Salatiga (20/7). DPD LDII Kota Salatiga mengikuti acara bedah buku “Sistem, Model, dan Corak Pendidikan LDII dalam Platform Profesional Religius dari Sabang sampai Merauke” secara daring pada Sabtu (18/7/2026). Kegiatan yang dipusatkan di Art Center Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, itu dimanfaatkan jajaran pengurus LDII Salatiga untuk memperdalam pemahaman mengenai sistem pendidikan karakter.
Dari Kota Salatiga, para pengurus mengikuti jalannya diskusi melalui Studio Mini kantor Sekretariat DPD LDII Kota Salatiga. Ketua DPD LDII Kota Salatiga, Siswarsono, menilai kegiatan tersebut memberikan referensi yang dapat memperkuat pelaksanaan program pembinaan di tingkat daerah.
Menurutnya, kajian ilmiah dari kalangan akademisi menjadi bahan evaluasi, sekaligus pengembangan metode pendidikan karakter yang selama ini dijalankan, “Forum ini memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai sistem pendidikan LDII dari sudut pandang akademik. Masukan para pakar menjadi bekal bagi kami untuk terus menyempurnakan pola pembinaan warga, terutama dalam membentuk generasi yang profesional dan religius,” ujar Siswarsono.
Ia menambahkan, hasil diskusi tidak berhenti sebagai wacana, melainkan akan diterjemahkan ke dalam program pembinaan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di Kota Salatiga. Pengurus LDII, kata Siswarsono, akan memperkuat koordinasi antarseksi agar materi pembinaan dapat diterapkan secara konsisten mulai dari usia dini hingga kalangan remaja dan dewasa.
“Kami ingin setiap pengurus memiliki pemahaman yang sama sehingga arah pembinaan berjalan selaras. Pendidikan karakter membutuhkan proses yang berkesinambungan dan melibatkan seluruh unsur organisasi,” katanya.
DPD LDII Kota Salatiga juga berupaya menyelaraskan program pembinaan dengan kebijakan pendidikan nasional serta perkembangan sosial di tengah masyarakat. Pengurus menilai penguatan karakter, etika, kemampuan berpikir kritis, dan tanggung jawab sosial menjadi kebutuhan penting di era digital.
“Oleh karena itu, berbagai materi yang diperoleh dari bedah buku akan menjadi bahan penyusunan strategi pembinaan yang lebih adaptif tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan,” tutupnya.














