PALING UPDATE
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Home Nasehat

D l o s o r

in Nasehat
380
0
D l o s o r

Ilustrasi: AI Generated-LINES.

556
SHARES
2.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan

Dalam budaya Jawa, kata dlosor terdengar begitu sederhana—sekadar duduk menempel lantai, menunduk, atau merebahkan diri ke bumi. Namun di balik makna lahiriahnya, dlosor menyimpan samudra hikmah. Ia bukan sekadar posisi tubuh, melainkan cermin laku batin: merendah, andhap asor, dan membumi. Dlosor adalah seni menundukkan hati tanpa kehilangan harga diri; ia mengajarkan harmoni dalam hubungan antarmanusia dan kesadaran akan tempat kita di hadapan Sang Pencipta.

Sejak dahulu para leluhur menanamkan kebijaksanaan ini dalam ungkapan yang masih bergema indah hingga kini: papan, empan, adepan—tahu tempat, tahu cara, dan tahu waktu. Orang yang mau dlosor tidak meletakkan dirinya di atas orang lain, tetapi juga tidak menafikan martabatnya sendiri. Ia paham kapan berbicara dan kapan mendengar, kapan hadir dan kapan menepi. Dalam dunia yang riuh oleh pamer prestasi dan ajang unjuk diri, sikap dlosor membawa kesejukan yang langka. Ia hadir dalam hal-hal kecil: kata-kata yang lembut, tindakan yang tidak berlebihan, kesediaan memikul tanggung jawab tanpa menuntut pujian.

Warisan spiritual Islam meneguhkan makna luhur ini. Ketika Aisyah r.a. bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang makna ayat “Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan, sedang hati mereka takut (tidak diterima)” (QS. Al-Mu’minun:60), Beliau menjawab:”Bukan mereka yang mencuri atau berbuat dosa, wahai putri Ash-Shiddiq, melainkan mereka yang rajin shalat, berpuasa, dan bersedekah, sementara hati mereka khawatir amalnya tak diterima. Mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan dan berlomba-lomba melakukannya.” (HR. Ahmad).

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَنْ هَذِهِ الْآيَةِ: ﴿وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ﴾، فَقُلْتُ: أَهُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الْخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ؟ فَقَالَ: «لَا، يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَلَّا يُقْبَلَ مِنْهُمْ. أُو۟لَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي ٱلْخَيْرَٰتِ وَهُمْ لَهَا سَٰبِقُونَ

Mereka merendah meski telah berbuat banyak, khawatir amalnya tak layak di sisi Allah.

Begitu pula teladan Rasulullah ﷺ dalam keseharian. Dalam sebuah warisan tua, Aisyah r.a. meriwayatkan dengan indah.

عَنْ عُرْوَةَ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ أي شَيْءٌ كَانَ يَصْنَعُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟ قَالَتْ: “مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ”

Urwah bertanya kepada ‘Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersamamu (di rumahmu)?” Aisyah menjawab, “Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember.” (HR. Ahmad)

Pemimpin semesta ini justru memilih dlosor dalam rumahnya: sederhana, melayani, tanpa jarak.

Pepatah Jawa berkata, endhog pecah dadi manuk, watu pecah dadi kerikil—telur pecah melahirkan kehidupan, batu pecah hanya menjadi butiran. Pepatah ini mengajarkan bahwa kerendahan justru bisa menumbuhkan kekuatan. Demikian pula dengan dlosor: semakin ia menunduk, merunduk, semakin ia mampu menumbuhkan hubungan yang sehat, menenteramkan banyak hati orang lain, dan menebar kebaikan. Kerendahan hati tidak pernah merugikan. Justru, orang yang mau dlosor akan ditinggikan oleh orang lain tanpa ia minta. Dalam terminologi spiritual, semakin seseorang merendah, semakin dekat ia pada sumber kemuliaan sejati. Kerendahan justru menumbuhkan kekuatan. Orang yang mau dlosor akan ditinggikan tanpa ia minta. Rasulullah ﷺ menegaskan: “Tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).

