Sorong (1/9). LDII Papua Barat Daya menggelar Perkemahan Akhir Tahun Cinta Alam Indonesia (Permata CAI) ke-47 di Podomoro 2, Kabupaten Aimas, 16–17 Agustus 2026. Kegiatan diikuti generus dari Kota Sorong dan Kabupaten Sorong.
Ketua LDII Papua Barat Daya, Siswanto Kabir, mengatakan pembinaan generus perlu diarahkan tidak hanya pada pemahaman agama, tetapi juga pembentukan karakter dan kesungguhan dalam menjalankan peran. “Para generus jangan bosan-bosan dalam memperjuangkan agama. Yakinlah dengan pertolongan Allah. Generus juga supaya memiliki karakter yang luhur,” ujarnya.
Permata CAI diisi materi bertema “Dampak dari Perbuatan Maksiat”, kemudian dilanjutkan Focus Group Discussion (FGD). Dalam diskusi, peserta membahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan kemaksiatan dan 29 karakter luhur di lingkungan masing-masing.
Pemateri FGD, Hanif Zakaria, mengatakan diskusi mendorong peserta untuk berani menyampaikan pendapat dan mencari penyelesaian bersama. “Antusias para peserta sangat luar biasa sekali. Mereka dapat menghidupkan suasana bermusyawarah, saling memberikan usul, memberikan tanggapan, sehingga kegiatan FGD itu betul-betul hidup,” katanya.
Menurut Hanif, FGD juga diarahkan agar generus tidak hanya membahas persoalan, tetapi menyusun langkah yang dapat diterapkan setelah kegiatan. “Semoga tujuan dari FGD tersebut bisa tercapai, yaitu memberikan solusi pembinaan generasi muda sesuai dengann kondisi zamannya. Nantinya permasalahan yang muncul dalam FGD dapat langsung dibahas solusinya, sehingga menempatkan para generus tidak hanya menjadi objek pembinaan, tapi juga sebagai subjek pembinaan,” jelasnya.
Salah satu peserta, Shohib, mengatakan materi dan diskusi memberikan pengalaman yang dapat diterapkan di lingkungannya. “Bagi saya sangat berkesan sekali, dan seru. Para pemateri juga baik dalam menyampaikan makalah. Nantinya kami akan coba terapkan hasil dari FGD ini, salah satunya tentang penguatan 29 karakter di lingkungan pengajian,” ujarnya.
Melalui Permata CAI ke-47, LDII Papua Barat Daya mendorong generus untuk aktif memahami persoalan di lingkungannya, bermusyawarah, dan menyusun langkah penyelesaian sebagai bagian dari pembinaan karakter.














