Oleh Wilnan Fatahillah *
Dalam timbangan Ilahi, suka dan duka, baik dan buruk, tak terelakkan lagi. Ia perputaran sunnatullah yang lama tertulis. Allah menyingungnya roda kehidupan yang terus berputar.
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
“…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia…” (QS. Ali Imran: 140)
Tidak ada duka yang abadi. Tidak ada suka yang menetap. Keduanya ujian untuk melihat siapa yang paling tulus dalam penghambaannya. Ini jembatan yang menghubungkan Lembah Kesedihan dengan Puncak Suka Cita. Manusia berdiri tegak di antara dua kutub itu. Rasulullah ﷺ menggambarkannya sebagai keindahan.
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
Jika dunia datang membawa hadiah istri yang menyenangkan hati, anak yang patuh (Sarra’), maka syukurmu adalah sayap yang membawamu terbang tinggi. Jika dunia datang membawa anak dan istri yang membebani atau perilaku yang menyakitkan hati (Dharra’), maka sabarmu adalah akar yang menghujam ke bumi. Jiwamu tak tergoyahkan oleh badai apa pun. Untung dan celaka, bagi orang yang beriman tidaklah pernah merugi. Hamba beriman, hatinya selalu beruntung mendapatkan istri dan anak. Bagaimanapun keadaaan mereka. Celaka hanyalah bagi mereka yang hatinya tak bersyukur. Hatinya tak bersabar menghadapi peringai buruk mereka. Hatinya tak bersabar saat berada dalam kekurangan.
Janganlah ada gelisah saat menatap pasanganmu dan anak-anakmu. Jangan bertanya: “Apakah mereka anugerah yang membawa keberuntungan, ataukah beban yang membawa celaka?”. Keluargamu bukanlah belenggu yang mengikat kakimu. Mereka ladang tempat Allah menanam rahasia-Nya. Jika mendapatkan istri yang menyejukkan hati laksana embun pagi, itulah keberuntungan yang menjadi peristirahatanmu. Jika mendapati duri dalam rumah tanggamu, duri itulah yang mengajarimu belajar memetik mawar dengan kesabaran. Janganlah merasa “celaka” bahkan mereka dianggap musuh bagi ketenanganmu. Sebenarnya mereka medan ujianmu.
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (ujian), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15)
Jika istri dan anakmu “baik”, buatlah syukur terus berjalan. Jika istri dan anakmu “buruk”, buatlah sabar terus terang benderang. Ketahuilah, Firaun yang paling kejam, disisinya ada istri yang suci (Asiyah). Nabi Nuh yang mulia, disisinya ada anak dan istri yang durhaka. Keuntunganmu bukan pada kesempurnaan sifat mereka. Keuntunganmu diraih bagaimana mencintai Allah melalui perlakuanmu kepada mereka.
Anak dan istrimu bukanlah barang milikmu yang bisa dibentuk sesuka hatimu. Mereka ibarat selembar surat suci dari Allah yang dititipkan di tanganmu. Mereka adalah bejana-bejana cahaya yang kau isi dengan agama dan cinta. Amanah artinya menjaga mereka bukan karena mereka “milikmu”, tapi karena engkau penjaga pintu bagi jiwa-jiwa mereka.
Istrimu adalah bunga yang harus kau sirami dengan nasehat dan kasih sayang. Anak-anakmu adalah bibit yang membawa rahasia masa depan. Allah SWT mengingatkan untuk menjaga amanah ini dengan penuh kesadaran:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
Dan Rasulullah ﷺ menegaskan posisi setiap manusia sebagai penjaga dalam sebuah hadis (QS. At-Tahrim: 6)
Rasulullah ﷺ mengingatkan:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin (penjaga), dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya (amanahnya).” (HR. Bukhari)
Janganlah memandang amanah ini sebagai “celaka” saat mereka mengecewakanmu. Jangan pula memandangnya sebagai “untung” saat mereka membanggakanmu. Keberuntunganmu yang sejati adalah saat berdiri di hadapan Allah dan berkata: “Ya Allah, aku telah mencintai dan menjaga mereka dengan segala kekuranganku, sebagaimana Engkau mencintaiku dan menjagaku dengan segala kelemahanku.” Jangan pula menjadi seperti bulu yang ditiup angin. Menari saat udara hangat dan menggigil saat badai datang. Jadilah seperti samudera. Permukaannya ombak yang menderu (buruk), namun kedalamannya tenang dan menyimpan mutiara (baik). Amanah itu berat jika kau pikul sendirian. Cobalah berbagi beban itu dengan Sang Pemberi Amanah melalui doa-doa panjangmu.
