PALING UPDATE
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Home Nasehat

Kita Bukanlah Kaka Tua

in Nasehat
385
0
Kita Bukanlah Kaka Tua

Ilustrasi: Pinterest.

551
SHARES
2.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan

Seorang sahabat, dalam suatu acara jalan santai di bilangan Thamrin – Sudirman, berbagi sebuah cerita. Tiba-tiba saja saya menjadi tertarik dengan cerita itu. Terkait burung kaka tua. Bukan subyeknya tetapi konteksnya. Karena berpadanan dengan cerita yang baru saya baca. Terkait kucing. Dari dua cerita ini, sungguh sangat menginspirasi. Kucing dan kaka tua. Walau itu hanya sekedar cerita, tetapi saya pun berminat menjadikannya sebagai pembelajaran yang berguna. Setidaknya untuk instrospeksi diri, kalaulah bukan sebagai hikmah.

Cerita pertama, terkait seekor kucing. Setiap kali sang guru spiritual sedang memimpin meditasi bersama murid-muridnya, seekor kucing di kuil selalu mengganggu dengan berkeliling dan mengeong. Akhirnya, sang guru memutuskan untuk mengikat si kucing ke tiang selama sesi meditasi berlangsung. Maka, semua bisa bermeditasi dengan tenang.

Bertahun-tahun kemudian, sang guru wafat, namun para murid tetap melanjutkan tradisi mengikat kucing ke tiang setiap kali bermeditasi. Ketika akhirnya kucing itu mati, para murid mencari kucing baru untuk diikat ke tiang, karena mereka menganggap itu bagian penting dari praktik meditasi. Lama-lama, para murid menulis buku tentang pentingnya kehadiran kucing saat meditasi. Mereka membuat doktrin tentang simbolisme spiritual dari kucing yang diikat, dan bagaimana hal itu membantu pencapaian kesadaran yang lebih tinggi.

Cerita kedua, kucing dan kaka tua. Seorang Kiai yang mengajarkan aqidah kepada murid-muridnya, menjelaskan kepada mereka bahwa sari pati ilmu yaitu kalimat; “Laa ilaaha illallaah” beserta maknanya. Selain itu Pak Kiai ini juga mendidik mereka dengan keteladanan Rasulullah SAW. Dan tak lupa dalam pengajarannya, beliau berusaha menanamkannya ke dalam jiwa murid-muridnya.

Di samping kegiatan mengajarnya, ternyata Pak Kiai mempunyai hobi lain yaitu memelihara burung dan kucing. Kondisi itu membuat salah seorang muridnya berinisiatif menghadiahkan padanya seekor burung kaka tua. Dasar hobi, makin hari Pak Kiai semakin senang dengan burung itu dan sering membawanya pada saat mengajar murid-muridnya. Dengan naluri alamiah dan kemampuannya, karena sering mendengar kaka tua itu belajar mengucapkan kalimat tauhid: “Laa ilaaha illallaah”. Burung kaka tua itupun akhirnya bisa mengucapkan Laa ilaaha illallaah siang-malam dengan fasihnya.

Suatu hari, ada pemandangan yang tidak biasa. Murid-murid mendapati Pak Kiai tengah menangis tersedu. Ketika ditanya, kenapa beliau menangis, dengan terbata-bata dan kalimat yang singkat dia berkata; ”Kucing telah menerkam kakatua dan membunuhnya.”

Jawaban singkat itu, membuat para murid saling berpandangan dengan mimik keheranan dan penuh tanda tanya. Salah seorang dari mereka berdiri mewakili dan berkomentar; “Hanya karena inikah engkau menangis? Kalau anda menginginkan kami bisa datangkan burung lain. Bahkan burung yang jauh lebih baik.”

Pak Kiai berkata: “Bukan karena itu aku menangis, tetapi (sambil menghela nafas panjang), yang membuat aku menangis adalah, ketika diserang kucing, burung itu hanya berteriak-teriak saja sampai matinya. Padahal dia sering sekali mengucapkan kalimat “laa ilaaha illallaah ” .Tetapi mengapa ketika diterkam kucing ia lupa kalimat itu. Tidak mengucapkan apapun, kecuali hanya teriakan makian dan rintihan. Saya jadi tahu, bahwa selama ini, ia hanya mengucapkan “laa ilaaha illallah” dengan lisannya saja. Sementara hatinya tidak memahami dan tidak menghayatinya.”

