PALING UPDATE
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Nuansa Persada
No Result
View All Result
Home Berita Nasional

Maritim Indonesia Nyaris Tak Berdaulat, Jika Tak Ada Deklarasi Djuanda

in Berita Nasional, Nasional
451
0
Peringati Hari Nusantara, LDII Kenang Jasa Mochtar Kusumaatmadja
633
SHARES
2.9k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta (29/12). Indonesia tidak akan menikmati kedaulatan dan potensi kelautannya, bila pemikiran mengenai wawasan nusantara tidak diperkenalkan Prof. Mochtar Kusumaatmadja.

“Sebelum Deklarasi Djuanda yang banyak berisi pemikiran Prof. Mochtar, luas perairan kita hanya 3 mil dari gari pantai terluar,” ujar Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (Undip) Singgih Tri Sulistiyono.

Menurutnya, usai Konferensi Meja Bundar (1949), Belanda ingin tetap mempertahankan Irian Barat sebagai jajahannya dan ingin tetap menancapkan pengaruh ekonomi dan politiknya di Indonesia. Mereka dengan leluasa memasuki perairan di antara pulau-pulau wilayah Indonesia. Hal itu bisa dilakukan karena perairan tersebut dianggap perairan internasional, sementara wilayah Indonesia hanya daratan dan perairan sejauh 3 mil dari ujung terluar daratan.

Kala itu, menurut Singgih, Mochtar Kusumaatmadja berpikir bahwa lautan di dalam wilayah kepulauan merupakan satu kesatuan sebagai tanah air. Atas pemikirannya itu, ia menolak batas-batas kedaulatan Republik Indonesia yang diklaim Belanda.

Hingga tahun 1950-an, Indonesia masih menggunakan Ordonansi Belanda 1939. Aturan itu menegaskan, bahwa luas wilayah laut territorial Indonesia hanya 3 mil. Mochtar Kusumaatmadja membuat, luas perairan Indonesia menjadi 12 mil. Kini luas Indonesia menjadi 1,919 juta km², yang merupakan hasil perjuangan Prof. Mochtar Kusumaatmadja untuk menyatukan daratan dan perairan Nusantara.

Mochtar Kusumaatmadja membuat garis dasar lurus pada peta, yang ditarik dari satu titik terluar ke titik terluar lain dari wilayah darat atau pulau yang dikuasai oleh Indonesia. Ini sering disebut sebagai metode point to point, sehingga seluruh kepulauan Indonesia diikat oleh sabuk straight baseline. Hasilnya wilayah perairan dan daratan (pulau) merupakan satu kesatuan, yang disebut sebagai kepulauan Indonesia yang mencakup darat dan lautnya. Sehingga cita-cita mengenai tanah air terwujud berkat ide cerdas Mochtar Kusumaatmadja.

Wawasan Nusantara yang diperkenalkan Mochtar dideklarasikan sebagai Deklarasi Djuanda merujuk nama Perdana Menteri Indonesia saat itu. Setelah melalui perjuangan yang panjang akhirnya pada 1982 konsep Wawasan Nusantara yang dianggap sepadan dengan konsep Archipelagic State menjadi bagian integral dari United Nations Conventions on the Law of the Sea (UNCLOS).

Singgih yang juga Ketua DPP LDII itu, mengatakan, dengan pemikiran Mochtar tersebut kedaulatan Indonesia tidak tercerai berai. Bahkan ia menyebut, Mochtar memberi sumbangsih perjalanan sejarah bangsa.

Singgih membagi tonggak kebangsaan Indonesia menjadi tiga: pertama, Sumpah Pemuda yang merupakan tonggak terbentuknya bangsa Indonesia, kedua: Proklamasi Kemerdekaan yang merupakan tonggak berdirinya Negara RI, ketiga: Deklarasi Djuanda yang merupakan tonggak peneguhan wilayah kedaulatan negara RI.

“Oleh sebab itu tokoh-tokoh yang telah berjuang di tonggak-tonggak kebangsaan ini patut diapresiasi sebagai pahlawan nasional. Untuk itulah maka LDII mendukung dan memperjuangkan agar Prof Mochtar ditetapkan sebagai pahlawan nasional,” tegasnya.

Secara lebih mendalam, Singgih menjelaskan bahwa sejak 1 Agustus 1957, Mochtar ditugaskan oleh Perdana Menteri Djuanda untuk bergabung ke dalam Panitia Interdepartemental yang bertugas Menyusun RUU Wilayah Perairan Indonesia dan Lingkungan Maritim untuk mengganti Ordonansi 1939 (’Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonantie’) yang mengatur wilayah perairan Hindia Belanda yang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman.

“Langkah sistematis Mochtar, yakni melakukan tinjauan kritis terhadap Ordonansi 1939 yang masih terus berlaku selama masa kemerdekaan karena memang pemerintah Republik Indonesia belum melakukan perubahan ataupun penggantian,” ujarnya.