Jika sulit mengemban amanah itu karena jalan tidak rata. Bahkan gunung terjal menguji kekuatan kakimu. Ketahuilah, Allah tidak meminta hasil yang sempurna. Ia hanya meminta ketulusan dalam menjaga mereka. Mungkin juga gelisah karena memikirkan kehidupan mereka. Ketahuilah Allah tidak akan menyia-nyiakan mereka. Jangan mencoba membaca mereka dengan alfabetmu sendiri. Karena mereka ditulis dengan bahasa langit yang berbeda. Bahkan jika merasa mereka adalah teka-teki yang menyesakkan, ingatlah firman-Nya:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Anggaplah istri dan anak-anakmu bukanlah orang asing yang datang menyakitimu. Mereka pantulan dari bagian dirimu yang belum selesai kau sembuhkan. Ketika mereka berbuat buruk, jangan melihat “keburukan” itu sebagai kebencian. Anggaplah sebagai jiwa yang sedang terluka atau tersesat. Seorang dokter tidak membenci pasien yang mengerang kesakitan, bukan? Maka jangan benci mereka yang sedang “sakit” akhlak ataupun agamanya. Pandanglah mereka dengan mata belas kasih.
Kerap kali, setetes tinta hitam di atas kertas putih membuat kita lupa akan luasnya ruang putih yang tersisa. Saat istrimu atau anakmu berbuat buruk, panggillah ingatan tentang senyum mereka saat kau lelah. Kebaikan mereka. Doa-doa tulus yang pernah mereka bisikkan untukmu. Bencilah tindakannya, namun tetap cintailah jiwanya. Jiwa mereka adalah bagian darimu. Dari hembusan napas yang suci. Perbuatan mereka hanyalah debu yang menempel karena perjalanan hidup. Tugasmu membantu mereka membersihkan debu, bukan membuang permata yang tertutup debu itu.
Rasulullah ﷺ bersabda
لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah (istrinya). Jika ia membenci salah satu peringainya, niscaya ia akan ridha (suka) dengan perangainya yang lain.” (HR Muslim)
Mungkin mereka sulit dipahami karena sedang berjuang dengan badai mereka sendiri yang tak terlihat oleh matamu. Mungkin juga mereka “buruk” dalam pandanganmu karena keterbatasan pandanganmu. Ketidakpahamanmu adalah bukti keterbatasanmu sebagai manusia. Lepaskan tuntutan untuk mengerti. Jika mereka sulit dipahami, jadilah seperti telaga yang tenang. Biarkan mereka melihat bayangan mereka sendiri di dalam ketenanganmu, bukan melihat kemarahan atau kegelisahanmu. Bahkan jadilah seperti samudera. Meski ribuan sungai membawa sampah, samudera tetap luas, dalam, dan asin. Ia tidak menjadi kotor karena sampah-sampah itu, melainkan mengendapkannya di dasar. Ia tetap mempersembahkan kebiruan yang indah di permukaan.
Tidaklah perlu memahami setiap tetes hujan menikmati kesegarannya. Cukuplah menyayangi mereka. Seringkali, cinta yang tulus lebih menyembuhkan daripada pemahaman yang tajam. Allah menyimpan hikmah di balik keburukan mereka yang sulit diraba. Tujuannya agar berhenti bersandar pada logika dan mulailah bersandar pada doa. Itulah kunci untuk mengubah “celaka” menjadi “untung”.
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (penyejuk mata), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)
*) Dr. H. Wilnan Fatahillah, S.H.I, M.H, M.M, CFLS adalah anggota Departemen Pendidikan Keagamaan dan Dakwah sekaligus Dosen Hukum Keluarga Islam Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIMI) Minhaajuroosyidiin