Pak Kiai melanjutkan petuahnya; “Aku khawatir kalau nanti kita seperti kaka tua itu. Saat kita hidup mengulang-ulang kalimat “laa ilaaha illallaah” dengan lisan kita, tapi ketika maut datang kita pun lupa. Tidak bisa mengingatnya, karena hati dan jiwa kita belum memahami dan menghayatinya. Lahir dan batin.”

Mendengarkan penjelasan Pak Kiai itu, para murid pun akhirnya terdiam, tersadar dan menangis pula, khawatir tidak jujur terhadap kalimat tauhid ini. Dan kita sendiri, apakah kita telah menanamkan kalimat “laa ilaaha illallaah” ini ke dalam hati sanubari kita dengan sebenar-benarnya?

Sebelum terlanjur jauh, mungkin ada yang menafikan moral cerita di atas denggan firman Allah di dalam Kitabnya. Allah berfirman;

يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ وَيُضِلُّ اللّٰهُ الظّٰلِمِيْنَۗ وَيَفْعَلُ اللّٰهُ مَا يَشَاۤ

“Allah menetapkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang tetap itu, di dalam kehidupan dunia maupun akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS Ibrahim:27)

Tepat sekali. Tidak mengapa, memang benar, bahwa ada jaminan dari Allah jika keimanan kita benar, maka segala permasalahan akhir kehidupan kita akan mulus dan tidak akan sampai seperti burung kaka tua tersebut. Dengan beriman yang benar dan keimanan yang benar hidup kita dijamin oleh Allah akan baik di dunia maupun akhirat. Permasalahannya adalah hanya kita sendiri dan Allah yang tahu seperti apa kadar keimanan kita. Orang lain hanya tahu lahiriahnya saja. Bahkan malaikat pun tertipu. Beberapa tahun yang lalu saya mendapati, orang yang tampaknya saleh, tinggalnya gandeng dengan masjid, setiap ngaji tak pernah ketinggalan, ternyata di akhir hayatnya setelah dicoba sakit yang sedemikian rupa, tak disangka ditemukan mati pada seutas tali. Na’udzubillahi min dzalik.

Mungkin juga ada yang langsung mengambil dengan baik moral cerita di atas dengan perbaikan diri, tidak hanya dalam kalimat thayyibah Laa ilaaha illallaah saja, tetapi menyeluruh dalam setiap ladang beramal. Itu sangat berguna. Selalu dengan niat mukhlish lillah karena Allah dan totalitasnya; lahir batin. Lain tidak. Hal ini didasari bahwa Iblis dan bala tentaranya selalu mengintai setiap kesempatan untuk mengajak dan menjerumuskan setiap anak Adam ke dalam neraka. Bahkan ketika ajal datang menjemput. Allah berfirman;

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.” (QS Al-Hijr: 39-40)

Apapun pilihan kita, semua ada konsekuensinya. Oleh karena itu perlu direnungkan bahwa tidak ada sesuatupun yang naik ke langit yang lebih agung dibanding keikhlasan. Dan tidak ada sesuatupun yang turun ke bumi yang lebih agung dari taufiq dan hidayah Allah. Dan sesuai kadar keikhlasan itulah, taufiq Allah kita dapatkan. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ أَلآتَخَافُوا وَلاَتَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلأَخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَاتَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَاتَدَّعُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Rabb kami adalah Allah kemudian mereka beristiqomah, maka para malaikat turun kepada mereka (sembari berkata):” Janganlah kamu bersedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu di dunia dan akhirat di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Rabb Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. [QS. Fushshilat: 30 – 31]

Selamat merenung.

Related Posts

Mengaji dan Mengamalkan Barometer Kecerdasan Sejati Menurut Allah
Headline

Mengaji dan Mengamalkan Barometer Kecerdasan Sejati Menurut Allah

by admin
March 20, 2026
0

Oleh Muhammad Naufal Dalam proses belajar, kita sering mengenal dua hal yang saling melengkapi, yaitu teori dan praktik. Keduanya tidak dapat dipisahkan....

Read more
MIftakhudin
Headline

Ilmu dan Doa sebagai Penjaga Diri di Tengah Ujian Zaman

by admin
March 19, 2026
0

Oleh Miftakhuddin Mubarok Rasulullah SAW telah memberikan banyak isyarat tentang kondisi umat manusia menjelang akhir zaman. Di antara peringatan penting tersebut adalah...

