Jkarta (5/6) – Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada 5 Juni, DPP LDII menegaskan pentingnya penerapan karakter mujhid muzhid dan mandiri sebagai solusi dalam menghadapi persoalan sampah dan lingkungan yang kian kompleks.
Anggota Departemen Litbang, IPTEK, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup DPP LDII, Siham Afatta, menjelaskan bahwa permasalahan sampah tidak hanya berkaitan dengan sistem pengelolaan, tetapi juga dipengaruhi pola konsumsi masyarakat yang menghasilkan timbulan sampah dalam jumlah besar setiap hari.
“Karakter mujhid muzhid mengajarkan kesungguhan sekaligus hidup hemat. Dalam konteks lingkungan, hemat berarti mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menghindari pemborosan, memilih produk yang dapat digunakan kembali, serta mengendalikan pola konsumsi,” ujar Siham.
Menurutnya, semakin sedikit sampah yang dihasilkan dari sumbernya, maka semakin ringan pula beban lingkungan. Karena itu, nilai mujhid muzhid perlu berjalan seiring dengan karakter mandiri dalam kehidupan sehari-hari.
Siham menegaskan bahwa persoalan sampah tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah maupun petugas kebersihan. Masyarakat perlu berperan aktif mulai dari tingkat rumah tangga dengan memilah sampah, mengolah sampah organik menjadi kompos, serta memanfaatkan kembali barang yang masih memiliki nilai guna.
Senada dengan itu, Ketua DPP LDII, Dicky Budiman, yang juga ahli epidemiologi dan lingkungan dari Griffith University Australia, menilai persoalan sampah saat ini telah berkembang menjadi masalah kesehatan masyarakat, lingkungan, ekonomi, bahkan ketahanan bangsa.
“Persoalan sampah bukan lagi sekadar masalah kebersihan. Sampah menjadi faktor yang mengganggu kesehatan manusia dan berdampak luas terhadap berbagai sektor kehidupan,” kata Dicky.
Ia mengungkapkan bahwa Indonesia menghasilkan lebih dari 50 juta ton sampah setiap tahun. Sebagian besar berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA), sementara sebagian lainnya mencemari sungai, laut, atau dibakar secara terbuka yang berdampak buruk bagi lingkungan.
Menurut Dicky, pendekatan yang mengedepankan karakter mujhid muzhid dan mandiri sangat relevan dengan strategi pengelolaan sampah modern yang saat ini dianjurkan dunia, yakni mengurangi sampah dari sumbernya.
Ia menyebut terdapat tiga akar utama persoalan sampah, yaitu pola konsumsi berlebihan, budaya sekali pakai, dan rendahnya tanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan sendiri. Karena itu, solusi yang diperlukan tidak hanya berupa pembangunan TPA atau penambahan armada pengangkut sampah, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat.
“Solusi paling efektif adalah mengurangi timbulnya sampah sejak dari rumah tangga, sekolah hingga tempat ibadah,” ujarnya.
Dicky menjelaskan, implementasi 29 karakter luhur LDII dapat diterjemahkan ke dalam berbagai gerakan lingkungan yang konkret. Nilai mujhid muzhid diwujudkan melalui pengurangan timbulan sampah, konsumsi seperlunya, dan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.
Sementara itu, nilai kemandirian dapat diterapkan dengan memilah sampah organik dan anorganik, membuat kompos rumah tangga, mengembangkan bank sampah berbasis komunitas, serta memanfaatkan kembali barang yang masih bernilai guna.
Ia juga menekankan pentingnya nilai kerukunan dan kekompakan dalam menyelesaikan persoalan lingkungan melalui kerja bakti rutin, program kampung bebas sampah, sedekah sampah plastik, dan pengembangan bank sampah.
“Masalah sampah tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri. Diperlukan gerakan kolektif dan modal sosial yang kuat agar berbagai program lingkungan dapat berjalan dengan baik,” tegasnya.
Selain itu, nilai amanah dan jujur juga perlu diwujudkan dalam bentuk tanggung jawab menjaga lingkungan, seperti tidak membuang sampah sembarangan, tidak membakar sampah secara terbuka, serta menjaga fasilitas umum dan ruang hijau.
Dicky menambahkan, pengelolaan sampah yang baik akan memberikan dampak positif bagi kesehatan lingkungan dan masyarakat. Berbagai penyakit berbasis lingkungan seperti leptospirosis, diare, demam berdarah, hingga infeksi saluran pernapasan dapat diminimalkan melalui lingkungan yang bersih dan sehat.
“Lingkungan yang bersih bukan diwariskan, melainkan dipinjam dari generasi yang akan datang. Karena itu, mengelola sampah merupakan bagian dari tanggung jawab moral, sosial, dan spiritual kita bersama,” tutupnya.














