainkan perasaan. Yang artinya bisa mengoptimalkan setiap nikmat yang didapat menutup semua rasa sedih dan kecewa. Seperti iklan bodrex, yang lupa pernah sakit kepala. Hasilnya, plong. Merasakan hidup yang enak terus, nlisir. Sak dermo. Nrimo ing pandum. Dan mengalir. Padahal dalilnya jelas, dalam hidup ini haruslah ada cobaan. Hidup haruslah dengan problematika. Tidak bisa tidak. Ada mushibah, ada nikmat. Ada senang, ada sedih. Ada tawa, ada tangis. Ada sukses, ada gagal. Ada kesulitan, ada kemudahan. Dan lain sebagainya, sebagai suatu bentuk pasangan yang telah diciptakan Allah. Itulah ketentuanNya. Allah berfirman;
لَتُبْلَوُنَّ فِيْٓ اَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْٓا اَذًى كَثِيْرًاۗ وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا فَاِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ
“Kalian pasti akan diuji sungguh dalam (urusan) harta dan diri kalian. Kalain pun pasti akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Alkitab sebelum kalian dan dari orang-orang musyrik. Jika kalian bersabar dan bertakwa, sesungguhnya yang demikian itu termasuk tetapnya perkara.” (QS Ali Imran : 186)

Untuk ukuran hidup, apalagi jarak tempuh, mungkin baru sedikit sekali pengalaman dan petualangan hidup ini di muka bumi. Pulau-pulau besar Indonesia saja belum lengkap dijelajahi. Pulau Jawa pun banyak yang bolong, belum dikunjungi. Jangankan Pulau Jawa, wong Kota Pati sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Pati, yang tercantum di KTP saya sebagai tempat lahir, belum saya kenal dengan baik. Kadang saya jadi malu; mengaku orang Pati, tapi tidak tahu Pati. Begitulah hidup, dengan gaya apa adanya. Apalagi bicara manca negara. Bisa terpaku, terdiam menjadi pendengar setia. Untuk yang lain, sebagai fortifikasi dan diversifikasi juga serupa. Pengalaman berkelahi tidak pernah. Terjun langsung tawuran belum punya catatan. Jadi anak bandel baru sedikit-sedikit mencoba dan tidak berlanjut. Maka terkadang terbersit pengin merasakan satu per satu semua pengalaman itu.

Namun, itu semua bukan ukuran kualitas hidup seseorang yang sebenarnya. Sebab kebijaksanaan tidak melulu datang dari hal yang mahal, pelik dan brilian lagi menantang. Bahkan yang paling sederhana pun bisa menjadi hikmah dan guru hidup yang luar biasa, kalaulah bukan yang terbaik. Sebab selama kita masih berpijak pada bumi yang sama, maka kita bisa belajar dan mendengar dari sejarah orang-orang terdahulu dan pengalaman orang lain di sekitar kita. Walau tanpa pernah mengalaminya sendiri. Sebab apa yang ada di bumi ini memang diperuntukkan bagi kita semua manusia. Tinggal pintar – pintarnya kita mengambil hikmah dan pelajarannya. Walaupun memang beda, antara mengalami sendiri dan mendengarkan cerita orang lain. Ingat, ada hak yang sama di sana sesuai firman Allah ini;
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ
Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (QS Al-Mulk:15)

Banyak penekun kehidupan setelah merasakan pahit-getir lakon hidup berpesan secara mendalam; urusan hidup itu sudah ada yang mengatur. Oleh karena itu jangan suka mengatur hidup. Isilah dengan hal – hal yang bermanfaat saja. Isilah dengan yang baik – baik saja, sebagaimana telah diatur dan diberikan yang Maha Mengatur lewat para utusan, di dalam kitab dan sunnatullahNya. Alam semesta telah banyak memberikan contoh, maka para leluhur nan bijak sering berkata, hiduplah seperti air yang mengalir. Mengasihilah seperti sang surya yang menyinari dunia. Kalau kita berbuat baik Allah senang. Kalau kita berbuat baik, kebaikanlah yang kita temui kembali. Dalam diam, tirulah kehidupan pohon. Pepohonan mengolah racun karbon diokasida menjadi oksigen yang bermanfaat bagi kehidupan. Jika tidak bisa membantu, yang penting jangan menyakiti. Sejuk. Allah mengingatkan;
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗوَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” (QS Al-Isra:7)