Read more
Andika Faza
Headline

Perkuat Ilmu Agama Melewati Tantangan Fitnah Akhir Zaman

by admin
March 19, 2026
0

Oleh Muhammad Andika Faza Umat Islam dihadapkan pada berbagai tantangan dan pengaruh yang semakin kompleks. Perkembangan zaman yang pesat membawa dampak besar...

Read more
Bagus Ari Sunanto
Headline

Oase Hikmah: Bergegas Mencari Ampunan dan Surga Allah

by admin
March 19, 2026
0

Dalam tayangan Oase Hikmah LDII TV, Ust. Bagus Ari Sunanto menyampaikan nasihat mengenai pentingnya kesungguhan dalam mencari ampunan Allah dan meraih surga-Nya....

Read more
Nasehat Seorang Ayah Kepada Anaknya
Headline

Nasehat Seorang Ayah Kepada Anaknya

by admin
March 17, 2026
0

Oleh Ust. Tommy Sutomo Di dalam Islam, ada sosok Ayah yang menjadi panutan bagi umat muslim dalam menasehati anaknya. Sosok Ayah tersebut...

Read more
Nasehat untuk Anak
Nasehat

Nasehat untuk Anak

by admin
March 14, 2026
0

Oleh Wilnan Fatahillah* Nak, orang tuamu adalah akar yang tersembunyi di dalam tanah yang gelap dan sunyi, agar engkau menjadi dahan yang...

Read more

Trending

LDII Purwantoro Tingkatkan Koordinasi dengan Pemerintah, Dorong Program Sosial dan Keagamaan
Lintas Daerah

LDII Purwantoro Tingkatkan Koordinasi dengan Pemerintah, Dorong Program Sosial dan Keagamaan

2 days ago
Perkuat Literasi Keuangan Syariah, Wali Barokah Hadiri Gathering BSI di Kediri
Lintas Daerah

Perkuat Literasi Keuangan Syariah, Wali Barokah Hadiri Gathering BSI di Kediri

2 days ago
Ponpes Wali Barokah Hadiri Peluncuran ‘Ronda Digital’ Kota Kediri Bersama Kabaharkam Polri
Nasional

Ponpes Wali Barokah Hadiri Peluncuran ‘Ronda Digital’ Kota Kediri Bersama Kabaharkam Polri

2 days ago
LDII Klaten Dukung Forsgi, Turnamen Usia Dini Jadi Wadah Pembinaan Karakter
Lintas Daerah

LDII Klaten Dukung Forsgi, Turnamen Usia Dini Jadi Wadah Pembinaan Karakter

2 days ago
LDII Sukoharjo Bekali Dai Hadapi Era Digital, Perkuat Metode dan Etika Dakwah
Lintas Daerah

LDII Sukoharjo Bekali Dai Hadapi Era Digital, Perkuat Metode dan Etika Dakwah

2 days ago
Nuansa Persada

Majalah Resmi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Hubungi kami untuk layanan iklan online: marketing@nuansaonline.com

Follow Us

Recent News

LDII Purwantoro Tingkatkan Koordinasi dengan Pemerintah, Dorong Program Sosial dan Keagamaan

LDII Purwantoro Tingkatkan Koordinasi dengan Pemerintah, Dorong Program Sosial dan Keagamaan

April 30, 2026
Perkuat Literasi Keuangan Syariah, Wali Barokah Hadiri Gathering BSI di Kediri

Perkuat Literasi Keuangan Syariah, Wali Barokah Hadiri Gathering BSI di Kediri

April 30, 2026

ARSIP

  • Iklan
  • Privacy & Policy

© 2021 - Designed by GenerusMedia

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Energi
  • Fa Aina Tadzhabun
  • Iptek
  • Apa Siapa
  • Digital
  • Hukum
  • Jejak Islam
  • Kesehatan
  • Kisah Teladan
  • Laporan
  • Lentera Hati
  • Liputan Khusus
  • Lintas Daerah
  • Resonansi
  • Olah Raga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Remaja
  • Siraman Rohani
  • Khutbah (PDF)
    • Khutbah Jumat Bahasa Arab
    • Idul Fitri Bahasa Arab
    • Idul Fitri (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (ust. Imam Rusdi)
    • Idul Adha (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (Kediri 2017)

© 2021 - Designed by GenerusMedia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In