Laku dlosor bukan tanda minder, melainkan seni merendah tanpa merasa rendah. Seorang tetangga yang rela duduk lesehan bersama warga tanpa menuntut kursi istimewa—itulah dlosor. Seorang pemimpin yang mau turun mendengar keluh kesah rakyatnya tanpa jarak—itulah dlosor. Seorang sahabat yang memilih diam demi menjaga perasaan orang lain meski ia benar—itulah dlosor. Bahkan dalam rumah tangga, suami yang membantu pekerjaan istri, atau istri yang tulus meminta maaf di penghujung hari, semuanya adalah wujud dlosor. Kebijaksanaan universal pun berpadu di sini. Lao Tzu, filsuf Tiongkok, berpesan: “Laut menjadi raja dari semua sungai karena ia merendahkan dirinya di bawah mereka.” Sementara C. S. Lewis mengingatkan: “Kerendahan hati bukan berpikir lebih rendah tentang diri kita, tetapi berpikir lebih sedikit tentang diri kita.”

Zaman modern sering mendorong kita untuk “meninggi”: tampil menawan di media sosial, menunjukkan siapa yang paling pintar, paling kaya, paling sukses, paling hebat. Namun, di balik segala hiruk pikuk itu, hati manusia tetap merindukan ketulusan. Orang tidak selalu butuh kagum; kadang mereka hanya ingin merasa diterima. Inilah ruang tempat dlosor bekerja. Maka, belajar dlosor dan mau dlosori berarti belajar membumikan diri. Tidak lagi terjebak pada ambisi untuk menjadi yang paling bersinar, tetapi rela menjadi cahaya kecil yang menerangi sekitar. Tidak lagi mengejar pengakuan dunia, tetapi cukup berbahagia bila bisa membuat orang lain nyaman dan bahagia.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ:الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda: “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR Al-Bukhari)

Dlosor menuntun kita menjaga lisan dan perbuatan agar tak melukai. Seperti dikatakan Konosuke Matsushita, pendiri Panasonic: “Kesuksesan sejati bukan pada seberapa tinggi kita berdiri, melainkan pada kemampuan kita menunduk ketika perlu.” Pada akhirnya, dlosor dan dlosori bukan sekadar gerak tubuh, melainkan jalan hidup. Laku membumi yang menyadarkan kita bahwa manusia, betapa pun hebatnya, tetaplah tanah yang suatu saat akan kembali ke bumi. Dan justru karena merendah, ia diangkat tinggi oleh Sang Pemilik Ketinggian. Inilah seni merendah yang sesungguhnya meninggikan. Sebagaimana diingatkan Mahatma Gandhi: “Kerendahan hati adalah kunci setiap kebesaran sejati.”

Tags: DlosorMerendahNasehatsederhana

Related Posts

Mengaji dan Mengamalkan Barometer Kecerdasan Sejati Menurut Allah
Headline

Mengaji dan Mengamalkan Barometer Kecerdasan Sejati Menurut Allah

by admin
March 20, 2026
0

Oleh Muhammad Naufal Dalam proses belajar, kita sering mengenal dua hal yang saling melengkapi, yaitu teori dan praktik. Keduanya tidak dapat dipisahkan....

Read more
MIftakhudin
Headline

Ilmu dan Doa sebagai Penjaga Diri di Tengah Ujian Zaman

by admin
March 19, 2026
0

Oleh Miftakhuddin Mubarok Rasulullah SAW telah memberikan banyak isyarat tentang kondisi umat manusia menjelang akhir zaman. Di antara peringatan penting tersebut adalah...

Read more
Andika Faza
Headline

Perkuat Ilmu Agama Melewati Tantangan Fitnah Akhir Zaman

by admin
March 19, 2026
0

Oleh Muhammad Andika Faza Umat Islam dihadapkan pada berbagai tantangan dan pengaruh yang semakin kompleks. Perkembangan zaman yang pesat membawa dampak besar...

