Oleh: Thonang Effendi
Pada dua tulisan sebelumnya, telah dibahas dua persoalan mendasar olahraga nasional. Pertama, bagaimana mengubah cara pandang terhadap atlet: dari sekadar objek pembiayaan menjadi Human Capital yang bernilai strategis bagi bangsa. Kedua, bagaimana membangun Talent Pool sebagai sistem untuk menemukan, memetakan, membina, memantau, dan mengembangkan talenta olahraga secara berkelanjutan.
Namun, ada satu pertanyaan yang tidak kalah penting. Setelah talenta ditemukan, dibina, dan berprestasi, bagaimana negara dan ekosistem olahraga memastikan mereka tetap memiliki masa depan?
Sebab Talent Pool yang hebat pun akan kehilangan makna apabila talenta yang telah dibangun justru keluar dari ekosistem karena tidak melihat masa depan di dalamnya.
Prestasi olahraga tidak lahir dalam semalam. Di balik satu medali terdapat tahun-tahun latihan, pengorbanan, disiplin, dukungan keluarga, pembinaan pelatih, serta investasi sumber daya yang tidak sedikit. Karena itu, prestasi yang pernah mengharumkan nama bangsa semestinya tidak berakhir pada ketidakpastian ketika sorotan arena telah padam. Di sinilah persoalan retensi talenta menjadi penting.
Perpres Nomor 108 Tahun 2024 tentang Desain Besar Manajemen Talenta Nasional (DBMTN) bahkan mengidentifikasi belum memadainya apresiasi prestasi dan jaminan kesejahteraan hari tua sebagai salah satu kesenjangan dalam ekosistem manajemen talenta nasional. Dokumen tersebut juga menekankan perlunya pembinaan yang terintegrasi dan kontinu agar talenta tidak berhenti di satu jenjang, tetapi dapat berkembang hingga mencapai puncak karier profesional.
Dengan demikian, membangun olahraga nasional bukan hanya soal bagaimana menemukan juara, tetapi juga bagaimana menjaga manusia yang berada di balik juara itu.
Retensi: Menjaga Empat Kuadran Kehidupan Atlet
Retensi tidak berarti mempertahankan atlet agar selamanya berada di arena pertandingan.
Retensi berarti menciptakan ekosistem yang membuat talenta tetap memiliki ruang untuk tumbuh, berkarya, berkontribusi, dan membangun kehidupan yang bermartabat, baik ketika sedang berada di puncak prestasi maupun ketika memasuki fase berikutnya. Setidaknya ada empat dimensi yang perlu diperhatikan.
Pertama, kuadran personal.
Atlet membutuhkan dukungan untuk menjaga kebugaran, kesehatan, pemulihan, nutrisi yang memadai dan berbasis kebutuhan performa, serta fasilitas latihan yang menunjang pencapaian prestasi.
Atlet bukan mesin yang cukup diberi program latihan lalu dituntut menghasilkan medali. Ia manusia yang memiliki tubuh, emosi, kebutuhan pemulihan, dan kehidupan di luar arena. Karena itu, pengelolaan performa perlu berjalan berdampingan dengan pengelolaan kesejahteraan.
Kedua, kuadran keluarga.
Di belakang seorang atlet sering terdapat keluarga yang ikut menanggung konsekuensi dari perjalanan prestasi. Waktu berkumpul berkurang. Pendidikan anak perlu diperhatikan. Kesehatan keluarga juga tidak dapat dipisahkan begitu saja dari ketenangan seorang atlet dalam berkompetisi.
Dukungan kepada atlet karenanya tidak selalu berbentuk fasilitas olahraga. Ekosistem pembinaan juga perlu memperhatikan dukungan keluarga, pendidikan, dan perlindungan kesehatan yang memadai.
Ketiga, kuadran karier.
Inilah bagian yang sering terlambat dipikirkan. Ketika seorang atlet masih muda dan sedang berprestasi, masa depan terasa jauh. Tetapi karier olahraga memiliki siklus. Kondisi fisik berubah, kompetisi semakin ketat, dan pada suatu titik seorang atlet akan memasuki fase transisi.
Karena itu, sejak awal perlu dibangun career map. Bukan sekadar pertanyaan, “Setelah pensiun mau menjadi apa?” Melainkan pertanyaan yang lebih dini: “Selain menjadi atlet, kompetensi apa yang dapat dikembangkan sejak sekarang?”
Keempat, kuadran sosial.
Prestasi atlet bukan hanya milik dirinya. Ada kontribusi sosial yang melekat di dalamnya. Atlet dapat menjadi inspirasi, mentor, duta olahraga, pelatih, penggerak komunitas, maupun bagian dari ekosistem industri olahraga. Dengan demikian, penghargaan terhadap atlet tidak berhenti pada saat medali diberikan. Penghargaan perlu diterjemahkan menjadi ruang kontribusi yang berkelanjutan.
Keempat kuadran tersebut menunjukkan bahwa retensi atlet sesungguhnya adalah persoalan people development. Membangun prestasi berarti membangun manusia. Dan membangun manusia berarti memikirkan seluruh perjalanan hidupnya.
