Oleh Wilnan Fatahillah
Menjadi suami bukanlah tentang menjadi tuan di atas singgasana. Terlena tanpa beban. Ingat, setelah menikah status baru menantimu. Allah mengangkat derajatmu sebagai pemimpin (Qawwam) dan pelindung seorang wanita yang menyerahkan seluruh hatinya. Ia mengandalkan rasa aman di bawah naunganmu. Allah SWT berfirman:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْأَمْوَالِهِمْ
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa’: 34).
Istrimu tercipta dari tulang rusuk yang dekat dengan jantungmu agar engkau cintai, bukan dari tulang kaki untuk engkau injak. Ia memiliki lekuk emosi yang unik; jika engkau paksa meluruskannya dengan kekerasan, ia akan patah. Patahnya seorang istri adalah kehancuran bagi kedamaian rumahmu. Rasulullah ﷺ bersabda:
اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ
“Berwasiatlah kalian untuk berbuat baik kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk.” (HR. Bukhari & Muslim).
Ketahuilah, hati istrimu adalah sebuah instrumen musik yang sangat sensitif. Jika engkau memetiknya dengan kasar, ia akan mengeluarkan nada yang sumbang. Namun jika engkau menyentuhnya dengan jemari cinta dan kesabaran, ia akan melantunkan simfoni terindah yang pernah engkau dengar di muka bumi ini.
Kemuliaanmu diukur dari caramu menghargai istrimu. Harga diri seorang suami tercermin dari wajah istrimu. Jika wajahnya layu, maka engkau telah gagal menyiramnya. Lelaki yang paling perkasa bukanlah yang mampu menundukkan musuh, melainkan yang paling sayang dan lembut terhadap keluarganya. Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi).
Jangan hanya sibuk mengisi piringnya dengan roti, sementara jiwanya lapar akan kata-kata indah dan perhatian. Jadilah telinga yang mendengar bisikan hatinya yang paling sunyi. Kecukupan materi tanpa kehadiran emosional adalah kemiskinan yang terselubung. Istrimu adalah amanah yang diletakkan di telapak tanganmu. Jangan biarkan ia menangis karena luka yang engkau goreskan. Setiap tetes air matanya adalah saksi yang akan bicara di hadapan Allah.
Saat badai konflik mengombang-ambingkan dermagamu, janganlah engkau menjadi batu karang yang keras. Jadilah seperti samudra yang luas dan mampu menampung segala luapan. Kesalahan seringkali menjadi api, dan ego adalah bensinnya. Jadilah yang pertama memadamkannya. Meminta maaf bukanlah tanda kekalahan, melainkan tanda bahwa cinta kalian berdua lebih berharga daripada kebenaran semu. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ… وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ
“Tidak halal bagi seorang Muslim menjauhi saudaranya lebih dari tiga malam… dan yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai dengan salam (perdamaian).” (HR. Bukhari).
Istri berbicara bukan selalu untuk mencari solusi. Terkadang hanya untuk didengar dan dipahami bebannya. Jangan memotong kalimatnya dengan logika yang dingin. Biarkan ia menumpahkan segala resahnya ke dalam cawan kesabaranmu. Terkadang, seribu kata tidak mampu menandingi satu pelukan yang tulus atau genggaman tangan yang hangat. Sentuhan fisik yang didasari kasih sayang melepaskan hormon oksitosin yang mampu mencairkan kebekuan hatinya.
Berikan pujian kepadanya. Ingat, Nabi ﷺ seringkali memanjakan istrinya, seperti memanggil Aisyah dengan sebutan “Ya Humaira” (Wahai yang kemerah-merahan pipinya). Berikanlah hadiah kepada istrimu. Ini bukan tentang harga, melainkan pesan bahwa “Aku memikirkanmu”. Hadiah kecil yang mengejutkan, juga cara paling ampuh untuk meruntuhkan dinding ego yang terbangun. Rasulullah ﷺ bersabda:
تَهَادَوْا تَحَابُّوا
“Saling memberilah hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al-Bukhari).
Wahai para suami…..Jika engkau ditakdirkan mempunyai istri yang sering marah. Jangan masukkan kata-kata apapun ke dalam hatinya. Karena saat itu yang berbicara bukanlah cintanya, melainkan egonya yang sedang terluka. Jangan terpancing. Diammu bukan berarti kalah, melainkan penjagaan agar pintu setan tidak terbuka lebih lebar.