Read more
Bagus Ari Sunanto
Headline

Oase Hikmah: Bergegas Mencari Ampunan dan Surga Allah

by admin
March 19, 2026
0

Dalam tayangan Oase Hikmah LDII TV, Ust. Bagus Ari Sunanto menyampaikan nasihat mengenai pentingnya kesungguhan dalam mencari ampunan Allah dan meraih surga-Nya....

Read more
Nasehat Seorang Ayah Kepada Anaknya
Headline

Nasehat Seorang Ayah Kepada Anaknya

by admin
March 17, 2026
0

Oleh Ust. Tommy Sutomo Di dalam Islam, ada sosok Ayah yang menjadi panutan bagi umat muslim dalam menasehati anaknya. Sosok Ayah tersebut...

Read more
Nasehat untuk Anak
Nasehat

Nasehat untuk Anak

by admin
March 14, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah* Nak, orang tuamu adalah akar yang tersembunyi di dalam tanah yang gelap dan sunyi, agar engkau menjadi dahan yang...

Read more

Trending

LDII Purwantoro Tingkatkan Koordinasi dengan Pemerintah, Dorong Program Sosial dan Keagamaan
Lintas Daerah

LDII Purwantoro Tingkatkan Koordinasi dengan Pemerintah, Dorong Program Sosial dan Keagamaan

1 day ago
Perkuat Literasi Keuangan Syariah, Wali Barokah Hadiri Gathering BSI di Kediri
Lintas Daerah

Perkuat Literasi Keuangan Syariah, Wali Barokah Hadiri Gathering BSI di Kediri

1 day ago
Ponpes Wali Barokah Hadiri Peluncuran ‘Ronda Digital’ Kota Kediri Bersama Kabaharkam Polri
Nasional

Ponpes Wali Barokah Hadiri Peluncuran ‘Ronda Digital’ Kota Kediri Bersama Kabaharkam Polri

1 day ago
LDII Klaten Dukung Forsgi, Turnamen Usia Dini Jadi Wadah Pembinaan Karakter
Lintas Daerah

LDII Klaten Dukung Forsgi, Turnamen Usia Dini Jadi Wadah Pembinaan Karakter

1 day ago
LDII Sukoharjo Bekali Dai Hadapi Era Digital, Perkuat Metode dan Etika Dakwah
Lintas Daerah

LDII Sukoharjo Bekali Dai Hadapi Era Digital, Perkuat Metode dan Etika Dakwah

1 day ago
Nuansa Persada

Majalah Resmi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Hubungi kami untuk layanan iklan online: marketing@nuansaonline.com

Follow Us

Recent News

LDII Purwantoro Tingkatkan Koordinasi dengan Pemerintah, Dorong Program Sosial dan Keagamaan

LDII Purwantoro Tingkatkan Koordinasi dengan Pemerintah, Dorong Program Sosial dan Keagamaan

April 30, 2026
Perkuat Literasi Keuangan Syariah, Wali Barokah Hadiri Gathering BSI di Kediri

Perkuat Literasi Keuangan Syariah, Wali Barokah Hadiri Gathering BSI di Kediri

April 30, 2026

ARSIP

  • Iklan
  • Privacy & Policy

© 2021 - Designed by GenerusMedia

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Energi
  • Fa Aina Tadzhabun
  • Iptek
  • Apa Siapa
  • Digital
  • Hukum
  • Jejak Islam
  • Kesehatan
  • Kisah Teladan
  • Laporan
  • Lentera Hati
  • Liputan Khusus
  • Lintas Daerah
  • Resonansi
  • Olah Raga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Remaja
  • Siraman Rohani
  • Khutbah (PDF)
    • Khutbah Jumat Bahasa Arab
    • Idul Fitri Bahasa Arab
    • Idul Fitri (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (ust. Imam Rusdi)
    • Idul Adha (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (Kediri 2017)

© 2021 - Designed by GenerusMedia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In