Dual Career: Karier Kedua Dibangun Saat Karier Pertama Berlangsung
Di sinilah gagasan dual career menjadi penting. Karier ganda bukan berarti seorang atlet harus membagi konsentrasi latihan secara sembarangan. Bukan pula berarti prestasi olahraga menjadi nomor dua.
Dual career adalah pendekatan yang memungkinkan seorang atlet mengembangkan karier olahraga dan kompetensi masa depan secara paralel, dengan pengaturan yang sesuai dengan fase perkembangan dan kebutuhan prestasinya.
Prinsipnya sederhana: Karier kedua bukan disiapkan ketika karier pertama berakhir. Karier kedua dibangun ketika karier pertama masih berlangsung. Sejak seorang talenta masuk dalam Talent Pool, pemetaan tidak cukup hanya membaca kemampuan fisik, antropometri, motorik, psikologis, dan performa olahraganya.
Perlu pula mulai dipetakan potensi lain. Apakah ia memiliki kemampuan komunikasi? Apakah ia tertarik pada dunia pendidikan? Apakah ia memiliki potensi kepemimpinan? Apakah ia tertarik pada sport management, sport science, teknologi, kewirausahaan, industri kreatif, atau bidang lainnya?
Jawabannya tidak harus langsung menentukan profesi masa depan. Yang penting, sistem mulai membuka Development Pathway yang lebih luas. Dengan begitu, seorang atlet tidak tumbuh dengan satu identitas saja: “Saya adalah atlet.” Melainkan berkembang menjadi: “Saya adalah talenta olahraga yang juga memiliki kompetensi untuk kehidupan setelah kompetisi.”
Model semacam ini sekaligus memperkuat daya tahan mental atlet. Ketika identitas seseorang tidak sepenuhnya bergantung pada hasil pertandingan, transisi karier dapat menjadi lebih terencana. Tentu, setiap cabang olahraga memiliki karakteristik berbeda. Beban latihan, kalender kompetisi, usia puncak performa, serta kebutuhan pendidikan dan karier tidak dapat diseragamkan.
Karena itu, dual career perlu dirancang fleksibel. Bukan satu model untuk semua atlet, tetapi jalur pengembangan yang disesuaikan dengan karakteristik cabang olahraga dan kebutuhan individu. Di sinilah data dan profesional judgment kembali bertemu. Data membantu membaca potensi. Profesional membantu menentukan intervensi. Atlet tetap menjadi manusia yang menjalani proses tersebut.
Dari Atlet Berprestasi Menjadi Talenta Profesional
Ketika karier kompetitif mulai berakhir, pertanyaan berikutnya adalah: ke mana atlet pergi? Jawabannya tidak harus selalu menjadi pelatih. Tidak semua mantan atlet harus tetap berada di dunia olahraga. Sebagian mungkin memiliki kompetensi di bidang pendidikan, bisnis, teknologi, komunikasi, pemerintahan, manajemen, atau bidang profesional lainnya. Karena itu, ekosistem olahraga perlu membuka lebih banyak jalur transisi.
Peluang karier dapat dikembangkan melalui pemerintahan, institusi pertahanan dan keamanan, BUMN, dunia usaha, klub olahraga, lembaga pendidikan, maupun sektor swasta—tentu sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku pada masing-masing institusi.
Yang penting adalah adanya jembatan transisi. Jangan sampai perjalanan seorang atlet berbentuk seperti tangga yang tiba-tiba terputus. Selama bertahun-tahun ia dibina. Kemudian berprestasi. Lalu ketika masa kompetitif berakhir, sistem seolah berkata: “Selanjutnya, silakan berjalan sendiri.” Padahal investasi terhadap talenta tersebut adalah investasi bangsa.
Karena itu, industri olahraga juga perlu dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem karier. Indonesia memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan bisnis perlengkapan olahraga, sport tourism, event olahraga, sport entertainment, klub profesional, pusat kebugaran, sport science, teknologi olahraga, hingga berbagai model bisnis kompetisi olahraga yang sehat dan berkelanjutan.
Dengan ekosistem industri yang semakin kuat, atlet tidak hanya menjadi objek kompetisi, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari rantai nilai olahraga.
Seorang mantan atlet dapat menjadi pelatih. Dapat menjadi pengelola klub. Dapat menjadi analis performa. Dapat menjadi pengusaha. Dapat menjadi pendidik. Dapat menjadi komunikator olahraga. Dapat menjadi penggerak komunitas. Atau memilih profesi lain yang sesuai dengan kompetensi yang telah dibangun.
Dengan demikian, berakhirnya karier kompetitif tidak berarti berakhirnya kontribusi. Justru dapat menjadi awal dari babak kontribusi yang baru.