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
“Jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia diam.” (HR. Ahmad)
Saat istrimu mulai tenang, ajaklah bicara dengan nada yang merendah. Jangan menghakiminya. Tanyakanlah: “Apa yang bisa aku lakukan untuk meringankan bebanmu?” Terkadang, istrimu hanya butuh didengar. Wanita diciptakan dengan keunikan rasa dan jiwa. Jika engkau mencoba meluruskannya dengan kekerasan atau kebencian, ia akan patah. Namun jika engkau membiarkannya dalam keadaan “bengkok” tanpa bimbingan, ia akan tetap demikian.
اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ…
“Berwasiatlah kalian dengan kebaikan kepada para wanita, karena sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk… (yang paling bengkok).”HR. Bukhari
Wahai para suami…Jika engkau ditakdirkan mempunyai istri yang selalu merasa benar. Tidak mau disalahkan. Mungkin ia sedang membangun benteng pertahanan untuk melindungi kerapuhan di dalam dirinya. Menghadapinya dengan logika yang tajam hanya akan membuatnya semakin mengeraskan benteng tersebut. Kemenangan sejati bukanlah saat engkau berhasil membuktikan bahwa istrimu bersalah. Kemenangan sejati adalah saat engkau mampu menjaga kedamaian rumah tanggamu. Meskipun harus melipat lisanmu. Menegurnya tidak bisa di depan wajahnya saat api sedang berkobar. Tunggulah hingga hatinya mendingin sejuk seperti embun pagi.
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”Surat An-Nahl ayat 125
Wahai para suami…..Jika engkau ditakdirkan mempunyai istri yang selalu menyalahkanmu (sifat blaming). Bahkan untuk hal sekecil debu. Hingga engkau seperti berjalan di atas hamparan duri. Setiap langkahmu terasa salah. Setiap usahamu seolah tak bermakna di matanya. Ketahuilah mungkin ia sedang menutupi rasa rendah diri, kecemasan, atau kelelahan mental yang luar biasa. Ia menyalahkanmu agar ia tidak perlu menghadapi kegagalannya sendiri. Karenanya jangan terima tuduhannya sebagai kebenaran tentang dirimu. Jangan membela diri dengan logika. Terimalah itu sebagai jeritan jiwanya yang sedang tidak sehat. Rasulullah SAW menjanjikan istana di surga bagi mereka yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar.
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar.”HR. Abu Dawud
Wahai para suami…..Jika engkau ditakdirkan mempunyai istri yang keras hati. Ketahuilah batu yang keras tidak akan hancur oleh hantaman besi, tapi ia akan berlubang oleh tetesan air yang terus-menerus.” Begitupun hati manusia. Setiap kata pedas yang ia lontarkan dan engkau terima dengan sabar, adalah tabungan kemuliaan di sisi Allah. Mungkin ini adalah jalan Allah untuk menghapus dosa-dosamu tanpa perlu melakukan ibadah sunnah yang berat. Ibadahmu adalah sabarmu. Hati manusia berada di antara dua jemari Allah. Dialah yang mampu membolak-balikkannya. Jika lisanmu tak lagi didengar, maka biarkan doamu yang mengetuk pintu langit. Mintalah agar Allah menganugerahkan kelembutan ke dalam hatinya.
Wahai para suami…..Jika engkau ditakdirkan mempunyai istri yang ucapannya menyakitkan hati. Ketahuilah mungkin ia sedang “sakit” secara emosional. Seorang yang sakit seringkali meracau. Jangan benci orangnya, tapi doakan kesembuhannya. Mungkin juga bejana hatinya sedang penuh dengan rasa lelah, kecewa, atau luka masa lalu yang belum sembuh. Memang luka yang disebabkan oleh lidah seringkali lebih perih daripada luka pedang. Karena ia merobek jiwa, bukan hanya raga. Tetapi ingatlah saat-saat ia merawatmu atau melahirkan anak-anakmu. Biarlah satu keburukannya tenggelam dalam lautan kebaikannya yang lain. Jadilah “Samudra” yang menelan sampah. Samudra tidak akan menjadi kotor hanya karena dilempari bangkai atau sampah. Ia terlalu luas untuk menjadi najis. Anggaplah ucapannya sebagai sampah yang lewat. Jika engkau memasukkannya ke dalam hati, engkau akan ikut kotor (marah). Jika engkau membiarkannya lewat, engkau tetap suci (tenang). Jangan membalas cacian dengan cacian. Dalam falsafah cinta, diammu saat disakiti adalah bentuk teguran yang paling keras bagi nuraninya kelak.
وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًۭا
“…dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan (salam).” (Surat Al-Furqan ayat 63)
Jangan biarkan ucapan kasarnya mengubahmu menjadi orang yang kasar pula. Jangan ambil kata-katanya ke dalam hati. Itu adalah “penyakit lisan” yang sering muncul saat emosi, bukan kebenaran dari lubuk hatinya yang terdalam. Tetaplah menjadi mutiara; meskipun ia berada di dalam lumpur caci maki, ia tetaplah berkilau dan berharga. Setiap kata menyakitkan yang engkau terima dengan sabar adalah penggugur dosa dan peninggi derajatmu di hadapan Sang Khaliq. Saat ia sudah tenang, sampaikanlah perasaanmu dengan nada yang rendah : “Istriku, kata-katamu tadi bagaikan sembilu yang menyayat hatiku. Aku adalah suamimu, pelindungmu. Tolong bantu aku untuk tetap kuat menjagamu dengan lisan yang lebih lembut.” Setiap kali ia mulai berucap menyakitkan, bacalah dalam hati:
حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal… (QS. At-Tawbah: 129)
Wahai para suami…Jika engaku diuji dengan istri seperti sifat-sifat itu. Bahkan terasa perih ketika seluruh peluh dan air matamu seolah terhapus oleh satu kalimat “engkau tidak pernah berbuat baik sedikitpun.” Itulah saat engkau diuji dengan ujian yang pernah dirasakan oleh para nabi. Janganlah engkau terkejut, karena Baginda Nabi SAW telah mengabarkan hal ini :
تَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، وَتَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رأت مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
“Mereka (para istri) mengingkari kebaikan suami dan kebaikan yang diterimanya. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka sepanjang tahun, kemudian ia melihat darimu satu (kesalahan), maka ia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu’.” (Hadits Riwayat Bukhari)
Jika perilakunya sudah melampaui batas, bicaralah saat suasana sedang tenang (bukan saat ia marah). Katakan: “Aku mencintaimu dan ingin membahagiakanmu, tapi perilakumu membuat hatiku layu dan sulit untuk memberikan yang terbaik bagimu.”Jangan jadikan rumahmu sebagai medan perang argumen, tapi jadikanlah ia sebagai tempat peristirahatan. Jika ia merasa benar, biarkanlah untuk sementara waktu. Kebenaran tidak akan berubah hanya karena tidak diakui manusia, namun kedamaian bisa hilang hanya karena satu kata yang menusuk. Ketahuilah, menjadi suami ibarat samudra; luas, dalam, dan mampu menelan segala kotoran tanpa membuat airnya menjadi keruh.
Wahai para suami….Engkau adalah pemimpinnya. Seorang pemimpin sejati tidak dikenal bagaimana ia memerintah, tapi bagaimana ia mampu bertahan menghadapi perilaku buruk orang yang dipimpinnya dengan kesabaran yang indah (Sabrun Jamil). Sabar bukanlah sekadar diam menahan luka, melainkan kemampuan untuk menjaga hati tetap jernih saat menghadapi apa yang tidak disukai.
Wahai para suami…Tunaikan kewajiban pokokmu yang tidak boleh kau tinggalkan. Berikan mereka nafkah yang cukup. Ingat, nafkah bukanlah sekadar angka, melainkan perjuangan seorang lelaki untuk membuktikan cintanya di hadapan Ilahi. Jangan sesekali sengaja membiarkan istri kekurangan padahal engkau mampu. Jika engkau lakukan, sama artinya menimbun bara api di pundakmu. Buatlah hati keluargamu tenang dan rumahmu menjadi terang. Camkan nasehat Rasulullah SAW:
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ
“Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia melalaikan orang yang menjadi tanggungannya (dalam nafkah).” (HR. Abu Dawud).
Dr. H. Wilnan Fatahillah, S.H.I, M.H, M.M, CFLS adalah anggota Departemen Pendidikan Keagamaan dan Dakwah sekaligus Dosen Hukum Keluarga Islam Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIMI) Minhaajuroosyidiin