Terus dari mana lagi kita bisa meningkatkan kualitas hidup? Setelah diri sendiri, tentu keluarga yang kedua. Keluarga menjadi tempat pertama bagi individu untuk tumbuh, belajar, dan mendapatkan kasih sayang. Keluarga adalah lingkungan awal di mana seseorang belajar nilai-nilai, norma, dan perilaku. Dalam keluarga yang harmonis, setiap anggotanya memiliki tanggung jawab untuk menciptakan kebahagiaan dan keseimbangan, sehingga menjadi tempat yang penuh kedamaian. Berikutnya, yang ketiga, adalah tetangga. Bagaimana individu berkembang di dalam keluarga, kemudian menular perlahan tapi pasti kepada para tetangga.
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ
“ Beribadahlah kepada Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Berbuat baiklah terhadap orang tua, kerabat dekat, anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat. ” (QS An-Nisa:36)

Rasulullah SAW pernah bersabda:
وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بوَائِقَهُ
“Demi Allah, tidak sempurna imannya, demi Allah tidak sempurna imannya, demi Allah tidak sempurna imannya. ” Rasulullah saw ditanya ‘Siapa yang tidak sempurna imannya wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman atas kejahatannya’. ” (HR Al-Bukhari).

Mengambil sari pati dari ayat dan hadits di atas, semoga cerita berikut ini bisa menjadi inspirasi untuk memulai berbuat sesuatu ke lingkungan sekitar terutama tetangga. Diceritakan seorang pewarta mewawancari seorang petani untuk mengetahui rahasia di balik sukses buah jagungnya yang selama bertahun-tahun selalu berhasil memenangkan kontes perlombaan hasil pertanian.

“Apa rahasianya Pak? Kenapa buah jagung Bapak selalu menjadi juara?” tanya sang wartawan.

Petani polos itu menjawab, “Tak ada rahasia. Tak ada resep khusus. Biasa – biasa saja. Sebab setiap musim tanam saya selalu membagi-bagikan bibit jagung terbaik saya pada tetangga-tetangga di sekitar perkebunan saya.”

“Mengapa anda membagi-bagikan bibit jagung terbaik itu pada tetangga-tetangga anda? Bukankah mereka mengikuti kontes ini juga setiap tahunnya?” tanya sang wartawan.

“Anda benar. Tapi tak tahukah anda?,” jawab petani itu, “Bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga yang masak dan menebarkannya dari satu ladang ke ladang yang lain. Bila tanaman jagung tetangga saya buruk, maka serbuk sari yang ditebarkan ke ladang saya juga buruk. Ini tentu menurunkan kualitas jagung saya. Bila saya ingin mendapatkan hasil jagung yang baik, saya harus memberikan kepada tetangga saya jagung yang baik juga, sehingga mereka pun mendapatkan jagung yang baik pula.”

Sangat berharap, kisah singkat di atas membuka mata hati. Sangat menanti, jiwa-jiwa indah yang terus berbunga dan berbakti. Begitulah hidup. Mereka yang ingin meraih keberhasilan harus menolong tetangganya menjadi berhasil pula. Mereka yang menginginkan hidup dengan baik harus menolong tetangganya hidup dengan baik pula. Nilai dari hidup kita diukur dari kehidupan-kehidupan yang kita sentuh di sekitar kita. Tak jauh – jauh. Dan sekarang mari lihat lingkungan sekitar tempat tinggal kita. Bukan hanya langit yang dijunjung, bumi yang dipijak, akan tetapi tetangga juga punya hak untuk diajak berbiak dengan kebaikan-kebaikan.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا زَالَ يُوصِينِي جِبْرِيلُ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ. رواه البخاري
Dari Aisyah ra, dari Nabi SAW, Nabi bersabda, “Jibril terus mewasiatkanku perihal tetangga, sehingga aku menyangka bahwa tetangga akan menjadi ahli waris.” (HR. Al-Bukhari).

Dengan satu helaan nafas yang panjang dan dalam, mungkin sudah terbayang jawaban; sudahkah kita melakukannya? Mudah-mudahan serbuk sari dan angin sepoi cerita di atas mengilhami kita semua untuk selalu berbuat terbaik dan bertumbuh peduli: sekitar kita.

Tags: al mulk 15ali imronmanusiaNasehatSekitar kita

Related Posts

Nasehat Seorang Ayah Kepada Anaknya
Headline

Nasehat Seorang Ayah Kepada Anaknya

by admin
March 17, 2026
0

Oleh Ust. Tommy Sutomo Di dalam Islam, ada sosok Ayah yang menjadi panutan bagi umat muslim dalam menasehati anaknya. Sosok Ayah tersebut...