Kedua, Mochtar mencari rujukan yurispudensi yang bisa dijadikan sebagai preseden untuk menciptakan produk hukum sebagai basis untuk mengklain wilayah darat dan laut Indonesia sebagai satu kesatuan yang utuh.

“Ia memperoleh rujukan dari penyelesaian kasus The Anglo-Norwegian Fisheries case 1949 di mana Pemerintah Norwegia mengukur laut teritorialnya dengan menarik garis pangkal lurus (straight baseline) dari titik-titik terluar daratan pada waktu air surut lalu ditambah 4 mil laut. Mochtar menerapkan metode yang sama untuk wilayah Indonesia dengan membentangkan laut teritorial seluas 12 mil laut,” jelas Singgih.

Pada akhirnya pemikiran dan draf Mochtar inilah yang kemudian diumumkan oleh pemerintah kepada seluruh dunia pada 13 Desember 1957 melalui “Pengumuman Pemerintah mengenai Perairan Negara Republik Indonesia”. Itu pula yang terkenal dengan sebutan Deklarasi Djuanda.

Bahwa segala perairan di sekitar, di antara dan yang menghubungkan pulau pulau atau bagian pulau pulau yang termasuk daratan Negara Republik Indonesia, dengan tidak memandang luas dan lebarnya adalah bagian bagian yang wajar dari pada wilayah daratan Negara Republik Indonesia dan dengan demikian merupakan bagian dari pada perairan pedalaman atau perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan mutlak dari pada Negara Republik Indonesia.

“Lalu lintas yang damai di perairan pedalaman ini, bagi kapal asing terjamin selama dan sekedar tidak bertentangan dengan kedaulatan dan keselamatan negara Indonesia. Penentuan batas laut territorial yang lebarnya 12 mil yang di ukur dari garis garis yang menghubungkan titik-titik yang terluar dari pada pulau pulau Negara Republik Indonesia akan ditentukan dengan Undang-Undang,” Singgih menjelaskan.

Deklarasi Djuanda menjadi landasan bagi penyatuan wilayah darat dan laut sebagai satu kesatuan yang tak dapat dipisah-pisahkan. Mochtar telah menyelesaikan tugas zamannya yaitu meletakkan dasar penerapan prinsip negara kepulauan (archipelagic state) bagi Indonesia. Konsep yang digagas Mochtar bahwa negara kepulauan yang memandang darat (pulau) dan perairan (laut) sebagai sebuah kesatuan mampu menyelesaikan persoalan aktual Indonesia.

“Ekspansi kapal-kapal perang Belanda di perairan kepulauan Indonesia yang tidak bisa diintersepsi oleh Angkatan Laut Indonesia dan berbagai gerakan separatism yang ingin memisahkan diri dari Indonesia, dengan konsep tersebut membuat Belanda tak lagi bisa berlayar di laut-laut pedalaman Indonesia, di mana akhirnya setelah 25 tahun, prinsip negara kepulauan tersebut diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1982,” ungkapnya.

Melalui konsep tersebut, Ia menegaskan bahwa Mochtar Kusumaatmadja merupakan peletak dasar bagi paradigma maritim dalam pembangunan nasional. “Untuk membangun Indonesia sebagai negara maritim yang kuat diperlukan paradigma maritim yang kuat pula, yaitu wawasan atau pola pikir yang memandang wilayah daratan (kepulauan) sebagai bagian dari wilayah laut dari negara maritim Indonesia,” pungkasnya.

Definisi negara maritim untuk Indonesia, menurut Singgih adalah sebuah negara yang mampu membangun kekuatan maritimnya (seapowers) baik di bidang pelayaran dan perdagangan (merchant shipping), kekuatan pertahanan dan keamanan maritim (maritime fighting instruments), dan kemajuan teknologi kemaritiman (maritime technology) untuk dapat memanfaatkan potensi yang dimilikinya secara sinergis (laut dan darat) dalam kerangka dinamika geopolitik guna mencapai kemakmuran dan kejayaan bangsa dan negaranya. [kim/*]

Related Posts

LDII Jambi Kurbankan 855 Ekor Hewan Ternak untuk Masyarakat
Berita Daerah

LDII Jambi Kurbankan 855 Ekor Hewan Ternak untuk Masyarakat

by eko nuansa
June 17, 2026
0

Jambi (16/6). DPW LDII Provinsi Jambi menyembelih total 855 ekor hewan kurban pada perayaan Idul Adha 1447 Hijriah, Rabu (27/5/2026). Ratusan hewan...

Read more
PC LDII Tanjung Raja Gelar Rakorcab Tingkatkan Kinerja Organisasi dan SDM
Berita Daerah

PC LDII Tanjung Raja Gelar Rakorcab Tingkatkan Kinerja Organisasi dan SDM

by eko nuansa
June 17, 2026
0

Ogan Ilir (16/6). PC LDII Kecamatan Tanjung Raja menggelar Rapat Koordinasi Cabang (Rakorcab) di Masjid Al-Barokah, Tanjung Raja, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera...