Kecil Terbina → Muda Berkarya → Tua Sejahtera
Jika dirunut kembali, tiga seri tulisan ini sesungguhnya sedang membangun satu gagasan besar. Seri pertama berbicara tentang cara pandang. Atlet perlu ditempatkan sebagai Human Capital. Seri kedua berbicara tentang sistem. Talenta perlu ditemukan dan dikembangkan melalui Talent Pool yang terintegrasi. Seri ketiga berbicara tentang keberlanjutan manusia. Talenta perlu dipertahankan melalui sistem pengembangan karier yang memungkinkan mereka terus berkarya, bahkan ketika karier kompetitif telah selesai.
Inilah rantai yang semestinya tidak terputus: Human Capital → Talent Pool → Dual Career. Atau dalam bahasa yang lebih sederhana: Menemukan → Mengembangkan → Mempertahankan.
Pada akhirnya, pembangunan talenta nasional bukan sekadar persoalan menghasilkan juara. Ia merupakan perjalanan panjang manusia sejak ditemukan potensinya, dikembangkan kemampuannya, dipuncakkan prestasinya, hingga dipersiapkan masa depannya.
Perpres 108/2024 telah memberikan kerangka besar Manajemen Talenta Nasional menuju Indonesia Emas 2045. Peraturan tersebut juga menekankan kebutuhan basis data terpadu, sistem identifikasi dan seleksi, serta orkestrasi pembinaan lintas lembaga. Sementara itu, DBON melalui Perpres 86/2021 telah menyediakan arah kebijakan pembangunan olahraga nasional yang terintegrasi, kolaboratif, terukur, akuntabel, sistematis, dan berkelanjutan.
Kini tantangannya adalah bagaimana seluruh desain tersebut diterjemahkan menjadi ekosistem yang benar-benar dirasakan oleh manusia yang berada di dalamnya. Termasuk atlet. Termasuk keluarga atlet. Termasuk pelatih. Termasuk para talenta muda yang hari ini mungkin belum dikenal siapa-siapa.
Karena itu, sebuah prinsip sederhana layak dikedepankan: Kecil Terbina. Muda Berkarya. Tua Sejahtera. Bukan sekadar slogan, melainkan cara pandang tentang bagaimana bangsa memperlakukan talenta manusianya.
“Kecil Terbina” berarti proses identifikasi dan pembinaan dimulai sedini mungkin. “Muda Berkarya” berarti masa produktif atlet tidak hanya diisi dengan mengejar medali, tetapi juga membangun kompetensi, karakter, jejaring, dan masa depan. “Tua Sejahtera” berarti berakhirnya karier kompetitif tidak menghapus penghargaan dan ruang kontribusi bagi mereka yang pernah mempersembahkan prestasi bagi bangsa.
Di titik ini, keberlanjutan pendanaan juga menjadi penting. Bukan dalam bentuk “anggaran abadi”, melainkan komitmen pendanaan olahraga yang berkelanjutan, terukur, transparan, dan konsisten lintas periode. Sebab sistem pembinaan jangka panjang tidak mungkin dibangun dengan pola pikir jangka pendek. Indonesia menuju 2045 tidak hanya membutuhkan juara yang lahir sesekali. Indonesia membutuhkan regenerasi talenta yang berjalan terus-menerus.
Memanusiakan Manusia Berprestasi
Trilogi pembenahan olahraga nasional ini pada akhirnya bukanlah perjalanan tentang angka, statistik, atau perolehan medali semata. Ini adalah perjalanan tentang bagaimana sebuah bangsa memanusiakan manusia berprestasi.
Papan klasemen di arena pertandingan hanyalah sebuah akibat. Ekosistem yang sehat, adil, profesional, dan berkelanjutan adalah sebab. Karena itu, pembangunan olahraga tidak semestinya berhenti pada pertanyaan: “Berapa medali yang kita dapatkan?” Tetapi juga perlu bertanya: “Manusia seperti apa yang kita bangun melalui olahraga?”
Talenta anak-anak di pelosok kecamatan perlu menemukan jalan menuju pembinaan. Talenta muda perlu menemukan ruang untuk berkembang. Atlet berprestasi perlu menemukan dukungan untuk mencapai puncak. Dan mantan atlet perlu tetap memiliki ruang untuk berkarya dan hidup sejahtera setelah arena kompetisi ditinggalkan. Inilah makna keberlanjutan yang sesungguhnya.
Sebab pada akhirnya, Indonesia Emas 2045 tidak dibangun hanya oleh medali yang dipajang di lemari. Ia dibangun oleh manusia-manusia unggul yang tumbuh dalam sistem yang baik, berkembang dalam ekosistem yang sehat, dan terus memberikan kontribusi bagi bangsanya sepanjang perjalanan hidup.
Negara tidak cukup hanya melahirkan juara. Negara perlu memastikan manusia di balik juara itu memiliki masa depan.
Sebab olahraga yang besar bukan hanya olahraga yang mampu melahirkan medali, tetapi olahraga yang mampu menjaga martabat manusia yang mempersembahkan medali itu.
Kecil Terbina. Muda Berkarya. Tua Sejahtera.
Dari sanalah olahraga tidak sekadar melahirkan juara. Dari sanalah bangsa membangun manusia.