Read more
Nasehat untuk Anak
Nasehat

Nasehat untuk Anak

by admin
March 14, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah* Nak, orang tuamu adalah akar yang tersembunyi di dalam tanah yang gelap dan sunyi, agar engkau menjadi dahan yang...

Read more
Nasehat untuk Orang Tua
Nasehat

Nasehat untuk Orang Tua

by admin
March 14, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah* Wahai para orang tua, anak-anakmu bukanlah milikmu. Mereka datang melaluimu, tetapi bukan darimu. Dan meskipun mereka bersamamu, mereka bukan...

Read more
Walimah Pernikahan dalam Islam: Sederhana, Sesuai Kemampuan, dan Penuh Keberkahan
Headline

Walimah Pernikahan dalam Islam: Sederhana, Sesuai Kemampuan, dan Penuh Keberkahan

by admin
March 10, 2026
0

Oleh Aceng Karimullah Salah satu pertimbangan yang sering muncul bagi para pemuda dan pemudi yang belum menikah adalah persoalan biaya resepsi pernikahan....

Read more
Nasehat untuk Para Suami
Nasehat

Nasehat untuk Para Suami

by admin
March 10, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah Menjadi suami bukanlah tentang menjadi tuan di atas singgasana. Terlena tanpa beban. Ingat, setelah menikah status baru menantimu. Allah...

Read more
Nasehat untuk Para Istri
Nasehat

Nasehat untuk Para Istri

by admin
March 10, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah* Dalam rumah tangga, istri bukan sekadar penghuni dinding batu, melainkan roh yang menghidupkan setiap sudutnya. Ketaatan kepada suami bukanlah bentuk...

Read more

Trending

Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas Ramadan, LDII Kabupaten Bandung Hadiri Bukber Polresta
Lintas Daerah

Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas Ramadan, LDII Kabupaten Bandung Hadiri Bukber Polresta

13 hours ago
Tiga Ormas Islam di Jombang Jalin Ukhuwah Islamiyah dengan Safari Ramadan
Lintas Daerah

Tiga Ormas Islam di Jombang Jalin Ukhuwah Islamiyah dengan Safari Ramadan

13 hours ago
Bawa Hidangan dalam Rantang, Wali Kota Mojokerto Buka Puasa Bersama Warga LDII
Lintas Daerah

Bawa Hidangan dalam Rantang, Wali Kota Mojokerto Buka Puasa Bersama Warga LDII

13 hours ago
Ratusan Warga LDII Semarang Meriahkan Tarawih Keliling di Rumah Dinas Wali Kota
Lintas Daerah

Ratusan Warga LDII Semarang Meriahkan Tarawih Keliling di Rumah Dinas Wali Kota

13 hours ago
LDII Lampung Helat Itikaf Bersama di 603 Masjid dan 21 Pesantren se-Lampung
Lintas Daerah

LDII Lampung Helat Itikaf Bersama di 603 Masjid dan 21 Pesantren se-Lampung

13 hours ago
Nuansa Persada

Majalah Resmi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Hubungi kami untuk layanan iklan online: marketing@nuansaonline.com

Follow Us

Recent News

Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas Ramadan, LDII Kabupaten Bandung Hadiri Bukber Polresta

Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas Ramadan, LDII Kabupaten Bandung Hadiri Bukber Polresta

March 17, 2026
Tiga Ormas Islam di Jombang Jalin Ukhuwah Islamiyah dengan Safari Ramadan

Tiga Ormas Islam di Jombang Jalin Ukhuwah Islamiyah dengan Safari Ramadan

March 17, 2026

ARSIP

  • Iklan
  • Privacy & Policy

© 2021 - Designed by GenerusMedia

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Energi
  • Fa Aina Tadzhabun
  • Iptek
  • Apa Siapa
  • Digital
  • Hukum
  • Jejak Islam
  • Kesehatan
  • Kisah Teladan
  • Laporan
  • Lentera Hati
  • Liputan Khusus
  • Lintas Daerah
  • Resonansi
  • Olah Raga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Remaja
  • Siraman Rohani
  • Khutbah (PDF)
    • Khutbah Jumat Bahasa Arab
    • Idul Fitri Bahasa Arab
    • Idul Fitri (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (ust. Imam Rusdi)
    • Idul Adha (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (Kediri 2017)

© 2021 - Designed by GenerusMedia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In