Read more
Pelatihan Jurnalistik LDII Banten Ajarkan Desain sebagai Jembatan Informasi
Berita Daerah

Pelatihan Jurnalistik LDII Banten Ajarkan Desain sebagai Jembatan Informasi

by eko nuansa
June 17, 2026
0

Serang (16/6). Anggota Pokja LINES, Departemen Komunikasi Informasi dan Media (KIM) DPP LDII, Jais Faqih Ryadi, mengajak para peserta "Pelatihan Jurnalistik LDII...

Read more
Ratusan Warga LDII Sungai Gelam Gelar Salat Iduladha, Khatib Ingatkan Pentingnya Empati Sosial
Berita Daerah

Ratusan Warga LDII Sungai Gelam Gelar Salat Iduladha, Khatib Ingatkan Pentingnya Empati Sosial

by eko nuansa
June 17, 2026
0

Muaro Jambi (16/6). Ratusan warga LDII Kecamatan Sungai Gelam melaksanakan aalat Idul Adha 1447 Hijriah. Kegiatan yang berlangsung khidmat itu, dilaksanakan di...

Read more
Bentuk Karakter Muslimah Salehah, LDII Mimika Baru Gelar Pengajian Rutin Ibu-Ibu
Berita Daerah

Bentuk Karakter Muslimah Salehah, LDII Mimika Baru Gelar Pengajian Rutin Ibu-Ibu

by eko nuansa
June 17, 2026
0

Timika (17/6). DPD LDII Kabupaten Mimika bersama Pimpinan Cabang (PC) LDII Distrik Mimika Baru menggelar pengajian rutin bagi para ibu. Pengajian tersebut...

Read more
Peringati HLH Sedunia, LDII Gunungkidul Ikut Aksi Bersih Pantai Bersama Pemkab
Berita Daerah

Peringati HLH Sedunia, LDII Gunungkidul Ikut Aksi Bersih Pantai Bersama Pemkab

by eko nuansa
June 17, 2026
0

Gunungkidul (16/6). Memperingati Hari Lingkungan Hidup (HLH) Sedunia 2026, DPD LDII Kabupaten Gunungkidul turut ambil bagian dalam aksi bersih lingkungan dan kerja...

Read more

Trending

LDII Jambi Kurbankan 855 Ekor Hewan Ternak untuk Masyarakat
Berita Daerah

LDII Jambi Kurbankan 855 Ekor Hewan Ternak untuk Masyarakat

2 hours ago
PC LDII Tanjung Raja Gelar Rakorcab Tingkatkan Kinerja Organisasi dan SDM
Berita Daerah

PC LDII Tanjung Raja Gelar Rakorcab Tingkatkan Kinerja Organisasi dan SDM

2 hours ago
Pelatihan Jurnalistik LDII Banten Ajarkan Desain sebagai Jembatan Informasi
Berita Daerah

Pelatihan Jurnalistik LDII Banten Ajarkan Desain sebagai Jembatan Informasi

2 hours ago
Ratusan Warga LDII Sungai Gelam Gelar Salat Iduladha, Khatib Ingatkan Pentingnya Empati Sosial
Berita Daerah

Ratusan Warga LDII Sungai Gelam Gelar Salat Iduladha, Khatib Ingatkan Pentingnya Empati Sosial

3 hours ago
Bentuk Karakter Muslimah Salehah, LDII Mimika Baru Gelar Pengajian Rutin Ibu-Ibu
Berita Daerah

Bentuk Karakter Muslimah Salehah, LDII Mimika Baru Gelar Pengajian Rutin Ibu-Ibu

3 hours ago
Nuansa Persada

Majalah Resmi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Hubungi kami untuk layanan iklan online: marketing@nuansaonline.com

Follow Us

Recent News

LDII Jambi Kurbankan 855 Ekor Hewan Ternak untuk Masyarakat

LDII Jambi Kurbankan 855 Ekor Hewan Ternak untuk Masyarakat

June 17, 2026
PC LDII Tanjung Raja Gelar Rakorcab Tingkatkan Kinerja Organisasi dan SDM

PC LDII Tanjung Raja Gelar Rakorcab Tingkatkan Kinerja Organisasi dan SDM

June 17, 2026

ARSIP

  • Iklan
  • Privacy & Policy

© 2021 - Designed by GenerusMedia

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Energi
  • Fa Aina Tadzhabun
  • Iptek
  • Apa Siapa
  • Digital
  • Hukum
  • Jejak Islam
  • Kesehatan
  • Kisah Teladan
  • Laporan
  • Lentera Hati
  • Liputan Khusus
  • Lintas Daerah
  • Resonansi
  • Olah Raga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Remaja
  • Siraman Rohani
  • Khutbah (PDF)
    • Khutbah Jumat Bahasa Arab
    • Idul Fitri Bahasa Arab
    • Idul Fitri (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (ust. Imam Rusdi)
    • Idul Adha (ust. Aceng Karimullah)
    • Idul Fitri (Kediri 2017)

© 2021 - Designed by GenerusMedia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In