Jakarta (24/06) – Kepulangan jamaah haji ke Tanah Air tidak seharusnya menjadi akhir dari rangkaian ibadah, tetapi menjadi awal pengabdian untuk membawa perubahan positif bagi masyarakat. Nilai-nilai yang diperoleh selama menjalankan ibadah haji diharapkan mampu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui keteladanan, kepedulian sosial, dan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, mengatakan bahwa sepanjang sejarah Indonesia, para tokoh yang pulang dari Tanah Suci kerap membawa semangat pembaruan. Menurutnya, ibadah haji pada masa perjuangan telah melahirkan banyak pemimpin yang berperan dalam mencerdaskan bangsa, membangun persatuan, hingga menggerakkan perjuangan melawan kolonialisme.
“Spirit itulah yang perlu dihidupkan kembali pada masa kini. Haji mabrur harus melahirkan pribadi yang lebih bertakwa sekaligus lebih bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Dody, Selasa (23/6).
Ia menjelaskan, kemabruran haji tidak hanya tercermin dari meningkatnya kualitas ibadah pribadi, tetapi juga dari kesediaan menjadi agen perubahan di lingkungan sekitar. Semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi sesama.
Menurut Dody, jamaah haji yang mabrur semestinya menjadi teladan dalam membangun akhlak, mempererat persaudaraan, serta aktif mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dengan demikian, nilai-nilai spiritual yang diperoleh selama berhaji dapat memberi dampak luas bagi kehidupan bermasyarakat.
DPP LDII memandang, kontribusi para haji dalam pembangunan bangsa dapat diwujudkan melalui tiga peran utama. Pertama, menjadi penggerak moral yang menebarkan kejujuran, integritas, dan etika dalam kehidupan bermasyarakat. Kedua, menjadi perekat persatuan dengan menghadirkan kesejukan, memperkuat toleransi, serta meredam polarisasi. Ketiga, berperan dalam pemberdayaan ekonomi umat melalui penguatan zakat, infak, sedekah, dan berbagai kegiatan sosial yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dody meyakini, apabila setiap tahun ratusan ribu jamaah haji Indonesia kembali dengan komitmen untuk terus berbuat baik dan mengabdi kepada masyarakat, maka akan terbentuk modal sosial yang besar dalam mewujudkan Indonesia yang religius, maju, dan berkeadilan.
Pandangan tersebut sejalan dengan yang disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Aini sekaligus anggota Majelis Pakar DPP LDII, KH Aceng Karimullah. Ia menjelaskan bahwa pada awal abad ke-20, ibadah haji menjadi ruang pertemuan umat Islam dari berbagai negara untuk bertukar gagasan dan memperkuat semangat perjuangan.
“Ibadah haji pada masa itu menjadi ajang bertemunya para tokoh dengan visi yang sama, termasuk mereka yang memiliki perhatian terhadap perjuangan umat dan kemerdekaan bangsa,” ujarnya.
KH Aceng menambahkan, pemerintah kolonial Belanda bahkan memberikan perhatian khusus kepada para jamaah yang pulang dari Tanah Suci karena khawatir munculnya semangat perlawanan. Sementara bagi jamaah yang fokus beribadah, kepulangan dari haji semakin memperkuat kesungguhan mereka dalam menjalankan ajaran agama.
Ia juga mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa balasan bagi haji mabrur adalah surga. Ketika para sahabat bertanya tentang ciri haji mabrur, Rasulullah menjelaskan bahwa di antaranya ditandai dengan tutur kata yang santun dan gemar memberi makan kepada sesama.
“Pesan tersebut menunjukkan bahwa haji mabrur melahirkan pribadi yang memiliki solidaritas sosial tinggi, lebih peduli, lebih empati, dan membawa manfaat bagi lingkungannya,” jelas KH Aceng.
Menurutnya, para ulama tafsir juga menjelaskan bahwa haji mabrur tercermin pada sikap yang semakin berhati-hati terhadap perkara haram maupun syubhat, lebih sederhana dalam urusan dunia, serta semakin bersemangat dalam mengejar kehidupan akhirat.
KH Aceng menegaskan, sejatinya seluruh rukun Islam memiliki dampak transformasi bagi kehidupan. Salat membentuk akhlak, puasa melatih kesabaran dan pengendalian diri, sedangkan haji menyempurnakan kepedulian sosial serta memperkuat komitmen untuk menjadi pribadi yang membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa.














